Air Kolam Menghitam, Ikan Warga Tamansari Kota Tasikmalaya Mati Massal

Warga Tamansari Kota Tasikmalaya mengeluhkan air kolam menghitam hingga menyebabkan ikan mati massal

Air Kolam Menghitam, Ikan Warga Tamansari Kota Tasikmalaya Mati Massal
Kondisi air kolam ikan di Tamansari Kota Tasikmalaya yang menghitam diduga akibat pencemaran, Senin (22/6/2026). Akibat pencemaran tersebut ikan di beberapa kolam milik warga mati. Foto N Nurohman

INILAHKORAN.ID - Warga di Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, kembali mendesak Pemerintah Kota Tasikmalaya segera menangani persoalan dugaan pencemaran air yang disebut terus berulang setiap musim kemarau. 

Desakan itu muncul setelah ratusan kolam ikan milik masyarakat terdampak air yang mendadak berubah menjadi hitam pekat hingga menyebabkan kematian ikan secara massal.

Peristiwa itu juga berdampak terhadap sumber air warga. Selain kolam budidaya, air sungai dan sumur di sekitar lokasi dilaporkan ikut berubah kondisi sehingga tidak lagi layak dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari, seperti mandi maupun mencuci.

Warga menduga perubahan kualitas air tersebut berasal dari air lindi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ciangir yang mengalir ke sungai. Untuk mengurangi kerugian, sejumlah pemilik kolam terpaksa menguras air demi menyelamatkan ikan yang masih hidup.

Salah seorang pembudidaya ikan, Abah Anas Sutisna (62), warga Kampung Sinargalih RT 02 RW 07, Kelurahan Tamansari, mengaku hanya bisa menyaksikan sebagian ikan peliharaannya mati mengambang di kolam.

Ia mengatakan, sekitar 40 kilogram ikan dari berbagai jenis dibudidayakan di kolam miliknya, mulai dari indukan gurame, nila, ikan mas hingga jenis lainnya.

"Abah melak lauk sagala jenis (semua jenis ikan abah budidaya). Kawit ti indukan gurame, nila, lauk mas sareng anu sanes (Dari induk gurame, nila, ikan mas dan lainnya). Total sadayana 40 kiloan (semuanya 40 kilo)," ujarnya, Senin, (22/6/2026).

Menurut Anas, tidak seluruh ikan mati. Namun sebagian besar yang terdampak masih berukuran kecil, sekitar sebesar jari telunjuk.

Hal serupa dialami Umar (50), pembudidaya ikan lainnya. Ia mengungkapkan kondisi air kolam mulai berubah pada malam hari. Keesokan paginya, seluruh ikan di kolam terlihat mengambang.

"Tadi pagi ketahuannya, airnya kolam sudah hitam dan ikan juga sudah pada mengambang, mati semua," katanya.

Umar menyebutkan, sekitar 70 kilogram benih berbagai jenis ikan ditebar di kolam miliknya, di antaranya gurame, ikan mas, ikan tambak, ikan sepat dan jenis lainnya.

Ia menilai kejadian kali ini sama seperti yang pernah terjadi pada Oktober 2024.

"Kejadian ini persis seperti dua tahun lalu. Airnya menghitam, ikannya pada mati. Perkiraan dari bak air lindi IPAL TPA Ciangir yang dibuang ke sungai," ungkapnya.

Ketua RW 07, Agus Suhendar, mengatakan sedikitnya 98 kolam ikan di RT 02 RW 07 terdampak karena menggunakan saluran air yang sama. Selain itu, sekitar 34 kolam di RT 04 RW 04, Kelurahan Mugarsari, juga mengalami kondisi serupa sehingga total kolam terdampak mencapai sekitar 132 kolam.

Sejauh ini, pihaknya baru menerima laporan dari lima pemilik kolam. Seluruh laporan berkaitan dengan kematian ikan secara mendadak akibat perubahan kondisi air.

Agus menuturkan, besaran kerugian belum dapat dihitung karena proses pendataan masih berlangsung. Menurutnya, jumlah ikan yang mati baru akan diketahui setelah bangkainya mengapung ke permukaan.

Ia juga mengungkapkan persoalan tersebut telah berulang sejak 2011 dan hampir selalu muncul saat musim kemarau.

"Peristiwa ini sudah terjadi sejak 2011. Tolong perhatiannya untuk warga kami. Saya sangat berharap jangan hanya berhenti pada wacana saja, kami butuh solusi nyata," tegasnya.


Editor : Ahmad Sayuti