Warga Trusmiland Cirebon Minta Solusi Wilayahnya Selalu Banjir

Warga Perumahan Trusmiland Tahap 5 di Desa Battembat, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon mengeluhkan penanganan banjir yang dinilai belum memiliki solusi.

Warga Trusmiland Cirebon Minta Solusi Wilayahnya Selalu Banjir
Warga Perumahan Trusmiland Tahap 5 di Desa Battembat, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon mengeluhkan penanganan banjir yang dinilai belum memiliki solusi.

INILAHKORAN.ID – Warga Perumahan Trusmiland Tahap 5 di Desa Battembat, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon mengeluhkan penanganan banjir yang dinilai belum memiliki solusi jelas.

Sebelumnya, banjir yang terjadi pada Sabtu kemarin, merendam hampir 90 persen area perumahan. Hingga hari  kelima pascakejadian, air masih bertahan di sebagian besar kawasan, mengganggu aktivitas warga.

Kuwu Desa Battembat, Muhammad Kholid, mengatakan banjir kali ini berlangsung cukup lama karena posisi perumahan berada di antara dua daerah aliran sungai, yakni Sungai Cipager dan Sungai Cisoka.

"Hampir 90 persen yang terendam itu Trusmiland tahap 5. Lokasinya seperti pulau karena dikepung aliran sungai dan menjadi pusat limpasan air. Bahkan saat di sini tidak hujan tapi kalau di hulu banjir, air tetap masuk,” ujarnya Selasa 10 Februari 2026.

Dia menjelaskan, aliran Sungai Cipager dan Sungai Cisoka melintasi sejumlah desa. Mulai dari Battembat, Wanakaya hingga Bandil, sehingga saat debit air meningkat kawasan perumahan tersebut menjadi titik kumpul genangan.

Berdasarkan data pemerintah desa, perumahan tersebut dihuni sekitar 300 jiwa. Namun, persoalan administrasi kependudukan masih menjadi kendala karena baru sekitar 15 kepala keluarga yang tercatat sebagai warga Desa Battembat.

"Kami dari pemerintah desa membantu sesuai kewenangan. Sebagian besar warga masih berstatus domisili," jelas Kholid.

Keluhan juga disampaikan Hidayat, salah seorang warga. Dia mengatakan, banjir di kawasan tersebut terjadi hampir setiap musim hujan dan hingga kini belum ada penanganan yang menyeluruh.

"Perumahan ini sudah sekitar delapan tahun belum ada serah terima dengan pemerintah daerah. Jadi penanganannya masih kewenangan pengembang. Kami warga hanya berharap ada solusi agar tidak terus menjadi korban banjir," ujarnya.

Menurutnya, pengembang memang pernah membangun tanggul sebagai upaya penanganan. Namun, langkah tersebut dinilai belum mampu mencegah air masuk saat debit sungai meningkat.

Warga berharap pemerintah daerah bersama pengembang segera melakukan langkah terpadu, seperti normalisasi sungai, penguatan tanggul, serta kejelasan status serah terima perumahan agar penanganan banjir tidak berlarut.

Di sisi lain, sorotan terhadap pengembangan kawasan Trusmiland juga muncul di lokasi lain. Perumahan Trusmiland yang berada di Kecamatan Sumber bahkan diduga menjadi salah satu penyebab banjir. Hal itu karena aktivitas pengembangan yang tidak memperhatikan dampak lingkungan.

Di kawasan tersebut, diketahui terjadi penggalian tanah di kaki Bukit Plangon, meskipun lahan itu telah dibeli oleh pihak pengembang.***


Editor : JakaPermana