Bandung Siapkan Armada Menuju Legok Nangka
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yogo Triastopo
INILAH, Bandung - Setiap pagi, ratusan truk sampah meninggalkan sudut-sudut Kota Bandung menuju Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Sarimukti. Perjalanan itu telah berlangsung bertahun-tahun. Namun, beberapa tahun lagi, arah laju kendaraan-kendaraan itu akan berubah.
Kota Bandung mulai bersiap memasuki babak baru pengelolaan sampah. Ketika TPPAS Legok Nangka ditargetkan beroperasi pada 2029, seluruh pengiriman sampah secara bertahap akan dialihkan ke fasilitas baru tersebut.
Perubahan itu bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan awal dari sistem pengelolaan yang diharapkan lebih modern dan berkelanjutan.
Di balik rencana itu, berbagai persiapan mulai dilakukan. Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Salman Faruq, mengatakan transisi dari Sarimukti menuju Legok Nangka harus dipersiapkan sejak sekarang agar berjalan tanpa hambatan.
“Target pengiriman ke Legok Nangka sudah menjadi komitmen bersama. Karena itu, sejak sekarang kami menyiapkan kebutuhan pendukung mulai dari armada hingga sistem pengelolaan agar sampah yang dikirim memenuhi standar operasional,” katanya, Selasa (4/8).
Setiap hari, sekitar 800 hingga 1.000 ton sampah diproyeksikan akan dikirim ke Legok Nangka. Namun, yang diberangkatkan bukan lagi seluruh sampah dari rumah tangga. Hanya sampah residu yang telah melewati proses pemilahan sehingga fasilitas pengolahan dapat bekerja lebih efektif.
“Yang masuk ke sana harus sudah melewati proses pemilahan. Kami ingin sampah yang dikirim benar-benar residu, sehingga tidak ada kendala saat diterima di lokasi pengolahan,” ujar Salman.
Persiapan juga menyentuh urusan yang tampak sederhana, tetapi sangat menentukan, yakni armada pengangkut. Jalan menuju Legok Nangka memiliki karakter berbeda dengan rute menuju Sarimukti. Tanjakan yang panjang menuntut kendaraan dengan tenaga lebih besar dan kondisi yang benar-benar prima.
Karena itu, armada yang disiapkan bukan sekadar truk biasa. Kendaraan harus menggunakan sistem tertutup atau compactor agar sampah tidak tercecer selama perjalanan, bau dapat diminimalkan, dan air lindi tidak mencemari lingkungan.
“Karakter jalan menuju Legok Nangka berbeda dengan lokasi pembuangan sebelumnya. Karena itu kendaraan harus kuat dan memenuhi standar, terutama dari sisi sistem pengangkutan tertutup,” katanya.
(gin)
Editor : Inilahkoran


