9 Tahun Diterjang Banjir Rob, Warga Ambulu Datangi Pemkab Cirebon
Warga Desa Ambulu Kecamatan Losari mengeluh ke Pemkab Cirebon lantaran sudah 9 tahun jadi langganan banjir rob
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Warga Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, akhirnya mendatangi Pemerintah Kabupaten Cirebon untuk mengadukan persoalan banjir rob yang sudah hampir 9 tahun tak kunjung teratasi, Senin (25/5/2026).
Dalam audiensi yang digelar di Kantor Bupati Cirebon itu, warga mengungkap dampak rob yang terus merendam permukiman, sekolah, tambak hingga tempat ibadah. Mereka mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan wilayah pesisir Ambulu.
Audiensi tersebut dihadiri Asisten Daerah (Asda) I, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), Dinas Kesehatan, Sekretaris Dinas Pendidikan, Dinas PUTR, DPKPP, aparat kepolisian hingga Wakil Bupati Cirebon.
Ketua PPK Desa Ambulu, Syaotun Khasanah, mengatakan kondisi rob di wilayahnya sudah sangat memprihatinkan. Menurutnya, sebagian besar wilayah desa nyaris sepanjang tahun terendam air laut.
“Dari 365 hari, sekitar 300 hari kami terkena rob. Yang terendam itu sekolah, balai desa, empang. Kalau empang terendam, ekonomi masyarakat lumpuh karena hampir semua tambak rusak,” ujar Syaotun.
Dia juga menyoroti kondisi SDN 3 Ambulu yang disebut menjadi sekolah paling terdampak karena berada tepat di bibir pantai.
“SDN 3 Ambulu itu termasuk yang paling parah. Saat ini saja sedang banjir, air yang masuk ke ruang kelas mencapai sekitar 30 sentimeter,” ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Sanuri. Dia mengaku, hampir tiga perempat wilayah permukiman warga Ambulu terdampak banjir rob yang datang rutin setiap bulan. Dia berharap pemerintah daerah segera menghadirkan solusi nyata untuk masyarakat pesisir.
“Saya yakin bapak wakil bupati mampu menangani Desa Ambulu. Kami percaya bapak Jigus mampu karena beliau menjadi idolanya kampung nelayan,” ucapnya.
Sementara itu, perwakilan MUI Desa Ambulu, H. Etong, mengatakan kondisi masyarakat saat ini sudah sangat terdesak akibat rob yang terus terjadi setiap bulan.
“Tiap bulan pasti ada banjir rob. Minimal empat hari dalam sebulan, bahkan kadang sampai 20 hari. Tempat ibadah seperti musala ikut terendam, bahkan ada jenazah yang hendak dishalatkan dalam kondisi rumah kebanjiran,” ujar Etong.
Menurutnya, rob tidak hanya menghancurkan ekonomi warga, tetapi juga melumpuhkan pendidikan dan aktivitas keagamaan masyarakat.
“Sekolah terendam, motor banyak rusak karena air laut. Ini berbeda dengan banjir air gunung, karena air laut menyebabkan kerusakan lebih parah dan biaya perbaikan jadi besar,” katanya.
Dari kalangan nelayan, Samsurdin mengungkapkan tambak warga kini banyak berubah menjadi lautan akibat terus diterjang rob.
“Tambak kami hancur, sekarang seperti laut semua. Rajungan juga semakin kecil-kecil, akhirnya kami harus mengambil dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kami bingung bagaimana ekonomi ke depan,” jelasnya.
Warga juga mendesak pemerintah membangun penahan air laut atau seawall agar rob tidak terus masuk ke permukiman dan area tambak.
Selain itu, warga meminta Desa Ambulu ditetapkan sebagai kawasan darurat bencana.
Mereka juga berharap ada kebijakan keringanan hingga pembebasan pajak bagi pemilik empang yang sudah tidak produktif akibat rob.
“Tanah hampir 120 hektare sudah tidak berproduksi. Wajar kalau dibebaskan dari pajak karena ekonomi masyarakat lumpuh,” ungkap salah seorang warga dalam audiensi tersebut.
Editor : Ahmad Sayuti


