Tidur di Tempat Baru Bikin Susah Nyenyak? Ini Penjelasan Fenomena First-Night Effect

Tidur di tempat baru sering bikin sulit tidur? Kenali first-night effect, penyebab otak lebih waspada, serta tips agar tidur tetap nyenyak saat bepergian.

Tidur di Tempat Baru Bikin Susah Nyenyak? Ini Penjelasan Fenomena First-Night Effect
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-tidur di hotel, rumah saudara, atau tempat baru terkadang terasa berbeda dibandingkan tidur di rumah sendiri. Sebagian orang membutuhkan waktu lebih lama untuk terlelap, lebih sering terbangun pada malam hari, atau merasa kualitas tidurnya kurang maksimal.

Kondisi tersebut dikenal sebagai first-night effect, yaitu fenomena ketika kualitas tidur seseorang terganggu pada malam pertama berada di lingkungan yang belum familiar.

Otak Lebih Waspada Saat Tidur di Tempat Baru

First-night effect terjadi karena otak cenderung lebih waspada ketika seseorang berada di lingkungan yang belum dikenalnya. Respons tersebut diduga merupakan bagian dari mekanisme alami tubuh untuk menjaga diri dari potensi ancaman.

Meski tubuh sedang beristirahat, sebagian aktivitas otak tetap berada dalam kondisi lebih aktif. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah terbangun dan sulit mencapai tidur yang benar-benar nyenyak.

Penelitian yang dikutip Associated Press menunjukkan bahwa seseorang rata-rata dapat tidur sekitar 20–30 menit lebih sedikit ketika berada di tempat baru.

Ahmad Mayeli, profesor psikiatri dan peneliti tidur dari University of Pittsburgh, menjelaskan bahwa bagian otak yang berkaitan dengan tahap tidur paling dalam tetap lebih aktif ketika seseorang tidur di lingkungan yang belum familiar.

Kondisi tersebut membuat tidur tidak hanya menjadi lebih singkat, tetapi juga dapat terasa kurang berkualitas.

Siapa yang Lebih Rentan Mengalaminya?

First-night effect sebenarnya dapat dialami siapa saja. Namun, fenomena ini lebih sering terlihat pada anak-anak, remaja, dan orang lanjut usia.

Orang yang memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi juga cenderung lebih mudah mengalami gangguan tidur ketika berada di tempat baru.

Menariknya, kekhawatiran mengenai tidur justru dapat memperburuk keadaan. Pikiran seperti "nanti bisa tidur atau tidak?" dapat membuat tubuh semakin sulit rileks dan akhirnya semakin sulit terlelap.

Kondisi Kamar Juga Memengaruhi

Selain respons alami otak, lingkungan baru turut berpengaruh terhadap kualitas tidur. Beberapa faktor yang dapat mengganggu antara lain:

Suara yang tidak biasa.
Cahaya kamar yang terlalu terang.
Suhu ruangan yang tidak nyaman.
Kasur atau bantal yang berbeda.
Perjalanan panjang yang melelahkan.
Kondisi hubungan yang kurang nyaman dengan orang yang sedang dikunjungi.

Semua faktor tersebut dapat membuat tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi.

Namun, tidak semua orang mengalami kualitas tidur yang lebih buruk di tempat baru. Seseorang yang sangat lelah setelah perjalanan panjang justru dapat tertidur lebih cepat. Sebagian orang lainnya bahkan merasa lebih mudah tidur karena jauh dari pekerjaan dan rutinitas sehari-hari.

Biasanya Hanya Terjadi pada Malam Pertama

Kabar baiknya, first-night effect umumnya hanya berlangsung pada malam pertama. Setelah tubuh mulai mengenali lingkungan baru sebagai tempat yang aman, otak perlahan menurunkan tingkat kewaspadaannya.

kualitas tidur pun biasanya mulai membaik pada malam berikutnya.

Tips Agar Tidur Lebih Nyaman Saat Bepergian

Ada beberapa cara sederhana yang dapat membantu tubuh lebih cepat beradaptasi ketika tidur di tempat baru.

Pertama, pertahankan rutinitas sebelum tidur sebisa mungkin. Usahakan tidur dan bangun pada waktu yang hampir sama seperti ketika berada di rumah.

Selanjutnya, pilih kamar yang sejuk, tenang, dan gelap. Penggunaan ponsel juga sebaiknya dikurangi menjelang waktu tidur.

Membawa benda yang familiar, seperti bantal atau selimut kesayangan, juga dapat membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman.

Jika memiliki agenda penting keesokan harinya, seperti rapat, ujian, atau kegiatan lainnya, datang satu hari lebih awal dapat menjadi pilihan. Dengan begitu, tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga kualitas tidur pada malam berikutnya berpeluang lebih baik.***


Editor : JakaPermana