Pilu! Ibu dan Anak Korban Pembacokan di KBB Tertahan di RSHS karena Urusan Biaya

Siti Saidah dan putranya Nasar harus tertahan di RSHS usai menjalani perawatan akibat dibacok ibu kandungnya sendiri.

Pilu! Ibu dan Anak Korban Pembacokan di KBB Tertahan di RSHS karena Urusan Biaya
Korban pembacokan di Gunung Halu harus tertahan di RSHS usai menjalani serangkaian perawatan intensif.

INILAHKORAN, Bandung- Nasib pilu kembali dialami Siti Saidah (25) dan putranya Nasar (9) bulan, korban pembacokan ibu kandungnya sendiri A (62) di Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Siti Saidah dan Nasar yangmerupakan warga Kampung Celak Kidul, Desa Celak, Kecamatan Gununghalu, itu dilarikan ke RSHS Bandung usai dibacok ibu kandungnya sendiri.

Usai menjalani penanganan medis di RSHS Bandung, Siti Saidah dan Nasar tak bisa pulang alias tertahan lantaran proses administrasi pembayaran yang belum usai.

Baca Juga: Jadi Kader Golkar, Sahrul Gunawan Ancaman Dadang Supriatna di Pilkada 2024

Sekretaris Desa Celak, Ayi Safari mengatakan, sejak Senin 15 Maret 2022 kemarin sebenarnya sudah memberikan kabar bisa pulang ke rumah.

Namun karena terganjal administrasi biaya yang belum dibayar keduanya sempat tertahan.

"Jadi baru pulang Rabu 16 Maret 2022 malam," katanya kepada wartawan.

Ia menuturkan, selama 10 hari di rawat di RSHS Bandung Siti Saidah totalnya mendapatkan 100 jahitan untuk semua lukanya.

"Sementara sang anak jahitannya lebih sedikit karena lukanya hanya dibagian pelipis pipi saja," tuturnya.

Baca Juga: Vokalis Sisitipsi MFL Sempat Konsumsi Kopi Campur Ganja di Bekasi Sebelum Ditangkap

Untuk biaya rumah sakit, sebut dia, totalnya mencapai sekitar Rp85 juta. Sekitar Rp50 juta sudah dibayar oleh donasi dari Yayasan KitaBisa, sementara sisanya Rp35 juta saat itu masih bingung uangnya darimana.

"Apalagi keluarga korban secara ekonomi kurang mampu sehingga tidak mungkin harus menyediakan uang sebanyak itu," sebutnya.

Ia mengaku, ternyata baru mengetahui jika korban penganiayaan ternyata tidak bisa dicover oleh pembiayaan dari BPJS Kesehatan atau program Masyarakat Miskin (Maskin).

Menurutnya, pihak keluarga kesulitan mencari donasi, lalu ke sana ke mari meminta bantuan yang akhirnya kondisi itu terdengar oleh anggota DPRD KBB dari Fraksi PKS Nur Djulaeha.

Baca Juga: Sandiaga Uno Dukung Penerapan Swakelola SBM ITB

"Akhirnya ada bantuan dari beliau (Bu Nur) sehingga ibu dan anak itu bisa pulang dari rumah sakit. Namun sang ibu kondisi kejiwaannya seperti yang masih tertekan sehingga masih sulit diajak komunikasi," tuturnya.

Ia menjelaskan, saat ini keduanya menetap di rumah kakaknya, Suparman yang tidak jauh dari rumah yang jadi tempat kejadian perkara.

"Rumah tersebut saat ini masih diberi garis polisi dan kondisinya masih sama seperti awal kejadian karena bercak dan ceceran darah belum dibersihkan, mengingat informasinya pihak kepolisian akan melakukan olah TKP lanjutan," jelasnya.

Sementara itu, Adik dari pelaku A, Fatah (48) berharap agar polisi segera membuka garis polisi di rumah tersebut. Sebab keluarga dan tetangga ingin membersihkan kondisi rumah dan darah yang masih berceceran supaya bisa menghilangkan kesan angker.

Baca Juga: Ahli Forensik Indonesia Turut Ungkap Hasil Analisis Jenazah Tangmo Nida

"Keluarga inginnya rumahnya segera dibersihkan, dicat lagi. Kalau sekarang hawanya serem, bahkan kalau magrib udah jarang warga yang lewat sini," kata pria yang rumahnya berjarak sekitar 10 meter dari TKP ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, aksi pembacokan yang dilakukan A (62) menggemparkan warga Kampung Celak Kidul RT 03/08, Desa Celak, Kecamatan Gununghalu, KBB, Senin 7 Maret 2022.

Akibat peristiwa tersebut suami pelaku, Pandi (63) tewas dengan luka bacok. Sementara anak pelaku, Siti Saidah (25) dan cucunya Nasar (9 bulan) selamat dan harus dirawat di rumah sakit.***(agus satia negara).


Editor : inilahkoran