Bangku Kelas Kian Kosong

Bangku Kelas Kian Kosong
DALAM KAJIAN: Kepala Disdik Kotim Yolanda Lonita Fenisia mengkaji sejumlah langkah penanganan terhadap sekolah yang minim peserta didik.

INILAH, Kotim - Suara riuh murid yang biasanya memenuhi ruang kelas perlahan mulai berkurang di sejumlah sekolah di Kabupaten Kotawaringin Timur. Ada sekolah yang hanya menerima segelintir peserta didik baru, bahkan di satu wilayah, jumlah lulusan PAUD tahun ini hanya empat anak.

Kondisi itu membuat Dinas Pendidikan (Disdik) Kotawaringin Timur mulai mencari jalan terbaik agar layanan pendidikan tetap berjalan tanpa mengorbankan hak anak untuk belajar.

Kepala Disdik Kotim Yolanda Lonita Fenisia mengatakan, pihaknya telah meninjau langsung sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan peserta didik. Hasilnya akan dibahas lebih lanjut sebelum pemerintah menentukan langkah yang akan diambil.

"Kami sudah melakukan peninjauan ke lapangan terkait sekolah yang minim murid dan ini akan kami tindak lanjuti dulu dengan rapat bersama, karena itu perlu penanganan secara khusus," katanya, seperti dikutip dari ANTARA.

Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah regrouping atau penataan ulang satuan pendidikan. Namun, Yolanda menegaskan langkah tersebut bukan berarti menutup sekolah, melainkan menggabungkan layanan pendidikan ke sekolah lain yang dinilai lebih efektif sehingga proses belajar mengajar tetap berlangsung optimal.

Menurutnya, kebijakan itu tidak bisa diambil secara terburu-buru. Pemerintah harus mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari status aset sekolah hingga penempatan tenaga pendidik agar tidak menimbulkan persoalan baru.

"Kami harus melihat lagi dari sisi aset bagaimana, kemudian tenaga pengajarnya bagaimana. Karena itu kami tidak bisa langsung memutuskan apakah harus regrouping atau mengambil langkah lain," ujarnya.

Berdasarkan hasil pemantauan sementara, Disdik menemukan dua sekolah dengan jumlah peserta didik baru yang sangat minim, masing-masing berada di Kecamatan Kota Besi dan Kecamatan Cempaga. Namun, jumlah tersebut masih dapat berubah karena pemerintah menunggu pembaruan data melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik) setelah pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) berakhir.

Yolanda mengungkapkan, minimnya murid tidak selalu mencerminkan kualitas sekolah. Di wilayah Camba, Kecamatan Cempaga, misalnya, jumlah anak usia sekolah memang terus berkurang. Tahun ini, lembaga PAUD di kawasan tersebut hanya meluluskan empat anak.

"Setelah kami survei di Camba, memang jumlah anak usia sekolah di sana sedikit. PAUD tahun ini hanya meluluskan empat anak. Jadi itu juga menjadi pertimbangan kami sebelum mengambil keputusan," katanya. (gin)


Editor : Inilahkoran