Tangis Tetangga Iringi Kepergian Pian, Balita yang Selalu Hadirkan Keceriaan di Gang Gagak

Suasana duka menyelimuti warga Gang Gagak 4 A, RT 4 RW 15, Cipadung, Panyileukan, Kota Bandung. Balita bernama Raditya Allibyan Fauzan (4), yang akrab disapa Pian, kini tak lagi terlihat bermain dan menyapa para tetangga seperti biasanya.

Tangis Tetangga Iringi Kepergian Pian, Balita yang Selalu Hadirkan Keceriaan di Gang Gagak

INILAHKORAN. ID – Suasana duka menyelimuti warga Gang Gagak 4 A, RT 4 RW 15, Cipadung, Panyileukan, Kota Bandung. Balita bernama raditya Allibyan Fauzan (4), yang akrab disapa pian, kini tak lagi terlihat bermain dan menyapa para tetangga seperti biasanya. 

pian meninggal dunia setelah mengalami kekerasan, diduga dilakukan ibu tirinya, Sari Mulyani (26).

Baru tiga bulan tinggal di rumah kontrakan kecil berukuran sekitar 2x5 meter itu, pian dikenal sebagai anak yang ceria dan kerap meminta jajanan pada warga sekitar. Kehadirannya selalu memberi warna di gang sempit tersebut.

“Dia suka minta susu atau jajan. Kemarin tetangganya sampai nangis dengar kabar pian. Soalnya dia suka datang kalau mau makan,” kata seorang tetangga, Kusumawardhani (60), Rabu (26/11/2025).

Meski sering terlihat tersenyum, warga mengaku pian kerap menunjukkan gestur seperti menahan sesuatu. Beberapa di antara mereka sempat melihat luka-luka di tubuhnya.

“Saya suka curiga dia seperti bingung atau tertekan. Kalau ditanya itu kenapa lukanya? Dia jawab nggak apa-apa,” ujarnya.

Kusuma masih mengingat jelas pertemuan terakhir dengan pian pada Jumat pagi (21/11). pian terlihat mandi sementara ibu tirinya memasak untuk makan bersama para tetangga. Hanya beberapa jam setelahnya, pian dibawa ke rumah sakit dalam kondisi pingsan. Informasi yang ia dengar saat itu, pian disebut terjatuh di kamar mandi.

Namun takdir berkata lain. Pada Sabtu dini hari sekitar pukul 04.00 WIB, pian meninggal dunia saat dirawat di RSUD Kota Bandung, Ujungberung. Warga pun terkejut sekaligus kehilangan.

“Di sini kami anggap pian seperti anak sendiri. Masih kaget, kok nasibnya seperti itu,” tutur Kusuma.


Editor : Ahmad Sayuti