Tak Hanya di Cipongkor, Korban Keracunan Massal MBG Meluas ke Cihampelas 

Tak hanya SMK Karya Perjuangan Ciparay, kasus keracunan massal juga dialami ratusan siswa di berbagai jenjang mulai SD, SMP, MI, Mts, MA hingga SMK di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Tak Hanya di Cipongkor, Korban Keracunan Massal MBG Meluas ke Cihampelas 
Di Desa Neglasari, Kecamatan Cipongkor, tepatnya di MTS dan MA Syarif Hidayatullah ratusan siswa dan siswi ini terpaksa dilarikan ke Puskesmas Cipongkor. Kondisi serupa terjadi di SMKN 1 Cihampelas. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Tak hanya SMK Karya Perjuangan Ciparay, kasus keracunan massal juga dialami ratusan siswa di berbagai jenjang mulai SD, SMP, MI, Mts, MA hingga SMK di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Berdasarkan data yang dihimpun, sejauh ini sekolah yang dilaporkan siswanya menjadi korban keracunan massal antara lain MTs dan MA Syarif Hidayatullah, Neglasari Cipongkor, serta SMK Negeri 1 Cihampelas.

Di Desa Neglasari, Kecamatan Cipongkor, tepatnya di MTS dan MA Syarif Hidayatullah ratusan siswa dan siswi ini terpaksa dilarikan ke Puskesmas Cipongkor. Kondisi serupa terjadi di SMKN 1 Cihampelas.

"Hasil monitoring lumayan lebih  banyak dari kemarin, tapi saya sudah komunikasi dengan Dirut RSUD Cililin untuk menyiapkan berbagai alat. Tapi mudah-mudahan ini bisa difasilitasi oleh RSUD Cililin," kata Plt Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) KBB Dadang A Sapardan, Rabu 24 September 2025.

Dadang mengungkapkan, usai menyantap hidangan MBG, para siswa mengeluhkan berbagai gejala seperti pusing dan mual. Bahkan, ada yang mengalami kejang-kejang di RSUD Cililin, sehingga harus dipegangi banyak orang.

"Informasi dari Camat Cipongkor yang stand by ada penambahan dan akhirnya datang lagi," ungkapnya.

Dadang menyebut, keracunan yang dialami ratusan siswa tersebut bersumber dari satu SPPG, namun bukan SPPG sebelumnya lantaran sudah ditutup sementara Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail.

"Kesepakatan kemarin dapur di Desa Sirnagalih sudah ditutup dan ternyata ini dapur SPPG yang berbeda dengan lokus dan sekolah yang berbeda," sebutnya.

Dadang mengaku belum mengetahui jumlah pasti korban keracunan massal MBG hari ini. Namun, berdasarkan hasil pengecekan sejumlah Kepala SD dan SMP di Cipongkor ada potensi korban keracunan MBG dengan jumlah besar, yakni SMPN 2 Cipongkor.

Kendati demikian, lantaran menu MBG itu belum sempat dikonsumsi para siswa, sehingga peristiwa keracunan serupa tidak terjadi.

"Itu potensi besarnya bisa mencapai 200 sampai 300 siswa. Tapi Alhamdulillah SMPN 2 Cipongkor tidak sempat memakan," ujarnya.

"Kalau yang ini sudah dimakan, ada MI, SD, Mts dan MA, serta SMK. Informasi ada empat SD, SMA, SMK, Mts, datanya belum akurat," sebutnya.

Meski kebijakan KLB sudah ditetapkan, namub respons cepat dengan melapor ke Bupati dan Wakil Bupati, serta Sekda KBB telah dilakukan.

"Pimpinan menginstruksikan saya untuk langsung datang ke lokasi melihat kondisi sambil bagaimana menyikapi fenomena ini. Jadi keracunan massal hari ini terjadi menimpa siswa SD, MI, SMP, Mts, MA dan SMK. Kalau Paud tidak ada," tandasnya.

Salah seorang siswi kelas 8 Mts Syarif Hidayatullah, Jihan mengaku mendapatkan menu MBG sekitar pukul 10.00 WIB.

"Jam 10 tadi dapetnya, ada ayam geprek, sambal ijo, tahu, sayur dan nasi. Enggak ada bau dan enak waktu dimakan. Tapi gak lama banyak temen-temen yang mual dan pusing," kata Jihan.


Editor : Doni Ramdhani