Asa Tertinggal Pekerja Lokal
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Maman Suharman
BERDIRINYA pabrikpabrik baru di Kabupaten Cirebon belum sepenuhnya merangkul tenaga kerja lokal. Masih ada jarak menganga antara deru investasi dengan dapur-dapur wargal.
Bagi Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Cirebon, Nurholis, angkaangka positif itu belum sepenuhnya sejalan dengan realita yang ada.
Dia mendapati sebuah anomali tentang perkembangan sektor industri yang belum mampu menghadirkan akses pekerjaan terutama bagi masyarakat berpendidikan rendah.
“Pertumbuhan industri belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja lokal.” ungkapnya, Selasa (25/8).
Sebenarnya, pemerintah daerah telah mendapatkan angin segar dengan berdirinya kawasan industri. Berdasarkan data, sektor manufaktur di Kabupaten Cirebon menopang lebih dari 160.000 jiwa, dan proyeksi investasi baru seperti pabrik alas kaki digadanggadang mampu mendongkrak perekonomian regional.
Namun tetap saja, Nurholis menangkap sebuah ironi. Di balik megahnya papan nama perusahaan asing dan deretan truk kontainer yang keluarmasuk gerbang tol, ada cerita lain yang berdenyut pelan di teras-teras rumah warga.
Menurutnya, kendala utama terkait akses pekerjaan bagi masyarakat sekitar adalah soal latar belakang pendidikan masyarakat.
“Salah satu kendalanya adalah keterbatasan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan pendidikan masyarakat.” ucapnya.
Menurut Nurholis, masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki pilihan pekerjaan yang lebih terbatas. Kondisi tersebut semakin menjadi tantangan ketika perusahaan menetapkan kualifikasi tertentu dalam proses penerimaan tenaga kerja.
“Masyarakat berpendidikan rendah memiliki pilihan pekerjaan yang lebih terbatas.” ujarnya.
Di sisi lain, peningkatan jumlah industri di Kabupaten Cirebon diharapkan dapat diikuti dengan perluasan kesempatan kerja bagi masyarakat lokal.
Keberadaan industri diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat langsung melalui penyerapan tenaga kerja.
“Pertumbuhan industri harus diikuti dengan perluasan kesempatan kerja bagi masyarakat lokal,” tegasnya.
Dia menambahkan, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dan dunia usaha untuk memperkuat keterkaitan antara kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja lokal.
Penyesuaian tersebut dinilai penting agar masyarakat Kabupaten Cirebon memiliki peluang yang lebih besar untuk masuk ke dunia kerja.
“Kebutuhan tenaga kerja harus disesuaikan dengan kompetensi masyarakat lokal.” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, mengatakan peningkatan investasi harus berjalan seiring dengan bertambahnya penyerapan tenaga kerja.
Menurutnya, sektor manufaktur saat ini menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat Kabupaten Cirebon. Berdasarkan data Disnaker, sekitar 160 ribu orang menggantungkan pekerjaannya pada sektor manufaktur.
“Harapannya, sebanyak mungkin investasi di kita bisa menyerap tenaga kerja di kita,” katanya.
Novi mengatakan penyerapan tenaga kerja sektor manufaktur tersebar di wilayah barat dan timur Kabupaten Cirebon. Namun, perkembangan kawasan industri yang sesuai dengan tata ruang saat ini lebih banyak mengarah ke wilayah timur.
“Yang tumbuh berkembang sesuai tata ruangnya adalah di wilayah timur,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, salah satu perusahaan asal China yang saat ini tengah memproses pembangunan di Kabupaten Cirebon bergerak di sektor industri alas kaki. Berdasarkan informasi dari pihak manajemen, perusahaan tersebut diproyeksikan membutuhkan sekitar 20.000 pekerja.
“Beberapa minggu kemarin juga Alhamdulillah, salah satu perusahaan dari China sedang memproses pembangunan. Salah satunya industri alas kaki, kurang lebih mungkin 20.000 pekerja, disampaikan oleh pihak manajemen,” katanya.
Novi menilai investasi tersebut dapat memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat Kabupaten Cirebon.
Pemerintah daerah, kata dia, berkepentingan memastikan pertumbuhan industri turut memberikan manfaat bagi tenaga kerja lokal. (bsf)
Editor : Inilahkoran

