Akses Tertimbun Longsor, Disparbud KBB Tutup Total Curug Malela Bandung Barat
Disparbud tutup total akses masuk ke Curug Malela lantaran aksesnya tertutup longsor
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Kawasan wisata alam Curug Malela di Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini mati suri. Aktivitas kunjungan wisatawan terhenti sepenuhnya pasca bencana longsor besar menutup total jalur akses utama masuk kawasan, sekaligus merusak sejumlah fasilitas penunjang dan bangunan milik warga sekitar.
Kondisi darurat ini memaksa Pemkab Bandung Barat memutuskan penutupan total lokasi hingga keamanan benar-benar terjamin.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB, Asep Dendih menjelaskan, melihat kondisi kritis tersebut pihaknya terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta instansi teknis terkait guna merumuskan langkah penanganan terbaik.
Meski prioritas utama membuka kembali akses yang terputus, namun proses pemulihan tidak bisa dilakukan secara terburu-buru lantaran potensi bahaya di lapangan masih sangat tinggi.
“Fokus kami sekarang, yaitu membuka kembali akses yang tertutup longsor. Tapi kami tidak bisa bekerja sembarangan. Kondisi lereng masih labil, dan satu kesalahan langkah justru bisa menimbulkan korban baru," kata Asep, Sabtu (2/5/2026).
"Semuanya harus dikerjakan dengan perhitungan matang dan sangat hati-hati,” sambungnya.
Lebih lanjut Asep menuturkan, keputusan penutupan total kawasan bersifat mutlak dan bakal terus diberlakukan selama akses belum pulih serta kondisi keamanan belum dinyatakan aman oleh tim teknis.
“Selama jalur belum bisa dilalui dan risiko longsor masih ada, Curug Malela belum boleh dibuka untuk umum. Keselamatan pengunjung dan warga sekitar adalah prioritas utama,” tegasnya.
Terpisah, Petugas BPBD Kabupaten Bandung Barat, Suheri menyebut kerusakan cukup parah, jalur penghubung menuju lokasi wisata kini tertutup tumpukan tanah dan bebatuan besar di beberapa titik strategis, sehingga kendaraan maupun pejalan kaki tidak bisa melintas sama sekali.
Tak cuma itu, dampak longsor tidak hanya merusak infrastruktur umum, namun juga merugikan warga yang menggantungkan hidup di sektor pariwisata.
“Beberapa bangunan milik warga, terutama warung-warung makan dan tempat istirahat di sekitar jalur masuk, ikut terbawa arus material longsor," kata Suheri.
"Ini kerugian ekonomi yang besar bagi mereka, tapi kita bersyukur tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini,” jelasnya.
Hingga saat ini, ungkap Suheri, proses pengangkatan material longsor belum bisa dimulai. Kendala utama tak cuma pada kerusakan yang terjadi, melainkan kondisi medan yang terjal dan curam, serta cuaca yang belum bersahabat.
Ia menyebut, hujan dengan intensitas tinggi masih sering turun di wilayah selatan Bandung Barat, membuat kondisi tanah semakin jenuh air dan berisiko tinggi mengalami longsor susulan kapan saja.
“Kami terpaksa menunda pembersihan karena hujan masih sering turun deras. Jika kami memaksakan masuk ke lokasi saat kondisi tanah masih labil, tim petugas justru terancam bahaya," sebutnya.
"Penanganan harus menunggu cuaca membaik dan lereng dinyatakan stabil agar aman dikerjakan,” pungkasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti

