Eksploitasi Air Tanah Percepat Amblesan, Penurunan Muka Tanah di Pantura Kian Parah
Eksploitasi air tanah dan urbanisasi mempercepat amblesan tanah di Pantura Jawa. Badan Geologi mencatat penurunan lebih dari 5 cm per tahun di sejumlah daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan, Penurunan muka tanah di kawasan pesisir, khususnya Pantura Jawa, tidak semata disebabkan faktor alam.
Aktivitas manusia dinilai berperan besar dalam mempercepat amblesan tanah di wilayah-wilayah tersebut.
Penurunan muka tanah terdeteksi di Jakarta, Semarang, Pekalongan, Demak, hingga Surabaya. Di beberapa daerah, laju penurunan bahkan tercatat lebih dari 5 sentimeter per tahun.
"Badan Geologi, KESDM telah melakukan penyelidikan, pemetaan dan pemantauan amblesan (landsubsidence) sejak awal tahun 90 an di DKI Jakarta dengan bekerjasama dengan kelompok ahli amblesan tanah republik cina dan menemukan indikasi amblesan tanah di daerah sekitar DKI Jakarta," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangannya.
Secara geologis, wilayah Pantura Jawa didominasi oleh endapan Kuarter seperti aluvium, endapan danau, dan gambut yang memang rentan mengalami konsolidasi alami.
Namun, eksploitasi air tanah yang berlebihan serta beban bangunan akibat urbanisasi pesat mempercepat proses penurunan tersebut.
"Tren Penurunan muka tanah yang terjadi di Kota-kota besar di Indonesia pada beberapa daerah seperti Pekalongan, Semarang dan Demak masih menunjukkan tren penurunan yang cukup tinggi dengan nilai penurunan > 5 cm/tahun, namun untuk wilayah DKI saat ini pada beberapa daerah telah menunjukkan tren penurunan yang mulai melandai," ucapnya.
Wilayah yang tercatat mengalami penurunan paling parah antara lain Jakarta Utara, Bandung, Semarang bagian utara seperti Genuk, Tanjung Mas, dan Kaligawe, kawasan Demak–Sayung, pesisir Pekalongan, serta Surabaya bagian timur dan utara.
Badan Geologi memperingatkan, tanpa pengendalian pemanfaatan air tanah dan penataan pembangunan yang berkelanjutan, Penurunan muka tanah akan terus berlanjut dan memicu banjir rob permanen, kerusakan infrastruktur, hingga hilangnya wilayah daratan secara permanen. ***
Editor : Gin gin T Ginulur


