Waduh... BPS Klaim BIJB Kertajati Masih Sulit Tarik Minat Wisatawan
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mengklaim, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka masih sulit menarik minat wisatawan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mengklaim, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka masih sulit menarik minat Wisatawan.
Khususnya Wisatawan mancanegara, dimana berdasarkan data BPS Jabar, sepanjang 2019-2024 baru 9.972 orang yang menggunakan BIJB Kertajati.
Bahkan, angka kunjungan ini masih belum mampu melampaui Bandara Husein Sastranegara, yang sebelumnya diaktifkan untuk penerbangan komersial dan internasional. Seperti di 2019 angka sudah mencapai 157.833 orang.
Penyebabnya menurut Statistisi Ahli Muda BPS Jawa Barat Ilham Rizky Muharam, salah satunya karena rute penerbangan domestik dan internasional di BIJB Kertajati masih sedikit.
"Berdasarkan data yang ada, pada kondisi saat ini di Bandara Kertajati memiliki rute domestik dan internasional yang jauh lebih sedikit dibandingkan Bandara Husein Sastranegara. Hal ini membuat bandara Kertajati kurang menarik bagi Wisatawan," ujar Ilham, Selasa 21 Januari 2025.
Akibatnya, Wisatawan lebih memilih melakukan penerbangan melalui bandara lain yang lebih banyak melayani jadwal terbang.
"Wisatawan cenderung memilih bandara dengan penerbangan lebih sering untuk fleksibilitas jadwal," ucapnya.
Saat ini, penerbangan internasional yang dilayani oleh Bandara Kertajati baru terdapat sebanyak dua rute, yaitu rute Kuala Lumpur - Kertajati dengan frekuensi sebanyak empat kali penerbangan dalam satu minggu. Serta rute Singapura - Kertajati dengan frekuensi penerbangan sebanyak dua kali dalam satu minggu.
"Total pesawat rute internasional yang mendarat di Bandara Kertajati pada tahun 2024 sebanyak 252 pesawat. Sangat berbeda jauh signifikan jika dibandingkan dengan total pesawat rute internasional yang mendarat di Bandara Husein sebelum pandemi yaitu di tahun 2019 mencapai 2.262 pesawat," ungkapnya.
Kemudian, jumlah kunjungan domestik saat Bandara Husein masih melayani penerbangan komersil di tahun 2019, mencapai 9.831 pesawat dengan jumlah penumpang mencapai 840.036 orang.
Jika dibandingkan dengan BIJB Kertajati pada tahun yang sama, hanya mencapai 2.115 pesawat dengan jumlah penumpang sebanyak 230.201 orang.
"Bahkan, di tahun 2024, jumlah mencapai 1.441 pesawat dengan jumlah penumpang mencapai 172.037 orang," katanya.
Faktor lainnya yang membuat kunjungannya masih kurang, yaitu momentum pembukaan BIJB Kertajati yang cukup berdekatan dengan pandemi COVID-19 juga menjadi salah satu penghambat dari branding bandara ini.
"Bandara Kertajati pertama kali beroperasi pada (bulan) Mei 2018 namun momen pembukaan ini harus terhalang perkembangannya oleh Pandemi COVID-19. Penutupan layanan internasional di Kertajati akibat pandemi dan belum pulihnya operasional penerbangan (juga) menjadi penghambat," kata Ilham.
Sedangkan pada saat Bandara Husein masih beroperasi, bandara tersebut sudah memiliki branding yang cukup kuat sebagai gerbang pariwisata Jawa Barat dengan Bandung sebagai Ibu Kota Provinsi.
"Sementara BIJB (Kertajati) belum membangun citra yang sama. BIJB Kertajati terletak sekitar 68 KM dari Bandung, kota utama di Jawa Barat, sementara Bandara Husein Sastranegara berada di dalam Kota Bandung," ucapnya.
Ditambah, Keterbatasan transportasi umum untuk mengakses Bandara BIJB Kertajati, menurutnya juga membuat perjalanan lebih rumit bagi pengguna. Bahkan di momen-momen tertentu karena harus bersinggungan dengan rekayasa lalu lintas.
"Jalur tol menuju BIJB kerap harus bersinggungan dengan rekayasa lalu lintas pada momen-momen libur panjang (Idul Fitri dan Natal) sehingga pada momen-momen yang seharusnya menjadi momen penumpang yang menggunakan Bandara Kertajati naik signifikan tidak terjadi," kata dia.
Terlepas dari itu lanjut Ilham, soal BIJB Kertajati bukan tanpa solusi. Salah satu cara agar kunjungan meningkat dari BIJB Kertajati, yakni melakukan analisis data Wisatawan yang datang ke Jawa Barat baik dari bandara, Jakarta (CGK) dan Bali (DPS), untuk menemukan negara asal yang mendominasi kunjungan.
Kedua, fokus pada rute internasional dari negara dengan kunjungan terbanyak, seperti Malaysia, Singapura, dan Timur Tengah.
"Perbanyak jumlah penerbangan langsung ke destinasi yang mendukung permintaan seperti Kuala Lumpur, Singapura, atau Jeddah untuk umrah. Buka rute penerbangan baru ke Negara tetangga dan lainnya seperti Australia, Thailand, Tiongkok," ucapnya.
Selain itu, pengelola juga harus melakukan kolaborasi dengan instansi pemerintah daerah untuk membuat paket wisata yang menarik. Apalagi, lokasi BIJB sangat dekat dengan beberapa daerah lain yang memiliki objek wisata hits seperti di Cirebon, dan Majalengka itu sendiri.
"Kolaborasi dengan Dinas Pariwisata untuk mengemas paket wisata Jawa Barat Eksklusif yang mencakup objek wisata sekitar Bandara Kertajarti seperti Cirebon (Keraton Kasepuhan), Majalengka (Gunung Ciremai), atau Indramayu," jelasnya.
Selanjutnya, manfaatkan dan gencarkan media digital untuk mempromosikan rute baru dan destinasi Jawa Barat yang dekat dengan Bandara BIJB Kertajati. Menurutnya, hal ini merupakan yang paling penting dalam meningkat kunjungan wisata dari Kertajati.
"Lakukan kampanye promosi besar-besaran di negara-negara target menggunakan pendekatan digital. Selenggarakan event berskala internasional di kawasan sekitar BIJB, seperti festival budaya atau olahraga, untuk menarik pengunjung dari luar negeri," katanya.
Terakhir, tingkatkan konektivitas ke BIJB melalui jalur tol, kereta api dan angkutan umum yang terintegrasi. Transportasi ini juga merupakan yang paling utama agar bisa menarik para Wisatawan.
"Sediakan shuttle gratis dari kota besar seperti Bandung, Cirebon, dan Jakarta untuk mempermudah akses ke Kertajati. Siapkan konektivitas dari bandara menuju destinasi wisata terdekat, misalnya dengan transportasi langsung ke kawasan wisata," ujarnya.
Adapun kondisi terkini kunjungan Wisatawan mancanegara ke Jabar saat ini kata Ilham, pada November 2024 jumlah kunjungan yang datang melalui pintu masuk BIJB sebanyak 735 kunjungan.
"Jika dibandingkan dengan Oktober 2024 terjadi penurunan sebesar 16 persen. Wisatawan berkebangsaan Malaysia mendominasi wisman yang datang ke Jawa Barat dengan kontribusi sebesar 60,82 persen, diikuti oleh kebangsaan Singapura 18,91 persen, serta Nigeria dan Tiongkok masing-masing sebesar 1,36 persen dan 0,95 persen," jelasnya.
Ada pun secara kumulatif, jumlah kunjungan wisman selama periode Januari-November 2024 tercatat sebanyak 9.972 kunjungan.
Sedangkan secara kumulatif dari Januari sampai November 2024 kunjungan Wisatawan nusantara ke Jawa Barat mencapai 150,05 juta perjalanan.
Dibandingkan dengan Tahun 2023 untuk periode yang sama mengalami peningkatan sebesar 7,86 persen. Jumlah kunjungan kumulatif periode Januari sampai November 2024 sendiri merupakan capaian tertinggi sejak tahun 2019.
"Secara konsep dan definisi, wisnus atau Wisatawan nusantara merupakan WNI yang melakukan perjalanan melewati batas kabupaten kota di wilayah teritori Indonesia, yang dilakukan tidak rutin, diluar lingkungan sehari-hari," jelasnya.
"Lama perjalanan kurang dari 12 bulan dan tinggal atau stay minimal 6 jam di kabupaten/kota tujuan serta perjalanan bukan dalam rangka bekerja atau bersekolah secara rutin," imbuhnya.***
Editor : JakaPermana

