Terjadi Pungli di Kawasan Wisata, Wabup Garut Malu Menghadap Mertuanya Dedi Mulyadi

Wabup Garut, Putri Karlina, mengaku malu menghadap Dedi Mulyadi yang jadi mertuanya karena belum bisa mewujudkan visi misi Gubernur Jawa Barat.

Terjadi Pungli di Kawasan Wisata, Wabup Garut Malu Menghadap Mertuanya Dedi Mulyadi
Wakil Bupati (Wabup) Garut, Putri Karlina.

INILAHKORAN, Bandung - Wakil Bupati (Wabup) Garut, Putri Karlina, yang juga menantu Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkap bahwa dirinya sulit untuk memberantas pungutan liar (pungli) di kawasan wisata.

Dalam video terbaru yang diunggah Putri ke akun TikTok-nya, Wabup Garut itu menjelaskan alasan mengapa dirinya sangat sulit mengatasi pungli di kawasan wisata.

Dia menjelaskan bahwa dirinya bukan pemilik kebijakan utama di kawasan wisata seperti Pantai Sayang Heulang dna Pantai Snatolo yang baru-baru ini terjadi pungli.

Dirinya juga khawatir akan menjadi gerakan yang offside dan menimbulkan keritik jika dirinya bertindak terlalu tegas di lapangan.

"Pertama saya bukan pemilik kebijakan utama, yang kedua saya khawatir akan menjadi gerakan yang offside yang justru akan menimbulkan keritik selanjutnya.

Maka dari itu, Putri mengaku merasa malu terhadap mertuanya yang juga Gubernur Jawa Barat, karena belum bisa mewujurkan visi misi sang mertua.

"Saya juga ngga enak yah, mertua sendiri itu (Dedi Mulyadi), belum bisa mewujudkan saya juga malu," akunya.

Meski demikian Putri menjelaskan bahwa dirinya sangat setuju dan mendukung kebijakan Gubernur untuk mewujudkan wisata Jawa Barat yang hebat.

"Saya sejujurnya sebagai wakil bupati sangat sangat setuju dan sangat mendukung dengan visi pak Gubernur untuk mewujudkan wisata Jawa Barat yang hebat," jelasnya.

Sebelumnya Dedi Mulyadi sentil pemerintah Kabupaten Gabut dan jajarannya terkait masalah pungli yang dikeluhkan wisatawan di Pantai Santolo dan Pantai Sayang Heulang.

Dedi Mulyadi menyinggung jangan sampai harus Gubernur lagi yang turun tangan untuk memberekan masalah pungli di kawasan wisata Garut tersebut.***


Editor : Irma Nurfajri