Bandara Husein Dibuka, Ribuan Turis Datang: Menata Mimpi usai Reaktivasi
REAKTIVASI Bandara Husein Sastranegara kembali menghidupkan urat nadi pariwisata dan ekonomi kreatif di Jawa Barat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Angka-angka itu memunculkan optimisme baru. Sejak Bandara Husein kembali dibuka untuk penerbangan komersial pada pertengahan Agustus 2026 lalu, atmosfer positif terus tumbuh.
Sebanyak 15.664 penumpang telah mendarat, dengan 8.012 diantaranya merupakan wisatawan yang membawa asa dan senyum untuk menikmati keindahan Tatar Pasundan.
Bagi para pelancong yang terbang dari Denpasar (menyumbang 3.524 orang), Medan, Balikpapan, hingga Surabaya, mendarat di Husein bukan sekadar turun dari pesawat.
Ini adalah awal dari aroma kuliner hangat, sejuknya udara Bandung, dan keramahan lokal yang telah lama dirindukan.
Gelombang kedatangan ini seketika menghidupkan kembali denyut ekonomi warga sekitar; kamar-kamar hotel di kawasan Bandung Raya kini kembali riuh dengan lonjakan okupansi hingga 35 persen setiap akhir pekannya, sementara aroma kopi di sudut-sudut restoran kembali mengepul menyambut tamu.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan, melihat kebangkitan ini lebih dari sekadar angka statistik pergerakan manusia. Bagi Iendra, bandara adalah pelukan pertama yang menyambut tamu sebelum mereka mengenal lebih jauh keelokan Jawa Barat.
"Bandara bukan sekadar tempat datang dan pergi. Ini adalah pintu masuk yang pertama kali menyambut wisatawan. Karena itu, Bandara Husein perlu memiliki karakter dan identitas budaya yang kuat sehingga wisatawan dapat langsung merasakan sesuatu yang khas dari Jawa Barat," ungkap Iendra, Senin (31/8).
Iendra juga mendorong para pelaku perjalanan wisata untuk menyusun paket wisata yang menghubungkan Bandara Husein, dengan berbagai destinasi di luar Bandung Raya.
Langkah itu dinilai penting, agar peningkatan kunjungan tidak hanya terpusat di wilayah Bandung Raya, tetapi turut memberikan dampak ekonomi bagi kabupaten/kota lain di Jawa Barat.
Dengan konektivitas udara yang semakin terbuka, sektor pariwisata, budaya, hingga ekonomi kreatif di daerah diharapkan ikut berkembang dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Selain mendongkrak sektor wisata, reaktivasi Bandara Husein Sastranegara juga menjadi peluang bagi penguatan perdagangan dan logistik Jawa Barat.
Kedepan, bandara tersebut diharapkan mampu mendukung pengiriman kargo serta mempercepat distribusi produk unggulan Jawa Barat, sehingga aktivitas ekonomi antardaerah dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Perkuat Citra Sementara itu,D inas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung terus memperkuat citra pariwisata di Bandara Internasional Husein Sastranegara seiring kembali beroperasinya penerbangan komersial.
Kepala Disbudpar Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa mengatakan penguatan branding dilakukan melalui kolaborasi antara Pemerintah Kota Bandung, pengelola bandara, dan pihak swasta.
“Pemerintah Kota Bandung kolaborasi dengan bandara, ada pihak swasta juga. Kita dari kami cukup intensif untuk me-branding Kota Bandung. Tentunya ini belum tuntas, terus akan kita makin matangkan,” ujar Adi di Bandung, Senin (31/8).
Menurut Adi, Bandara Husein Sastranegara memiliki posisi strategis sebagai salah satu pintu masuk wisatawan ke Kota Bandung sehingga identitas kota perlu diperkenalkan sejak penumpang tiba di bandara.
Ia menyebut salah satu elemen branding tersebut diwujudkan melalui penggunaan ornamen dan visual yang merepresentasikan pariwisata Kota Bandung di area tunggu penumpang.
Ia menambahkan terdapat juga layar LED berukuran panjang sekitar 10 meter yang menampilkan berbagai pesan bernuansa Bandung, termasuk ungkapan khas seperti “wilujeng landing” dan “sampurasoon”.
“Yang menjadi ikon itu di sana sudah ada tempat duduk kemudian ada kabin. Itu khas. Apalagi dengan LED yang panjang sampai 10 meter dan menampilkan kata-kata yang Bandung,” katanya.
Adi mengatakan ornamen visual di bandara tersebut juga mengangkat karya seni yang dibuat oleh penyandang disabilitas bernama Muhammad Syafiq atau yang akrab disapa Oki.
Ia menambahkan karya tersebut memiliki nilai yang kuat untuk ditampilkan di bandara karena tidak hanya berkaitan dengan seni, tetapi juga membawa pesan inklusivitas.
“Dibuatnya juga oleh difabel. Kalau buat Pak Wali, Bandung itu kota inklusif, kota yang sangat terbuka. Siapa pun bisa memberikan kontribusi buat Kota Bandung,” kata Adi. (bsf)
Editor : Inilahkoran

