Trotoar Gasibu Tak Ramah Disabilitas, Kopeka Soroti Kemiringan dan Akses Kursi Roda
Penataan trotoar di kawasan Gasibu Bandung kembali menuai sorotan. Kopeka Bandung menilai fasilitas pedestrian yang baru direvitalisasi tersebut.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Penataan trotoar di kawasan Gasibu Bandung kembali menuai sorotan. Koalisi Pejalan Kaki (Kopeka) Bandung menilai fasilitas pedestrian yang baru direvitalisasi tersebut belum sepenuhnya memenuhi prinsip aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Koordinator Kopeka Bandung Muhammad Fadhil mengungkapkan, masih ditemukan sejumlah persoalan teknis yang berpotensi menyulitkan pengguna kursi roda maupun kelompok disabilitas lainnya saat melintas di kawasan tersebut.
Salah satu temuan Kopeka yakni kondisi ramp atau pelandaian trotoar di titik penyeberangan yang belum terhubung secara mulus dengan permukaan jalan. Kondisi itu dinilai menghambat mobilitas pengguna kursi roda dan berisiko mengurangi aspek keselamatan.
Tak hanya itu, Kopeka juga menyoroti kemiringan memanjang trotoar yang dianggap melebihi standar kenyamanan dan keamanan bagi penyandang disabilitas.
"Di dalam kemiringan itu harus disediakan pegangan untuk rekan-rekan disabilitas. Gunanya agar rekan-rekan disabilitas bisa memegang pegangan itu dan tidak mudah untuk jatuh ke bawah," ujar Fadhil, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, kemiringan trotoar ideal berada di angka 8 persen dengan batas maksimal 12 persen. Jika melebihi ketentuan tersebut, fasilitas penunjang seperti pegangan tangan wajib tersedia untuk membantu pengguna disabilitas saat melintas.
Fadhil menilai, kondisi tersebut menjadi catatan serius mengingat kawasan Gasibu telah dua kali menjalani revitalisasi. Meski tampak lebih menarik secara visual, ia menegaskan fungsi utama trotoar sebagai ruang berjalan kaki yang aman dan inklusif belum sepenuhnya terpenuhi.
"Secara fungsi itu tidak sama sekali sesuai dengan fungsinya begitu dibangunnya trotoar di Gasibu," katanya.
Kopeka mendorong Pemprov Jabar, agar melibatkan komunitas pejalan kaki dan kelompok disabilitas sejak tahap perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi proyek penataan trotoar. Pelibatan pengguna dinilai penting untuk memastikan hasil pembangunan sesuai kebutuhan di lapangan.
"Terutama rekan-rekan disabilitas gitu harus diutamakan. Karena standar inklusif itu bukan standar kita non-disabilitas," katanya.
Selain melibatkan komunitas pengguna, Kopeka juga mengusulkan perguruan tinggi turut berperan dalam proses perancangan fasilitas pedestrian. Keterlibatan akademisi dinilai dapat membantu menghasilkan desain trotoar yang lebih aman, nyaman, dan memenuhi standar aksesibilitas.
Fadhil berharap, kawasan Gasibu sebagai salah satu ruang publik utama di Jawa Barat dapat menjadi contoh pembangunan trotoar yang benar-benar berpihak pada seluruh pengguna, termasuk penyandang disabilitas.
Editor : Doni Ramdhani

