Teater Gandrung Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bogor Kritik Pemerintah Atas Rusaknya Lingkungan Hidup 

Teater Gandrung Universitas Muhammadiyah Bogor menggelar pementasan tunggal 2025 dengan adaptasi naskah Tibuat karya Teater Gandrung dan Naskah Belentung karya Ocky Sandi Lemon di Gedung Dakwah Muhammadiyah Leuwiliang membuat penonton terpukau karena aksi teatrikal dan kata-kata satirnya yang mengkritik pemerintah.

Teater Gandrung Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bogor Kritik Pemerintah Atas Rusaknya Lingkungan Hidup 
Ketua Umum Teater Gandrung Universitas Muhammadiyah Bogor Dzhuliannarta mengatakan, pementasan naskah Tibuat dan Belentung menceritakan tentang sebuah tragedi yang sangat kelam yang  bermula dari angin masih berhembus di sebuah desa tapi tak lagi membawa harum padi yang menguning, tetapi yang tersisa hanyalah debu dari tanah yang digali dibelah lalu di aspal. (istimewa)

INILAHKORAN, Bogor - Teater Gandrung Universitas Muhammadiyah Bogor menggelar pementasan tunggal 2025 dengan adaptasi naskah Tibuat karya Teater Gandrung dan Naskah Belentung karya Ocky Sandi Lemon di Gedung Dakwah Muhammadiyah Leuwiliang membuat penonton terpukau karena aksi teatrikal dan kata-kata satirnya yang mengkritik pemerintah.

Ketua Umum Teater Gandrung Universitas Muhammadiyah Bogor Dzhuliannarta mengatakan, pementasan naskah Tibuat dan Belentung menceritakan tentang sebuah tragedi yang sangat kelam yang  bermula dari angin masih berhembus di sebuah desa tapi tak lagi membawa harum padi yang menguning, tetapi yang tersisa hanyalah debu dari tanah yang digali dibelah lalu di aspal. 

Di tempat yang dulunya sawah membentang sejauh mata memandang kini berdiri bangunan menjulang dingin dan asing. Para petani dengan hati yang retak bukan karena hujan dan waktu tapi karena tidak ada tempat untuk berharap. 

"Katak-katak masih bersuara bukan untuk memanggil hujan, mereka seperti menyanyi dalam tangis meratapi tempat tinggal yang telah ditimbun. Alam kehilangan irama, kehilangan nadanya," tutur Dzhuliannarta kepada wartawan, Senin 11 Agustus 2025.

Dzhuliannarta melanjutkan, anak-anak yang berlari tanpa alas kaki menyusuri pematang kini sibuk dengan layar-layar kecil ditangan mereka, dimana tidak ada yang salah tidak ada yang benar, maka tentukanlah. 

"Mereka, anak-anak itu kini tak mengenal lumpur, mereka tak tahu cara melempar batu ke sungai. Tak ada yang bisa melawan waktu apalagi melawan takdir maka tentukanlah," lanjutnya.

Dan ditengah semuanya hanya satu yang tersisa ratapan sunyi dari tanah yang kehilangan pemilik sejatinya. Mengambil esensi dari Belentung (Katak) gerak tubuh.

"Ini bukan cerita belaka, ini bukan cerita rekayasa melainkan peristiwa yang terjadi di depan mata kini, esok, dan nanti. Kenapa saya menggabungkan dua naskah menjadi satu pementasan, karena dari kedua naskah itu memiliki makna yang hampir sama yang dimana niat kita mementaskan naskah itu untuk menyampaikan pesan kepada para penonton bahwa sekarang negara kita sedang tidak baik baik saja atau lebih jelasnya mengajak penonton untuk sadar bahwa negara kita sedang tidak baik mangkanya didalam pementasan itu banyak dialog dialog yang satir untuk mengkritik pemerintah," tukasnya. 


Editor : Doni Ramdhani