Perkuat Pelayanan Publik: Menata Kota Menjaga Asa
BOGOR menata wajahnya. Kawasan stasiun hingga jalur protokol disiapkan menjadi ruang kota yang lebih terintegrasi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Rizki Mauludi
Pagi di Kota Bogor tak pernah benar-benar sederhana. Di antara arus kendaraan, langkah penumpang kereta, pedagang yang membuka lapak, hingga wisatawan yang datang pada akhir pekan, ruang kota terus bergerak mengikuti kebutuhan warganya.
Di tengah denyut itu, Pemerintah Kota Bogor mulai menyiapkan wajah baru sejumlah kawasan strategis. Penataan tidak hanya menyasar ruang terbuka dan jalur protokol, tetapi juga kawasan Stasiun Bogor yang menjadi salah satu pintu utama keluar-masuk warga dan wisatawan.
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan, penguatan pelayanan publik berjalan beriringan dengan penataan kota. Hal itu disampaikannya saat memimpin apel bersama jajaran Pemkot Bogor di kantor Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor, Senin (31/8).
Sejumlah agenda penataan menjadi perhatian. Mulai dari jalur hijau, Pedagang Kaki Lima (PKL), jalur protokol, penguatan park ranger, perlintasan sebidang Jalan MA Salmun, hingga rencana mengintegrasikan kawasan Alun-alun dengan Stasiun Bogor.
Untuk jalur hijau, Dedie melihat momentum saat ini sebagai waktu yang tepat untuk melakukan pergantian tanaman. Pohon yang dipilih pun diharapkan bukan sekadar penghijauan, tetapi mampu mempercantik wajah kota.
Sementara itu, perhatian besar diarahkan ke kawasan Stasiun Bogor. Pemkot Bogor bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana menyusun nota kesepahaman untuk menata kawasan yang membentang dari Jalan MA Salmun, Mayor Oking, Kapten Muslihat, Alun-alun, Dewi Sartika, hingga Nyi Raja Permas.
Penataan kawasan tersebut ditargetkan mulai berjalan pada 2027. Rencananya, pemerintah kota akan mengintegrasikan perencanaan bersama PT KAI dan Balai Besar Teknik Perkeretaapian Jawa Barat agar Stasiun Bogor dapat berkembang sebagai salah satu hub utama perkeretaapian.
Rencana itu tidak berhenti pada penataan ruang. Ada pula gagasan memperkuat konektivitas perjalanan kereta melalui jalur Sukabumi–Cianjur–Padalarang via Stasiun Paledang serta perpanjangan relasi Commuter Line hingga Cigombong.
Jika konektivitas tersebut terealisasi, Stasiun Bogor dan Paledang berpotensi memainkan peran yang lebih besar dalam jaringan transportasi. Arus penumpang yang datang ke kota pun diharapkan tidak sekadar melintas, tetapi ikut menggerakkan ekonomi lokal.
Potensi itu terlihat dari jumlah penumpang kereta pada akhir pekan. Dedie menyebut rata-rata penumpang yang datang ke Bogor pada Sabtu dan Minggu mencapai 163.000 orang. Angka tersebut menjadi catatan tertinggi dalam sejarah.
Jumlah itu sekaligus menghadirkan pekerjaan rumah. Semakin banyak orang datang, semakin besar pula kebutuhan terhadap tata kelola ruang, lalu lintas, kebersihan, dan kenyamanan.
Karena itu, Pemkot Bogor berencana menjadikan Jalan Dewi Sartika sebagai salah satu jalur protokol utama. Langkah tersebut diharapkan memberikan ruang yang lebih baik untuk rekayasa lalu lintas ketika kota menjadi lokasi berbagai kegiatan besar.
Penataan juga menyentuh aktivitas perdagangan. PKL yang berada di Jalan Dewi Sartika direncanakan direlokasi ke kawasan Jalan Nyi Raja Permas. Sementara penutupan perlintasan sebidang kereta api di Jalan MA Salmun akan dilakukan bertahap mulai tahun ini hingga 2027. (gin)
Editor : Inilahkoran

