Anggaran Minim, DLH Kabupaten Cirebon Mengelola Ribuan Ton Sampah per Hari

Masalah anggaran jadi kendala DLH Kabupaten Cirebon dalam mengelola sampah walaupun kini ada pendanaan internasional jadi salah satu solusi

Anggaran Minim, DLH Kabupaten Cirebon Mengelola Ribuan Ton Sampah per Hari
Keterbatasan anggaran sarana dan prasarana seperti alat berat jadi kendala penanganan sampah di Kabupaten Cirebon. (Maman Suharman)

INILAHKORAN.ID – Setiap pagi, sebelum aktivitas warga Kabupaten Cirebon benar-benar dimulai, sampah sudah lebih dulu menumpuk. Dari dapur rumah tangga, pasar, restoran, hingga kawasan perkotaan.

Timbunan sampah itu  terus bertambah, mencapai 1.200 ton per hari. Angka yang bukan sekadar statistik, melainkan cermin persoalan pelik yang dihadapi Kabupaten Cirebon.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono, tak menampik dan sepakat bahwa persoalan sampah bukan urusan sederhana. Di balik gunungan sampah, ada persoalan klasik yang membelit yaitu keterbatasan anggaran.

"Masalahnya bukan hanya volume sampah. Akar persoalannya ada di sarana dan prasarana yang belum memadai,” ujar Dede, Senin 2 Februari 2026.

Kekurangan Armada Pengangkut

Menurutnya, DLH saat ini hanya memiliki 65 armada truk pengangkut sampah. Padahal, idealnya Kabupaten Cirebon membutuhkan 120 armada untuk menjangkau seluruh wilayah pelayanan. Artinya, masih ada kekurangan 55 truk.

Namun persoalan tak berhenti di situ. Harga satu unit truk pengangkut sampah berada di kisaran Rp700 juta. Jika dikalikan 55 armada, kebutuhan anggaran mencapai Rp38,5 miliar, angka yang sulit diwujudkan di tengah keterbatasan APBD.

"Anggarannya cukup besar. Dibiayai dari APBD tidak akan mungkin," ungkapnya.

Belum lagi soal kontainer sampah. Saat ini DLH baru memiliki sekitar 450 kontainer, sementara kebutuhan ideal mencapai 600 unit. Artinya, masih kurang 150 kontainer. Tercatat,  harga satu kontainer sekitar Rp55 juta jadi total anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp8,25 miliar.

Di sektor alat berat aku Dede, kondisinya tidak kalah memprihatinkan. DLH masih mengandalkan beko lama yang kerap bermasalah. Untuk pengadaan empat beko baru, dibutuhkan anggaran sekitar Rp6 miliar.

"Jika semua kebutuhan itu dikalkulasikan, maka untuk memenuhi sarana dan prasarana dasar penanggulangan sampah, membutuhkan anggaran sekitar Rp50 miliar. Itu pun belum termasuk biaya operasional tahunan yang diperkirakan mencapai Rp60 miliar dalam satu tahun," papar Dede.

Pendanaan Internsional

Di tengah keterbatasan tersebut, secercah harapan muncul melalui program Solid Waste Management for Sustainable Urban Development. Program ini adalah pengelolaan sampah modern yang fokus pada pengurangan sampah dari sumbernya dan penguatan infrastruktur.

Program ini didukung oleh pendanaan internasional dan bertujuan mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan, ramah lingkungan, serta mendukung ekonomi sirkular di wilayah perkotaan.

Kegiatannya meliputi penyusunan Feasibility Study (FS), Readiness Criteria (RC), hingga Detailed Engineering Design (DED) untuk pembangunan Tempat Pengolahan sampah Terpadu (TPST). Program ini juga melibatkan kerja sama dengan berbagai pihak, di antaranya Alliance to End Plastic Waste (AEPW) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).

"Implementasinya diharapkan mampu memperkuat pengolahan sampah mulai dari skala rumah tangga, TPS3R, hingga TPA agar memiliki nilai ekonomi,” jelas Dede.

Gandeng Investor

Selain mengandalkan program tersebut, DLH juga membuka peluang kerja sama dengan investor. Jika ada pihak swasta yang bersedia mengelola sampah, maka beban DLH bisa berkurang, terutama dalam kondisi armada yang terbatas.

"Kalau pengelolaan ditangani investor, maka kami bisa lebih fokus pada pengangkutan. Risiko dan biaya pengolahan ditanggung investor," ucap Dede.

Dede menambahkan, masalah sampah di Kabupaten Cirebon memang belum menemukan solusi instan. Namun di antara keterbatasan anggaran dan sarana, upaya mencari jalan keluar terus dilakukan.

"Mudah mudahan kerjasama dengan investor baik penanganan di TPA Kubang Deleg dan Gunung Santri segera terealisasi," tukasnya. 


Editor : Ahmad Sayuti