Uji Coba PM-AAS Tabela Tembus 16,5 Hektare, Lampaui Target Distan

Kepala Bidang Tanaman Pangan Distan Kabupaten Cirebon Apip Sirojudin mengatakan, target awal uji coba PM-AAS pada musim tanam kedua hanya 8 hektare.

Uji Coba PM-AAS Tabela Tembus 16,5 Hektare, Lampaui Target Distan
Uji coba PM-AAS metode Tabela menggunakan alat Drumsider di Kabupaten Cirebon. (istimewa) 

INILAHKORAN.ID - uji coba Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) dengan metode Tanam Benih Langsung (Tabela) di Kabupaten Cirebon melampaui target yang ditetapkan Dinas Pertanian (Distan). Dari target awal seluas 8 hektare di delapan kecamatan, realisasi uji coba kini mencapai 16,5 hektare.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Distan Kabupaten Cirebon Apip Sirojudin mengatakan, target awal uji coba PM-AAS pada musim tanam (MT) kedua hanya 8 hektare atau masing-masing 1 hektare di delapan kecamatan.

"Target awal kami hanya 8 hektare, tetapi realisasinya berkembang jauh lebih besar karena antusiasme petani cukup tinggi," ujar Apip, Minggu (2/8/2026).

Dia menjelaskan, awalnya uji coba baru dilakukan di empat kecamatan, yakni Susukan, Dukupuntang, Pabuaran, dan Susukanlebak. Namun, dalam beberapa hari terakhir, program tersebut meluas ke Kecamatan Palimanan, Gebang, Sedong, dan Sumber.

"Sekarang seluruh delapan kecamatan yang kami rencanakan sudah melaksanakan PM-AAS dengan metode Tabela," katanya.

Menurut Apip, meningkatnya luas lahan uji coba dipengaruhi tingginya minat petani untuk menerapkan sistem pertanian modern. Bahkan, di beberapa wilayah luas lahan yang digunakan melebihi target semula.

Saat ini, Kecamatan Gebang menjadi penyumbang lahan terbesar dengan luas 9 hektare, disusul Susukanlebak 2 hektare. Sementara Palimanan, Pabuaran, Dukupuntang, Sedong, dan Sumber masing-masing 1 hektare, sedangkan Kecamatan Susukan seluas 0,3 hektare.

"Total lahan yang sudah ditanami mencapai 16,5 hektare. Ini menunjukkan respons petani terhadap program PM-AAS sangat positif," ungkapnya.

Apip menilai pelaksanaan uji coba pada musim tanam kedua menjadi waktu yang tepat. Pasalnya, metode Tabela dinilai lebih sesuai diterapkan pada kondisi lahan dengan ketersediaan air yang terbatas.

"Metode ini lebih efektif diterapkan pada musim tanam kedua karena kebutuhan airnya lebih efisien," jelasnya.

Dia mengakui kebutuhan benih dan pupuk pada sistem PM-AAS lebih tinggi dibanding pola tanam konvensional. Namun, Distan akan menyesuaikan alokasi pupuk subsidi melalui perubahan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) agar kebutuhan petani tetap terpenuhi.

"Kebutuhan pupuk memang meningkat, sehingga kami akan melakukan penyesuaian kuota melalui mekanisme RDKK," ucap Apip

Selain pupuk kimia lanjutnya, petani juga diwajibkan menggunakan pupuk organik subsidi sedikitnya 1 ton per hektare sebagai bagian dari penerapan sistem PM-AAS.

Apip menambahkan, keunggulan metode Tabela tidak hanya mempercepat masa tanam, tetapi juga meningkatkan produktivitas. Hasil panen dapat mencapai lebih dari 10 ton per hektare atau lebih tinggi sekitar 3–4 ton dibanding sistem tanam biasa. Penggunaan alat Drumsider juga membuat kebutuhan tenaga kerja menjadi lebih efisien.

"Produktivitasnya lebih tinggi, panen lebih cepat, dan penggunaan tenaga kerja juga lebih hemat karena proses tanam menggunakan Drumsider," pungkasnya. 


Editor : Doni Ramdhani