Underpass Pasteur Wacana Lama, Pengamat ITB: Tanpa Penataan, Tak Ampuh Atasi Macet
Pengamat menyebut adanya Underpass Pasteur merupakan wacana lama dan tanpa penataan kemacetan tetap akan terjadi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi merencanakan ingin ada underpass di persimpangan gerbang Tol Pasteur, guna mengurai kemacetan di kawasan tersebut.
Di mana kini rencana Underpass Pasteur ini telah masuk dalam feasibility study (FS) atau kajian, akan kelayakannya untuk dibangun.
pengamat Transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Sony Sulaksono mengungkapkan, keinginan Dedi tersebut sejatinya telah lama diwacanakan untuk dibangun, namun memang hingga kini belum terealisasi.
Kehadiran Underpass Pasteur ini kata Sony, tidak serta merta akan mengurai kemacetan. Ia menilai, pendekatan tersebut berisiko tak efektif,jika tidak dibarengi penataan kawasan secara menyeluruh.
“Itu memang sudah ada kajiannya. Kajian lama, pernah ada pemikiran untuk membuat semacam flyover,” ujar Sony saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Senin (20/4/2026).
Dalam kajian tersebut, terdapat sejumlah alternatif rekayasa lalu lintas, termasuk menurunkan jalur dari kawasan Jalan Surya Sumantri (Maranatha) menjadi underpass atau justru menaikkannya menjadi flyover. Namun, menurutnya, arah kebijakan terbaru cenderung memilih opsi underpass.
“Jadi entah dari jalan Maranatha (Jalan Surya Soemantri), diturunkan ke bawah jadi underpass atau dinaikkan. Tapi kalau melihat rencana jalan tol dalam Kota Bandung (BIUTR), kayaknya cenderung Maranatha (underpass) karena jalannya menurun,” jelasnya.
Meski demikian, Sony mengingatkan bahwa kemacetan di simpang Pasteur tidak bisa disederhanakan hanya karena keberadaan lampu lalu lintas. Ia menilai ada persoalan lain yang justru menjadi penyumbang signifikan kepadatan kendaraan.
“Itu wacana lama sih, karena dianggap penyebab kemacetannya adalah karena ada lampu (traffic light) di situ. Walaupun sebenarnya kalau kita lihat dengan lebih utuh, yang bikin macet tidak hanya persimpangan itu. Tetapi ada tempat pemberhentian travel di situ. Jadi itu hambatan juga,” ungkapnya.
Ia pun menekankan, pembangunan underpass tanpa disertai penataan aktivitas transportasi di kawasan Pasteur, terutama kendaraan travel dan taksi yang kerap berhenti sembarangan akan membuat proyek tersebut tidak maksimal.
“Jadi, kalau underpass itu jadi dibangun, tapi tidak ada penataan di kawasan Pasteur, terutama travel yang berhenti, taksi yang menunggu, ya mungkin tidak akan efektif,” tegasnya.
Volume Kendaraan Bertambah
Selain itu, Sony juga menggarisbawahi fenomena meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi akibat pembangunan infrastruktur baru. Menurutnya, baik underpass maupun flyover tidak akan menyelesaikan kemacetan jika jumlah kendaraan terus bertambah.
“Kedua, flyover tidak akan bisa menyelesaikan masalah kalau jumlah mobil besar, karena cenderung setiap flyover akan menambah orang makin banyak bawa mobil,” ungkapnya.
Ia mencontohkan sejumlah proyek flyover di Bandung yang hingga kini belum mampu mengatasi kemacetan secara signifikan, terutama pada jam sibuk.
“Kita lihat flyover Kiaracondong, flyover Antapani. Itu ternyata juga tidak menyelesaikan masalah macet. Tetap saja macet terjadi di jam sibuk, karena jumlah mobil terlalu banyak,” ujarnya.
Kajian BIUTR Sudah Ada Sejak 1990-an
Lebih jauh, Sony menyebut bahwa kajian besar terkait sistem transportasi di Bandung, termasuk rencana Bandung Intra Urban Toll Road (BIUTR), telah ada sejak era 1990-an.
“Jadi sudah lama ada kajian itu. BIUTR juga sudah ada kajiannya. Lebih lama lagi, itu dari 1996-1997,” pungkasnya.
Ia menekankan, solusi kemacetan di kawasan Pasteur tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur baru. Diperlukan langkah terpadu, mulai dari penataan angkutan umum, penertiban titik berhenti kendaraan, hingga pengendalian jumlah kendaraan pribadi agar kemacetan tidak terus berulang.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengklaim rencana Underpass Pasteur tengah dikaji.
Dedi berharap keinginannya tersebut dapat terealisasi, guna mengurai kemacetan di Jalan Pasteur, Kota Bandung pada setiap akhir pekan.
"Ini lagi dalam kajian dan saya berkeinginan ya itu (underpass) dibuat," ujar Dedi di Kota Bandung, Jumat (17/4/2026) pekan lalu.
Editor : Ahmad Sayuti

