Tips Sukses Usaha Ayam Petelur ala Dispernakan KBB

Dispernakan KBB memberikan tips cara beternak ayam petelur agar sukses dan lancar

Tips Sukses Usaha Ayam Petelur ala Dispernakan KBB
Foto ilustrasi ayam petelur. Dispernakan KBB memberikan tips agar sukses dalam mengembangkan peternakan ayam petelur.

INILAHKORAN.ID - ayam petelur bukan hanya hewan yang menghasilkan telur, tapi juga menjadi pilar penting dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. 

Di Kabupaten Bandung Barat (KBB), pengelolaan yang baik dapat meningkatkan produktivitas ayam petelur secara signifikan.

Di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi ini, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB Wiwin Aprianti berbagi tips bagaimana mengelola atau memanajerial usaha ayam petelur agar bisa sukses.
 
“Keberhasilan usaha ayam petelur tidak bisa hanya bergantung pada satu faktor saja," kata Wiwin, Sabtu 14 Maret 2026.

"Ada tiga hal utama yang harus diperhatikan secara menyeluruh, antara lain bibit berkualitas, pakan bermutu dan ekonomis, serta manajemen pemeliharaan yang tepat,” sebutnya.
 
Menurutnya, ada dua tipe utama ayam petelur yang umum dibudidayakan, yakni tipe ringan yang memiliki ukuran kecil, aktif, dan efisien dalam konsumsi pakan. 

"Ayam tipe ini dapat menghasilkan lebih dari 260 butir telur per tahun dengan cangkang putih, namun sensitif terhadap panas dan kebisingan," tuturnya.

Kedua, lanjut Wiwin, tipe medium dengan ukuran lebih besar dan tenang, dengan telur berukuran besar dan cangkang coklat. 

"Beberapa strain ayam populer antara lain Lohmann Brown, Hysex Brown, Hyline Brown, dan Isa Brown," sebutnya.
 
Tak cuma itu, lokasi dan jenis kandang menjadi bagian penting dalam manajemen. Menurut peraturan Menteri Pertanian Nomor 40/Permentan/OT.140/7/2011, kandang harus berada minimal 500 meter dari pemukiman, serta memiliki akses yang baik terhadap air, listrik, dan sumber pakan.
 
"Ada beberapa pilihan jenis kandang, antara lain postal litter yang menggunakan alas seperti sekam atau jerami, cocok untuk ayam usia 1–18 minggu karena memberi kebebasan bergerak," ujarnya.

Kemudian jenis kandang baterai, sangkar bertingkat yang efisien dalam penggunaan ruang, cocok untuk periode produksi telur agar mudah dikontrol.

"Lalu ada alternatif (Free-Range & Pasture-Raised), kandang jenis ini memberi kebebasan ayam berkeliaran, menghasilkan telur berkualitas tinggi dan diminati konsumen yang peduli kesejahteraan hewan," terangnya.

Tak kalah penting, manajemen pemeliharaan berdasarkan periode. Wiwin menjelaskan, pada periode starter (DOC hingga 4–5 minggu), persiapan kandang harus dilakukan 2 minggu sebelum ayam tiba, termasuk pembersihan dan desinfeksi. 

"Suhu awal harus dijaga antara 32–35°C dan diturunkan secara bertahap. Pencahayaan diberikan 24 jam pada hari pertama, kemudian diatur secara intermiten," jelasnya.
 
Kemudian untuk manajemen panen, telur harus dikumpulkan rutin sekali sehari jika produksi di bawah 20 persen dan dua kali sehari jika lebih. 

"Setelah dikumpulkan, telur dibersihkan, disortir berdasarkan kualitas, digolongkan menjadi kelas AA, A, B, atau C, ditimbang, dan disimpan pada suhu 7–18°C dengan kelembapan maksimal 70 persen," ucapnya.
 
Lebih lanjut Wiwin menerangkan, berbagai penyakit dapat mengganggu produktivitas ayam petelur, mulai dari virus (Newcastle Disease, Avian Influenza), bakteri (Kolera Ayam, Coryza), hingga masalah gizi seperti kekurangan kalsium atau vitamin.
 
“Pencegahan adalah kunci utama. Mulai dari vaksinasi yang tepat, sanitasi kandang yang teratur, hingga biosekuriti untuk mencegah masuknya penyakit,” jelasnya.***


Editor : Ahmad Sayuti