INILAHKORAN, Cimahi - Masih terbersit di ingatan Sesepuh Kampung Adat Cireundeu, Abah Widi tentang tragedi longsor sampah di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 silam.
Akibat tragedi tersebut, sebanyak 157 nyawa terenggut, bahkan menghapus 2 desa dari peta.
"Saya tidak ingin bencana longsor sampah tahun 2005 terulang kembali. Oleh karenanya, dirinya mengajak masyarakat dan semua pemangku jabatan harus sama-sama menjaga dan melestarikan alam," katanya, Senin 28 Maret 2022.
Salah satunya, jelas dia, dengan mempertahankan kelestarian alam dan lingkungan wilayahnya.
"Bisa dengan menanam pohon, namun bukan hanya sekadar menanam saja melainkan harus dijaga bersama-sama," jelasnya.
"Saya tidak mengatakan semuanya masih terjaga, tapi 90 persen masih lestari. Mudah-mudahan bukan hanya penanaman, intinya perawatannya. Harus dijaga bersama biar ada manfaat untuk masyarakat dan alam," bebernya.
Ia mengaku, mempersilahkan warga yang membutuhkan pohon untuk ditebang, hanya saja dengan catatan harus ada pohon penggantinya yang ditanam.
"Hal itulah yang ditanamkan di Kampung Adat Cireundeu," ucapnya.
Sebab, menurutnya, urusan adat di wilayahnya ada yang dinamakan makhluk cicing seperti pepohonan. Kemudian makhluk polang anting seperti satwa hingga makhluk eling yakni manusia.
"Jadi kalau ada orang bawa senapan angin ke sini, abah suruh pulang lagi. Jangan ganggu hewan yang ada di Cireundeu karena itu keindahan alam. Mudah-mudahan kita sadar jangan sampai sembarangan merusak alam, merusak tanaman," imbuhnya.*** (agus satia negara).