Tak Banyak yang Tahu, Inovasi Kilang Balongan Bisa Hemat Rp45 Miliar per Tahun

Kilang Balongan memanfaatkan kembali hidrogen dari sistem flare untuk menghemat gas alam 2,8 MMSCFD dan biaya operasional sekitar Rp45 miliar per tahun.

Tak Banyak yang Tahu, Inovasi Kilang Balongan Bisa Hemat Rp45 Miliar per Tahun

INILAHKORAN.ID– PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Balongan menghadirkan inovasi efisiensi energi dengan memanfaatkan kembali hidrogen yang sebelumnya dialirkan ke sistem flare atau gas suar bakar.

Inovasi tersebut mampu menekan konsumsi gas alam sekitar 2,8 juta kaki kubik standar per hari atau million standard cubic feet per day (MMSCFD). Dari efisiensi itu, perusahaan memperkirakan penghematan biaya mencapai sekitar Rp45 miliar per tahun.

Upaya ini berangkat dari evaluasi terhadap aliran gas di fasilitas pengolahan minyak yang masih memiliki potensi pemanfaatan kembali. Hidrogen yang sebelumnya dibakar melalui sistem flare dialihkan untuk mendukung kebutuhan bahan bakar operasional kilang.

Section Head Energy Conversion and Loss Control PT Pertamina Patra Niaga RU Balongan, Indra Cahyadi Kurniawan, menjelaskan bahwa sistem flare pada dasarnya merupakan fasilitas keselamatan penting dalam operasional kilang.

Namun, dalam kondisi tertentu, gas yang masuk ke sistem tersebut masih memiliki potensi energi yang dapat dimanfaatkan apabila memenuhi persyaratan teknis dan keselamatan.

“Flare ini fungsinya membakar gas-gas yang tidak bisa terpakai dan juga untuk keselamatan,” kata Indra saat ditemui ANTARA, akhir Agustus.

Hidrogen dari Flare Dioptimalkan untuk Bahan Bakar

Salah satu peluang efisiensi ditemukan pada Naphta Processing Unit (NPU), yakni unit pengolahan nafta yang menghasilkan komponen untuk kebutuhan bahan bakar.

Dalam prosesnya, unit tersebut menghasilkan hidrogen yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan operasional. Sebagian aliran hidrogen sebelumnya diarahkan menuju flare, meskipun masih berpotensi digunakan kembali.

“Daripada terbuang, kami berpikir apakah hidrogen ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar,” kata Indra.

Tim kemudian mengevaluasi fasilitas yang tersedia dan menemukan jalur perpipaan yang sebelumnya digunakan saat proses start-up, tetapi tidak dimanfaatkan secara rutin ketika unit beroperasi normal.

Para engineer melakukan kajian terhadap karakteristik gas, kesesuaian sistem pembakaran, kondisi peralatan, hingga potensi dampaknya terhadap kestabilan operasi.

Pengujian dilakukan secara bertahap dengan menaikkan komposisi hidrogen sambil memantau kondisi operasional. Porsi hidrogen yang sebelumnya sekitar 30 persen ditingkatkan hingga mendekati 50 persen, dengan tetap memperhatikan batas pengoperasian yang aman.

“Setelah stabil, hidrogen yang sebelumnya masuk flare bisa kita manfaatkan untuk fuel gas. Konsumsi gas alam ikut berkurang,” ujar Indra.

Kajian tersebut dimulai pada akhir 2024 dan pemanfaatannya mulai diterapkan pada Januari 2025 setelah melalui evaluasi teknis.

penghematan gas alam Capai 2,8 MMSCFD

Evaluasi penerapan inovasi tersebut menunjukkan penghematan konsumsi gas alam sekitar 2,8 MMSCFD. Nilai efisiensi itu diperkirakan menghasilkan penghematan biaya sekitar Rp45 miliar setiap tahun.

Selain manfaat ekonomi, perusahaan juga melaporkan penurunan emisi yang dikaitkan dengan program tersebut. Dalam data yang disampaikan, angka penurunan emisi tercatat sekitar 8.239 ton, dengan angka lain sebesar 29.754 ton CO2 ekuivalen.

Angka emisi tersebut perlu dibaca sesuai periode pelaporan dan satuan pengukuran yang digunakan agar tidak menimbulkan perbedaan interpretasi.

Kilang Balongan sendiri memiliki tiga sistem flare, yaitu pada NPU, Propylene Olefin Complex (POC), dan fasilitas flare existing yang melayani sejumlah unit pengolahan.

Optimalisasi pemanfaatan hidrogen yang dipaparkan Indra berfokus pada flare NPU. Secara historis, aliran gas pada fasilitas tersebut relatif besar dan berlangsung kontinu dibandingkan sejumlah fasilitas lainnya.

Meski demikian, pengurangan gas yang masuk ke flare tidak dapat dilakukan sembarangan. Sistem tersebut tetap harus tersedia untuk mengantisipasi gangguan proses, termasuk peningkatan tekanan yang membutuhkan pelepasan gas secara terkendali.

Karena itu, setiap perubahan pengoperasian harus mempertimbangkan aspek keselamatan, keandalan peralatan, dan ketentuan lingkungan.

Kilang Balongan Jaga Efisiensi dan Keselamatan Operasi

Indra menjelaskan, pemantauan sistem flare dilakukan melalui koordinasi lintas fungsi. Operator mengawasi kondisi proses harian dari ruang kendali, sedangkan pemantauan kualitas lingkungan dikoordinasikan oleh bagian Health, Safety, Security, and Environment (HSSE).

Menurutnya, konfigurasi setiap kilang berbeda sehingga peluang efisiensi energi juga tidak selalu sama. Karakteristik bahan baku, susunan unit pengolahan, serta kebutuhan operasional menjadi faktor yang menentukan penerapan inovasi.

Selain digunakan sebagai bahan bakar, tim Kilang Balongan juga mengkaji peluang pemanfaatan hidrogen untuk kebutuhan Hydrogen Treating Unit (HTU).

Unit tersebut memanfaatkan hidrogen dalam proses pemurnian produk, termasuk membantu mengurangi kandungan sulfur pada bahan bakar tertentu. Namun, pemanfaatan lebih lanjut tetap bergantung pada kesesuaian karakteristik gas dan persyaratan teknis proses.

Dukung Upaya Pengurangan Emisi

Optimalisasi pemanfaatan hidrogen juga menjadi bagian dari upaya efisiensi energi dan pengurangan emisi di lingkungan operasional kilang.

Indra menyebut langkah tersebut sejalan dengan kontribusi perusahaan terhadap target Net Zero Emission 2060. Target tersebut mengacu pada upaya mencapai keseimbangan emisi bersih melalui pengurangan emisi dan penyerapan karbon.

Menurutnya, peluang efisiensi dapat dimulai dari proses yang telah berjalan, termasuk mengidentifikasi energi yang sebelumnya terbuang dan mengkaji kemungkinan pemanfaatannya kembali.

“Kami melihat peluang dari proses yang sudah berjalan, lalu mengkaji bagaimana energi yang sebelumnya terbuang bisa dimanfaatkan kembali tanpa mengganggu keselamatan dan operasi kilang,” tuturnya.

Ke depan, upaya pengurangan kehilangan energi perlu terus disertai evaluasi teknis, pertimbangan investasi, serta pengendalian risiko agar efisiensi operasional dapat berjalan beriringan dengan keselamatan dan perlindungan lingkungan.***


Editor : JakaPermana