Terminal Cicaheum Ditutup, 99 Persen Bus Kini Beroperasi di Leuwipanjang

Perubahan besar terjadi dalam sistem transportasi antar kota di Kota Bandung setelah Terminal Cicaheum resmi ditutup pada 26 Juni lalu.

Terminal Cicaheum Ditutup, 99 Persen Bus Kini Beroperasi di Leuwipanjang
Terminal Leuwipanjang semakin ramai, setelah 20 PO bus resmi beroperasi usai penutupan Terminal Cicaheum./INILAHKORAN-Yogo Triastopo

INILAHKORAN.ID - Perubahan besar terjadi dalam sistem transportasi antar kota di Kota Bandung setelah Terminal Cicaheum resmi ditutup pada 26 Juni lalu. Sekitar 99 persen armada bus, kini telah berpindah dan terpusat di Terminal Leuwipanjang.

Kepala Terminal Leuwipanjang, Asep Hidayat menyebut, proses perpindahan berlangsung hampir menyeluruh sesuai arahan pemerintah daerah. Meski demikian, masih ada beberapa operator yang belum sepenuhnya bergabung.

“Dengan Kepala Dinas beserta di media sosial, di Instagram bahwa tanggal 26 Juni itu akan ditutup total. Memang ada pengaruh, di sini sudah mulai 99 persen dari armada yang di Cicaheum itu beralih ke Leuwipanjang,” kata Asep Hidayat, Rabu (1/7/2026).

Dia menjelaskan, dari total perusahaan otobus (PO) yang sebelumnya beroperasi di Terminal Cicaheum. Sekitar 20 PO telah resmi masuk ke Leuwipanjang. Namun, masih ada beberapa operator yang dalam tahap transisi.

“Sudah masuk 20 PO. Yang lain sudah masuk, cuma City Trans yang belum. Informasinya dia masuk tanggal 2 Juli,” ucapnya.

Meski terjadi peningkatan jumlah armada, aktivitas di Terminal Leuwipanjang tetap terkendali. Pihak terminal menerapkan sistem pengaturan jadwal ketat, atau headway menghindari penumpukan kendaraan.

Menurut Asep, setiap bus hanya diperbolehkan masuk terminal sesuai jadwal keberangkatan yang telah ditentukan. Bus yang belum memasuki waktu operasional, diarahkan tetap berada di pool masing-masing.

“Kami atur headwaynya. Jadi setiap bus yang dari arah Cicaheum yang belum waktunya masuk ke Terminal Leuwipanjang, kami larang. Tapi kalau sudah jadwalnya, kami persilakan masuk karena mengingat lahan terminal terbatas,” ujar dia.

Menurutnya, pengaturan tersebut dilakukan menjaga kelancaran arus kendaraan di dalam terminal. Jika semua bus masuk tanpa jadwal, potensi penumpukan dan kemacetan di area terminal akan meningkat.

Selain pengaturan jadwal, pihak terminal juga memperketat pengawasan terhadap kelayakan kendaraan melalui ramp check. Pemeriksaan, mencakup aspek administrasi maupun teknis kendaraan. Bus yang tidak memenuhi persyaratan akan langsung ditolak, dan diminta kembali ke garasi atau pool masing-masing.

“Kalau tidak layak administrasi maupun teknis, kami larang. Suruh balik lagi ke garasi,” tegas Asep.***

Pihaknya menegaskan, proses tersebut penting mengingat sebagian besar rute yang dilayani merupakan perjalanan jarak jauh. Oleh karena itu, kelayakan kendaraan menjadi prioritas utama.

Dari sisi operasional, perpindahan terminal juga berdampak pada peningkatan jumlah armada yang beroperasi setiap hari. Sebelum relokasi, jumlah bus harian di terminal berkisar sekitar 200 unit. Namun setelah perpindahan, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 300 bus per hari.

“Sekarang sudah mulai peningkatan ke 300 bus kurang lebih. Ada peningkatan dari sebelum masuk,” ujar dia.

Selain armada, jumlah penumpang juga mengalami peningkatan terutama dipengaruhi momentum libur sekolah yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, Terminal Leuwipanjang kini dilengkapi berbagai fasilitas penunjang yang cukup lengkap. Fasilitas dasar seperti ruang kesehatan, mushola, layanan disabilitas, pojok baca digital hingga pusat informasi sudah tersedia.

Selain fasilitas tersebut, sejumlah perusahaan otobus juga turut menambah fasilitas pendukung berupa lounge penumpang dan pengemudi.

Asep menjelaskan, lounge tersebut dirancang sebagai ruang istirahat yang lebih nyaman dengan fasilitas seperti AC, coffee shop, TV dan area santai. “Sekarang ada lounge untuk istirahat penumpang dan pengemudi. Ada coffee shop, AC, TV jadi bisa lebih nyaman,” tandasnya.***


Editor : JakaPermana