Stok Pangan Jabar Melimpah Pascaiduladha, Harga Cabai dan Bawang Merah Masih Membara

- Ketersediaan pangan di Jawa Barat pasca-Iduladha 2026 berada dalam kondisi aman. Surplus produksi tercatat pada hampir seluruh komoditas strategis.

Stok Pangan Jabar Melimpah Pascaiduladha, Harga Cabai dan Bawang Merah Masih Membara
- Ketersediaan pangan di Jawa Barat pasca-Iduladha 2026 berada dalam kondisi aman. Surplus produksi tercatat pada hampir seluruh komoditas strategis.

INILAHKORAN.ID - Ketersediaan pangan di Jawa Barat pasca-Iduladha 2026 berada dalam kondisi aman. Surplus produksi tercatat pada hampir seluruh komoditas strategis, mulai dari beras hingga daging ayam. Namun, melimpahnya pasokan belum sepenuhnya mampu meredam harga sejumlah kebutuhan pokok yang masih bertengger di atas harga acuan pemerintah.

Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat menunjukkan cabai rawit merah, bawang merah, daging sapi, kedelai impor, dan gula pasir curah masih menjadi komoditas yang mengalami tekanan harga di pasaran.

Kepala Disperindag Jawa Barat, Nining Yuliastiani menegaskan, kondisi stok pangan daerah masih sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Secara umum dapat disampaikan bahwa ketersediaan atau stok bahan pangan dalam kondisi aman dan dinamika harga masih pada rentang terkendali," ujar Nining, Kamis (4/6/2026).

Berdasarkan neraca pangan hingga April 2026, seluruh komoditas strategis masih mencatatkan surplus. Beras menjadi penyumbang terbesar dengan kelebihan pasokan mencapai 1,4 juta ton.

Selain itu, surplus juga terjadi pada daging ayam ras sebanyak 286 ribu ton, telur ayam ras 177 ribu ton, minyak goreng 86 ribu ton, serta daging sapi dan kerbau sekitar 85 ribu ton.

Kondisi tersebut menunjukkan ketahanan pangan Jawa Barat masih berada pada level yang kuat. Namun, di sisi lain, faktor cuaca, distribusi, hingga ketergantungan impor masih menjadi tantangan yang memengaruhi harga di tingkat konsumen.

Dari hasil pemantauan harga per 3 Juni 2026, cabai rawit merah menjadi komoditas dengan kenaikan paling signifikan. Harga rata-rata komoditas tersebut mencapai Rp74.126 per kilogram atau melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar 30,05 persen.

bawang merah juga masih berada pada level tinggi dengan harga Rp48.761 per kilogram, atau 17,5 persen di atas HAP. Sementara kedelai impor tercatat Rp13.792 per kilogram atau lebih tinggi 14,93 persen dibandingkan harga acuan.

Untuk komoditas lainnya, harga daging sapi berada di angka Rp145.741 per kilogram atau 4,1 persen di atas HAP. Adapun gula pasir curah dijual Rp18.016 per kilogram atau 2,95 persen lebih mahal dari harga acuan pemerintah.

Nining menjelaskan lonjakan harga pada komoditas hortikultura terutama dipicu faktor produksi di lapangan yang belum sepenuhnya stabil.

"Untuk kelompok komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah, kenaikan harga dipengaruhi cuaca ekstrem dan adanya serangan hama atau penyakit yang berdampak pada produktivitas panen serta perbedaan waktu panen," katanya.

Sementara untuk komoditas yang masih mengandalkan pasokan luar negeri, fluktuasi nilai tukar dan harga global menjadi faktor utama pembentuk harga.

"Komoditas yang sebagian besar masih impor seperti daging sapi, kedelai, dan gula, kenaikan harga dipengaruhi nilai tukar, kenaikan harga sapi hidup maupun karkas, serta faktor distribusi," paparnya.

Meski demikian, Disperindag Jabar mencatat sinyal positif mulai terlihat pada komoditas cabai setelah berakhirnya momentum Iduladha. Harga beberapa jenis cabai mulai bergerak turun dibandingkan periode akhir Mei lalu.

"Harga cabai sudah mengalami kecenderungan menurun dibanding iduladha," katanya.

Harga cabai merah besar kini berada di level Rp69.764 per kilogram, turun dari Rp80.233 per kilogram pada akhir Mei. Sementara cabai merah keriting turun menjadi Rp53.543 per kilogram dari sebelumnya Rp62.894 per kilogram.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus memperkuat langkah pengendalian harga melalui pemantauan pasar secara berkala. Intervensi seperti operasi pasar dan pasar murah akan dilakukan ketika ditemukan lonjakan harga yang signifikan di wilayah tertentu.

Menurut Nining, tingginya harga di suatu daerah tidak selalu berkaitan dengan kondisi produksi setempat. Karena itu, distribusi antardaerah menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga.

"Daerah yang mengalami kenaikan harga tinggi belum tentu daerah penghasil komoditas. Karena itu pemerataan distribusi perlu terus didorong melalui kerja sama antardaerah dan sistem pemantauan dini agar langkah pengendalian bisa dilakukan lebih cepat," ucapnya.

Dengan stok yang masih surplus dan tren harga cabai yang mulai melandai, Pemprov Jawa Barat optimistis stabilitas pangan tetap terjaga. Masyarakat pun diminta tidak khawatir terhadap ketersediaan kebutuhan pokok dalam waktu dekat.***


Editor : JakaPermana