Terminal Cicaheum Warnai Kisah Nurjaman 26 Tahun Jualan, Kini Keliling Pakai Gerobak
Pembangunan depo bus rapid transit (BRT) di Terminal Cicaheum, Kota Bandung berdampak pada aktivitas para pedagang yang selama ini berjualan di kawasan iutu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pembangunan depo bus rapid transit (BRT) di Terminal Cicaheum, Kota Bandung berdampak pada aktivitas para pedagang yang selama ini berjualan di kawasan tersebut.
Salah satunya Nurjaman, pedagang batagor dan baso tahu yang telah berjualan di Terminal Cicaheum selama 26 tahun.
Kios tempat Nurjaman berjualan kini dibongkar untuk mendukung pembangunan depo BRT. Setelah pembongkaran, dia tidak memilih berhenti berjualan dan kini menggunakan gerobak roda untuk tetap mencari penghasilan.
“Sekarang pakai roda. Tetap jualan sambil membereskan barang,” kata Nurjaman, Rabu (26/8/2026).
Dia menuturkan, Pemkot Bandung memberikan kompensasi kepada pedagang yang terdampak pembongkaran. Besaran kompensasi yang diterima pedagang berbeda-beda, menyesuaikan ukuran kios masing-masing.
“Kalau kompensasinya tergantung ukuran kios. Saya mendapat Rp6 juta,” ucapnya.
Menurut Nurjaman, kompensasi telah dibayarkan pemerintah. Pembayaran diterimanya pada Senin (24/8) setelah sebelumnya mulai membereskan dan membongkar kios pada Jumat (21/8/2026).
“Mulai hari Jumat, tanggal 21. Kompensasinya dibayarkan hari Senin, tanggal 24,” ujar dia.
Dia menuturkan, proses pembongkaran bukan dilakukan secara sepihak tanpa pemberitahuan. Sebelum pembongkaran berlangsung, pedagang telah menerima informasi dan beberapa kali mengikuti rapat terkait rencana penataan kawasan Terminal Cicaheum.
“Ada pemberitahuan. Sebelumnya juga sudah beberapa kali menggelar rapat dan menyampaikan mengenai rencana pembongkaran,” jelasnya.
Dalam proses pembongkaran, para pedagang juga diminta membereskan kios masing-masing. Nurjaman mengatakan, barang-barang yang masih dianggap berharga diambil sendiri sebelum kios dibongkar.
“Iya, kami membongkar sendiri. Barang-barangnya juga diambil sendiri,” tutur dia.
Setelah tidak lagi memiliki kios, dia memilih tetap berjualan meski tidak lagi memiliki tempat tetap. Pihaknya mengatakan, akan berkeliling mencari lokasi yang memungkinkan untuk berjualan batagor dan baso tahu.
“Ya, tetap jualan. Tidak menetap di satu tempat. Paling muter-muter untuk mencari tempat berjualan,” jelasnya.
Pemerintah sambung dia, sebenarnya telah menyediakan sejumlah kios bagi pedagang yang terdampak. Namun, Nurjaman memilih tidak menempati tempat tersebut karena aktivitas dan keluarganya sudah lama berada di sekitar Terminal Cicaheum.
“Kalau soal tempat berjualan, sebenarnya sudah banyak yang disediakan. Di Terminal Leuwipanjang, lantai satu sampai lantai dua juga banyak kios yang kosong,” ujar dia.
Dia mengaku, sudah berdomisili di sekitar kawasan Terminal Cicaheum. Anak dan cucunya juga tinggal di wilayah yang sama, sehingga merasa sulit jika harus memulai usaha di lokasi yang jauh dari lingkungan tempat tinggalnya.
“Anak-anak saya semuanya di sini, cucu juga di sini. Usaha juga harus di sekitar sini, tidak bisa jauh-jauh,” ucapnya.
Karena itu, dia memilih bertahan dengan kondisi seadanya. Di tengah kawasan yang mulai berubah akibat proses penataan, Nurjaman tetap berjualan sembari menyelesaikan barang-barang dari kios lamanya.
“Makanya walaupun kondisi sekarang sudah berantakan seperti ini, saya tetap sambil jualan sambil membereskan barang,” ujar dia.
Dia juga tidak menampik kondisi ekonomi yang dihadapinya cukup berat. Penghasilan dari berjualan, harus terus diupayakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Untuk kebutuhan makan sehari-hari saja kadang masih harus tutup lubang gali lubang,” ucapnya.
Meski demikian, Nurjaman tidak ingin sepenuhnya bergantung pada bantuan pemerintah. Kompensasi yang diberikan sudah cukup baginya, tetapi setelah itu dirinya tetap harus kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Kalau keinginan saya, sekarang diberi uang segitu saja sudah cukup. Tidak perlu usaha lagi, kalau setiap bulan ada bantuan dari pemerintah. Itu kalau ditanya keinginan,” ujar dia.
Namun, dia menyadari bantuan tidak bisa menjadi satu-satunya sandaran. Karena itu, meski kondisi tempat berjualan berubah, Nurjaman tetap memilih mencari penghasilan sendiri.
“Iya. Namanya orang memang harus usaha. Tidak bisa hanya mengandalkan bantuan,” jelasnya.
Dia juga menyatakan, tetap mendukung pembangunan depo BRT di Terminal Cicaheum. Meski harus kehilangan kios yang menjadi tempatnya berjualan selama puluhan tahun, memilih menerima kebijakan tersebut.
“Ya, harus mendukung. Harus ikhlas,” ujar dia.
Diketahui, sebanyak 115 pedagang di Terminal Cicaheum terdampak pembangunan depo BRT. Para pedagang mendapatkan kompensasi dengan nilai yang berbeda-beda, dengan besaran yang disebut berkisar mulai Rp7 juta hingga Rp14 juta.
Editor : Doni Ramdhani

