Alasan Rindu Orang Tua, Empat Siswa Sekolah Rakyat di KBB Mengundurkan Diri 

Empat siswa Sekolah Rakyat tingkat menengah pertama di Sentra Wiyata Guna Bandung, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) memilih untuk mengundurkan diri dari sekolah berasrama tersebut. 

Alasan Rindu Orang Tua, Empat Siswa Sekolah Rakyat di KBB Mengundurkan Diri 
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) KBB Idad Saadudin mengungkapkan, pengunduran diri keempat siswa Sekolah Rakyat tersebut terjadi pada September lalu. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Empat siswa Sekolah Rakyat tingkat menengah pertama di Sentra Wiyata Guna Bandung, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) memilih untuk mengundurkan diri dari sekolah berasrama tersebut. 

Alasannya, mereka mengemukakan tak mampu menahan rasa rindu mendalam terhadap orang tuanya masing-masing selama berada di Sekolah Rakyat.
 
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) KBB Idad Saadudin mengungkapkan, pengunduran diri keempat siswa Sekolah Rakyat tersebut terjadi pada September lalu. 

"Mereka mengundurkan diri dari Sekolah Rakyat dengan alasan tidak mau sekolah berasrama karena selalu ingat orang tuanya," kata Idad, Kamis 16 Oktober 2025.
 
Lebih lanjut, Idad menceritakan salah satu siswa bahkan memilih untuk kembali ke kampung halamannya dan menggembala domba. 

Padahal, pihak sekolah telah menawarkan untuk menyediakan domba bagi siswa tersebut jika ia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Rakyat.
 
"Pada intinya, keempat anak itu memilih keluar dari Sekolah Rakyat tak bisa dilepaskan dari kurangnya dukungan dari pihak orang tua sendiri. Meski sudah diberi pencerahan," jelasnya.
 
Idad menuturkan, pemerintah memiliki tujuan mulia dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat, yaitu memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan. 

Menurutnya, pendidikan diharapkan menjadi jembatan bagi para siswa untuk mengubah masa depan dan keluar dari lingkaran kemiskinan. Selain itu, Sekolah Rakyat juga bertujuan untuk membuka wawasan para siswa bahwa cita-cita mereka bukanlah sekadar mimpi.
 
"Tentunya ini menjadi sebuah tantangan bagi kami semua. Kita akan terus meningkatkan sosialisasi, meningkatkan kemampuan petugas saat rekrutmen calon siswa sehingga mau ikut Sekolah Rakyat, dan meningkatkan kemampuan wali asuh dan wali asrama menghadapi anak yang kondisinya mentalnya belum siap," tuturnya.
 
Kendati demikian, Idad memastikan bahwa keempat siswa yang mengundurkan diri tersebut telah digantikan oleh siswa cadangan, sehingga kuota 100 siswa Sekolah Rakyat tetap terpenuhi. 

"Para siswa baru tersebut juga telah menyelesaikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan kini telah mengikuti kegiatan belajar mengajar," ujarnya.

Idad tak memungkiri bahwa dalam pelaksanaan Sekolah Rakyat ini dihadapkan pada berbagai tantangan, terutama pada penyediaan lahan untuk pembangunan fasilitas pendidikan tambahan bagi Sekolah Rakyat. 

Namun, pemerintah pusat berencana untuk membangun fasilitas tersebut pada tahun ajaran 2026 dan seterusnya.
 
"Dibutuhkan lahan seluas 5 hektare untuk pembangunan fasilitas pendidikan tambahan yang akan dibiayai oleh pemerintah pusat pada tahun ajaran 2026," bebernya.

"Tanggung jawab kita di daerah adalah memastikan ketersediaan lahan agar program ini bisa terus berkelanjutan. Kami berharap ada dukungan konkret dari yang berwenang dalam penyediaan lahan. Pemerintah pusat sudah siap membantu pembangunan fisiknya," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani