Kerasnya Hidup, Kisah Dafa Gelandangan Kecil di Alun-alun Banjaran Bandung

emiskinan yang melilit kehidupan keluarganya, memaksa Dafa Radiansyah bocah berusia 10 tahun harus hidup menggelandang di jalanan.

Kerasnya Hidup, Kisah Dafa Gelandangan Kecil di Alun-alun Banjaran Bandung
Dafa bocah asal banjaran rela putus sekolah saat masih duduk di kelas 5 dan memilih hidup dijalanan bersama teman-temannya
INILAHKORAN, Bandung- Kemiskinan yang melilit kehidupan keluarganya, memaksa Dafa Radiansyah bocah berusia 10 tahun harus hidup menggelandang di jalanan.
 
Kerasnya kehidupan jalanan yang tak pantas dijalani oleh anak-anak pun menjadi bagian dari kehidupannya.
 
Bocah berkulit legam berbaju sweater hitam dan celana panjang merah kumal. Kakinya yang kotor beralaskan sendal spon butut biru dongker itu, berjalan di sekitaran Alun-alun Kecamatan Banjaran.
 
 
Meski berpakaian kumal dengan badan penuh daki karena jarang mandi, potongan rambut cukup trendi, dicat warna biru dongker keabu-abu an. Sesekali ia mengadahkan tangan kecilnya yang berdaki itu, meminta sedekah kepada siapa orang-orang yang ada disekitar tempat itu.
 
"Saya sudah sekitar dua tahun keluar dari rumah. Bapak saya sudah meninggal, ibu di rumah sama tiga orang adik. Jadi pemulung dan pengemis karena enggak punya uang untuk makan," kata Dafa saat ditemui di Alun-alun Banjaran Kabupaten Bandung, 23 Februari 2022.
 
Karena tak punya uang, Dafa putus sekolah saat masih duduk di kelas 5 dan memilih hidup dijalanan bersama teman-temannya. Sehari-hari ia menjadi pemulung barang rongsokan merangkap menjadi pemulung bersama seorang temannya yang usianya jauh diatasnya.
 
 
"Setiap hari yah keliling saja di Banjaran dan Soreang. Kalau malam biasanya tidur di WC umum sama teman-teman," ujarnya.
 
Kehidupan jalanan yang keras pun terpancar dari raut wajah dan sorot matanya yang liar. Tutur katanya yang kasar seperti orang dewasa pun biasa terucap dari mulut mungilnya. Ironisnya, barang haram memabukan seperti minuman keras dan "ngelem" atau menghirup aroma lem sintetis untuk mendapatkan efek memabukan pun akrab dalam kehidupan ia dan kawan-kawannya yang rata-rata masih anak-anak dan remaja.
 
Ini juga terlihat dari kotoran sisa-sisa lem yang menempel di kerah bajunya. Bahkan, di saku celananya menyembul kalem kecil berisi lem sintetis.
 
 
"Teman-teman mah ada yang suka minum (minum-minuman keras). Kalau saya mah enggak suka, saya mah sukanya cuma ngelem ajah," ucap Dafa dengan polosnya.
 
Dafa bercerita jika bapaknya yang telah meninggal dunia, sedangkan ibunya yang bernama Nia ada di rumah mengurus tiga orang adiknya yang masih kecil-kecil. Karena kemiskinan, dan tak terperhatikan dengan baik oleh orang tuanya, ia pergi dari rumah dan hidup terlunta-lunta di jalanan. Kehidupan jalanan itu, ia lakoni sudah sekitar dua tahun. Ia mengaku rumah atau kampung halamannya di daerah Cangkring.
 
"Mau pulang kerumah juga takut dimarahi sama ibu. Lebih enak seperti ini, bebas enggak ada yang marah," katanya.(rd dani r nugraha).***
 
 


Editor : inilahkoran