Ekonomi Jabar Masih Solid, Surplus Dagang Tembus USD16,63 Miliar
Kinerja ekonomi Jawa Barat menunjukkan daya tahan yang kuat hingga pertengahan 2026, buktinya neraca perdagangan Jabar surplus mencapai USD16,63 miliar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kinerja ekonomi Jawa Barat menunjukkan daya tahan yang kuat hingga pertengahan 2026. Di tengah tekanan musim kemarau dan kenaikan sejumlah harga pangan, neraca perdagangan Jabar justru mencatat surplus mencapai USD16,63 miliar.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator strategis yang menunjukkan aktivitas ekonomi Jawa Barat masih bergerak positif. Pada saat yang sama, tekanan inflasi tetap relatif terkendali.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati mengatakan, inflasi Jabar pada Agustus 2026 tercatat 0,21 persen secara bulanan. Secara tahun kalender, inflasi mencapai 1,86 persen, sedangkan inflasi tahunan berada di level 3,13 persen.
BPS mencatat, seluruh daerah yang menjadi wilayah pemantauan inflasi mengalami kenaikan harga. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Subang dan Kota Cirebon, masing-masing 0,40 persen.
Sementara itu, Kabupaten Majalengka mencatat inflasi terendah, yakni 0,06 persen. Kota Bogor mengalami inflasi 0,27 persen, Kota Sukabumi 0,22 persen, Kota Bandung 0,32 persen, Kota Bekasi 0,17 persen, Kota Depok 0,07 persen, Kota Tasikmalaya 0,39 persen, dan Kabupaten Bandung 0,32 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi sumber tekanan terbesar dengan andil 0,12 persen.
“Tekanan inflasi bulanan terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil inflasi terbesar yaitu 0,12 persen. Komoditas utama pendorong inflasi meliputi daging ayam ras, beras, sigaret putih mesin, semangka, dan buncis,” ujar Ari dalam keterangan resminya, Selasa (1/9/2026).
Tekanan harga pangan tersebut turut dipengaruhi puncak musim kemarau yang berlangsung di berbagai wilayah Jabar. Beras dan cabai rawit menjadi sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga.
Namun, kondisi pasokan sejumlah komoditas masih mampu menjadi penahan laju inflasi. Panen raya membuat ketersediaan bawang merah dan tomat melimpah sehingga tekanan harga tidak semakin tinggi.
Editor : Ahmad Sayuti

