Angka Kasus Pengidap TBC di Kota Bandung Hingga Juni 2024 Capai 4.800 Kasus

Angka kasus pengidap penyakit Tuberkolosis alias TBC di Kota Bandung menggila di tahun 2024. Menurut data Januari hingga Juni 2024, tercatat angka kasus penderita TBC menembus 4.800 kasus. Merespon kasus tersebut, Pemkot Bandung

Angka Kasus Pengidap TBC di Kota Bandung Hingga Juni 2024 Capai 4.800 Kasus
Penjabat (Pj) Wali Kota Bandung, Bambang Tirtoyuliono memastikan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus berupaya melalukan penanganan yang maksimal dalam kasus TBC alias Tuberkolosis. Hal ini menjadi penting, pasalnya kasus di Kota Bandung mulai Januari - Juni 2024 mencapai 4.800 kasus. (Foto Istimewa)

INILAHKORAN,Bandung-  Penjabat (Pj) Wali Kota Bandung, Bambang Tirtoyuliono memastikan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus berupaya melalukan penanganan yang maksimal dalam kasus TBC alias Tuberkolosis. Hal ini menjadi penting, pasalnya kasus di Kota Bandung mulai Januari - Juni 2024 mencapai 4.800 kasus.

Bambang pun menegaskan telah meminta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk menangani kasus tersebut. Bukan hanya soal penyembuhan saja, Bambang pun memastikan data secara realtime bisa diupdate, sehingga sebagai analisis untuk mengukur pencapaian. "Kita terus melakukan pencegahan. Mulai dari sanitasi hingga pola hidup bersih dan sehat terus disosialisasikan," kata Bambang via Zoom Meeting, Senin 8 Juli 2024.

Ia meminta OPD hingga kewilayahan perlu kolaborasi untuk menekan angka TBC ini. Konteks yang dihrapkan mulai dari penanganan hingga obat yang diberikan kepada penderita bisa dilakukan dengan maksimal. Sehingga lama waktu penyembuhan TBC sekitar 6 bulan itu bisa terpenuhi dan masuk data secara realtime.

Baca Juga : Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak, DP3A Kota Bandung Bentuk Forum Puspa

"Konteks ini harus dilakukan, kolaborasi antar dinas dan kewilayahan. Kita bisa melakukan pencegahan dengan terus meng-update data secara real time. Saya minta Sekda untuk melakukan koordinasi dengan baik terkait pencegahan," tegasnya.

Bambang mengatakan, para petugas yang melakukan pendampingan pun bisa terjadwal dengan baik. Seperti dari puskesmas dibantu jajaran kewilayahan untuk memastikan obat yang diberikan dikonsumsi dengan tepat waktu. "Upaya preventif bahkan juga promotif. Cek ke lapangan oleh setiap kader yang bertugas. Bila perlu lalukan sosialisasi kepada warga soal bahaya penyakit menular TBC ini," tuturnya.

Ia menambahkan, soal data pun perlu di update dengan maksimal, terpenting itu, Bambang tegaskan yakni by name by address. "Hasilnya data spasial. Sehingga camat, lurah, RT dan RW itu mudah untuk melakukan monitoring sebagai upaya intervensi," ujar Bambang.

Baca Juga : Pedagang Senang, Dagangannya Meningkat di Pasar Kreatif 2024

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesra, Asep Saeful Gufron menyampaikan, kasus dari awal tahun 2024 ini mencapai 4.800 hingga bulan Juni 2024. Kendati demikian, jika dilakukan upaya secara masif terdapat hasil yang signifikan dalam penyembuhan yang terkena TBC.

Halaman :


Editor : Ghiok Riswoto