266 Bencana Terjadi Januari-Maret 2025, BPBD Jabar Imbau Masyarakat Siaga Bencana Hidrometeorologi
Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Provinsi Jawa Barat mengimbau masyarakat, agar tetap waspada terhadap dampak potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Badan Penanggulangan bencana (BPBD) Provinsi Jawa Barat mengimbau masyarakat, agar tetap waspada terhadap dampak potensi bencana Hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.
Sebab, berdasarkan data kejadian bencana periode 1 Januari - 3 Maret 2025, telah terjadi 266 bencana di Jawa Barat. Dengan rincian, 75 kejadian tanah longsor, 59 bencana banjir dan 132 cuaca ekstrem.
"Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi bencana, karena berdasarkan informasi saat ini Jawa Barat masih dalam periode musim hujan," imbau Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jawa Barat Hadi Rahmat, Senin 3 Maret 2025.
Mengenai dampak akibat kejadian bencana yang terjadi, Hadi mengungkapkan setidaknya 1.765 rumah rusak, mulai dari rusak ringan, rusak sedang dan ruka berat.
"Dari 1.765 rumah yang rusak 195 diantaranya mengalami rusak berat, sedangkan yang terendam banjir sementara ini sudah ada 24.770," ungkapnya.
Sedangkan korban jiwa yang terdampak akibat kejadian bencana, BPBD Jabar mencatat sebanyak 153.866 jiwa telah terdampak akibat kejadian bencana, dengan empat orang diantaranya meninggal dunia.
Sebab itu, Hadi mengimbau kepada masyarakat di kabupaten/kota di Jabar agar selalu waspada terhadap dampak potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem seperti longsor, banjir, angin kencang dan lain-lain.
"Diharapkan masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana yang ada di lingkungan terdekat, baik longsor, banjir dan angin kencang, dengan selalu memantau kondisi cuaca yang bisa sewaktu-waktu berubah menjadi hujan lebat bahkan cuaca ekstrem," kata dia.
Dia juga mengajak masyarakat untuk memahami, terkait evakuasi mandiri sehingga dapat menyelamatkan diri ketika potensi bencana terjadi di sekitar mereka.
"Lakukan evakuasi mandiri ke titik kumpul yang aman bila situasi sudah mengancam, dan koordinasi dengan aparat kewilayahan setempat untuk terpenuhinya layanan darurat yang mendesak," tandasnya.***
Editor : JakaPermana

