Tips Ketua PGRI KBB untuk Guru, Jadikan Ramadan Momentum Kaya Makna Belajar
Suasana pembelajaran pada Ramadan memang berbeda dengan biasanya. Wajah siswa terkadang tampak lesu namun proses belajar mengajar tetap harus berjalan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Suasana pembelajaran pada Ramadan memang berbeda dengan biasanya. Wajah siswa terkadang tampak lesu akibat menahan lapar dan kantuk, namun proses belajar mengajar tetap harus berjalan dengan baik.
Ketua PGRI Kabupaten Bandung Barat (KBB) Rustiyana menilai, Ramadan bukan alasan untuk menurunkan standar pendidikan.
“Ramadan bukanlah alasan untuk menurunkan standar pendidikan, melainkan momentum emas untuk mengubah pendekatan belajar menjadi lebih kaya akan makna,” kata Rustiyana, Jumat 27 Februari 2026.
Untuk itu, dia mendorong guru diharapkan menjalankan peran ideal dalam menavigasi pembelajaran pada bulan suci ini melalui beberapa langkah utama.
Pertama, mengedepankan empati dalam setiap langkah. guru diimbau untuk lebih peka terhadap kondisi siswa yang sedang berpuasa, baik dari sisi fisik maupun kondisi tidur akibat aktivitas sahur.
"Beberapa penyesuaian dapat dilakukan, seperti menyesuaikan beban tugas dan jadwal pembelajaran," jelasnya.
"Materi yang lebih berat disarankan diberikan di pagi hari saat energi siswa masih tinggi, sementara aktivitas yang lebih ringan dapat ditempatkan di siang hari," ucapnya.
Kedua, prioritaskan pendidikan karakter bersama nilai akademik. Rustiyana menerangkan, Ramadan dikenal sebagai Syahrut Tarbiyah atau bulan pendidikan, sehingga menjadi momen tepat untuk mengembangkan nilai-nilai karakter siswa.
"guru dapat menginternalisasikan berbagai nilai Ramadan, antara lain kejujuran yang dapat dihubungkan dengan integritas dalam mengerjakan tugas dan ujian, empati serta semangat berbagi melalui pemahaman terhadap kondisi mereka yang kurang beruntung dan kegiatan amal sederhana," paparnya.
"Termasuk disiplin waktu yang dihubungkan dengan kedisiplinan dalam mengelola waktu belajar dan mengumpulkan tugas," ujarnya.
Ketiga, dorong kreativitas untuk atasi kelesuan. Untuk mengatasi kantuk dan kelesuan siswa, metode pembelajaran konvensional yang bersifat satu arah perlu dihindari.
"Di sini para guru diharapkan mengembangkan metode pembelajaran interaktif seperti permainan edukatif, kuis interaktif, diskusi kelompok dinamis, atau sesi storytelling yang mengandung makna," katanya.
"Dengan demikian, fokus siswa dapat teralihkan dari rasa tidak nyaman akibat puasa ke dalam aktivitas pembelajaran yang menyenangkan," imbuhnya.
Keempat, jadikan diri teladan energi positif. Menurutnya, energi guru sangat berpengaruh terhadap suasana kelas. Meskipun juga sedang berpuasa, guru diharapkan tetap menunjukkan semangat, antusiasme, dan senyum kepada siswa.
Dia menilai, hal tersebut bakal menjadi motivasi intrinsik yang kuat bagi siswa untuk tetap bersemangat belajar.
"Pada akhirnya, peran guru di bulan Ramadan bukan hanya memastikan penyelesaian silabus akademik, tetapi juga membentuk siswa menjadi pribadi yang lebih tangguh, berempati, dan memiliki karakter yang baik," bebernya.
"Melalui dedikasi guru, tantangan puasa dapat diubah menjadi energi spiritual dan intelektual yang berharga bagi siswa," ucapnya lagi.
Editor : Doni Ramdhani


