Teras Cihampelas Bandung: Ikon Kota atau Kenangan Semata?

Teras Cihampelas, ikon skywalk Bandung, kini menghadapi dilema: direnovasi atau dibongkar. Simak sejarah, kondisi terkini, dan rencana revitalisasi ruang publik yang pernah menjadi wajah baru kota ini.

Teras Cihampelas Bandung: Ikon Kota atau Kenangan Semata?
Teras Cihampelas, salah satu ikon Kota Bandung kini berada di persimpangan, antara direnovasi atau dibongkar. (Foto: Dok InilahKoran)

INILAHKORAN.ID - Ada sebuah ruang di Bandung yang pernah digadang-gadang menjadi wajah baru kota. Bukan jalan raya biasa tapi boulevard yang melayang di atas arteri Cihampelas, memberi ruang bagi pejalan kaki, pedagang, dan cerita warga. 

Ya, Teras Cihampelas namanya. Proyek besar peninggalan era pemerintahan sebelumnya, kini berdiri di persimpangan pilihan: direnovasi, dibongkar, atau diselamatkan sebagai bagian dari identitas kota.

Bangunan berkonsep skywalk sepanjang ratusan meter itu lahir dari gagasan kreatif Ridwan Kamil saat menjabat Wali Kota Bandung pada awal 2014. 

Ide ini ditaburkan untuk menata kawasan Cihampelas, pusat denim dan belanja lokal, menjadi ruang publik ramah bagi manusia, sekaligus solusi atas pedagang kaki lima yang memenuhi trotoar. 

Proyek tahap pertama menelan anggaran sekitar Rp 48 miliar, membentang sepanjang ratusan meter, lebar 9 meter, ketinggian 4,6 meter dari jalan. 

Saat diresmikan pada 2017, antusiasme publik cukup besar: pedagang tertata rapi, pengunjung berjalan santai, bahkan Presiden Jokowi memuji penataan kios dan tata letak yang rapi.

Dari Ramai ke Sepi

Namun waktu berjalan, realitas mulai menua. Aktivitas di atas teras yang dulu ramai kini semakin lesu. Kios-kios banyak tutup, dan beberapa pedagang kembali ke trotoar. 

Revitalisasi sempat digagas pada 2023, tetapi dinamika ruang itu terus berubah. Teras tampak sepi di siang hari dan gelap di malam hari, meninggalkan kesan ruang yang kehilangan nadinya.

Kini, Teras Cihampelas menghadapi dilema kota. Wali Kota Muhammad Farhan menjelaskan, hasil uji teknis segmen 2 menunjukkan ketidaklengkapan dokumen, seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF). 

“Kalau hasil loading test resmi menunjukkan kurang dari 100 persen, saya punya alasan untuk membongkar,” katanya. Meski begitu, keputusan final belum jatuh; kajian teknis lebih lanjut masih menentukan bagian mana yang layak dipertahankan.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, skywalk justru menyumbat ruang kota yang seharusnya hidup dengan aktivitas jalan biasa. “Kawasan Cihampelas akan tetap hidup jika skywalk dibongkar,” ujarnya

Fenomena Sosial

Fenomena sosial menambah kerumitan. Baru-baru ini viral video pasangan muda-mudi berbuat tak senonoh di area skywalk, memicu sorotan publik. 

Kepala Satpol PP Kota Bandung, Bambang Sukardi, menegaskan akan meningkatkan inspeksi mendadak karena beberapa titik tidak bisa dijaga permanen. Kasus serupa sebelumnya juga pernah terjadi, menambah kekhawatiran soal keamanan dan fungsi ruang publik.

Teras Cihampelas bukan sekadar bangunan, melainkan simbol identitas Bandung yang penuh cerita. Namun, pertanyaan tetap menggantung: apakah ikon kota ini akan dipertahankan sebagai ruang publik yang hidup, ataukah hanya akan tinggal kenangan di antara sejarah kota?


Editor : inilahkoran