Sekolah Rakyat Angkat Martabat

DARI ruang-ruang sederhana lahir mimpi yang kembali tumbuh. Sekolah Rakyat kini mulai menuai ratusan prestasi dari para siswanya.

Sekolah Rakyat  Angkat Martabat
RAIH PRESTASI: Menteri Sosial Saifullah Yusuf saat Open House dan MPLS di Sekolah Rakyat Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (1/8). Menurut Gus Ipul, sepanjang 2025 siswa Sekolah Rakyat telah meraih empat prestasi tingkat internasional, 674 tingkat nasional, 71 tingkat regional, 513 tingkat provinsi, 842 tingkat kabupaten/kota, 89 tingkat kecamatan, dan 1.347 tingkat sekolah.

Setahun lalu, banyak anak datang ke Sekolah Rakyat dengan membawa cerita yang nyaris sama. Sebagian pernah putus sekolah, sebagian lain tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi. 

Kini, mereka mulai menulis kisah baru melalui prestasi yang diraih, dari tingkat daerah hingga panggung internasional.

Perubahan itu disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf saat menghadiri Open House dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Sukoharjo, Jawa Tengah. Menurutnya, perjalanan satu tahun Sekolah Rakyat telah menunjukkan hasil yang menggembirakan.

"Alhamdulillah, selama satu tahun beroperasi, sudah ratusan prestasi yang ditorehkan oleh siswa Sekolah Rakyat. Ada prestasi tingkat daerah, tingkat provinsi, tingkat nasional, dan ada juga prestasi di tingkat internasional," kata Gus Ipul, sapaan Saifullah Yusuf, seperti dikutip dari ANTARA, Senin (3/8).

Data Kementerian Sosial mencatat, sepanjang 2025 siswa Sekolah Rakyat berhasil meraih empat prestasi tingkat internasional, 674 tingkat nasional, 71 tingkat regional, 513 tingkat provinsi, 842 tingkat kabupaten/kota, 89 tingkat kecamatan, dan 1.347 prestasi di tingkat sekolah.

Namun, bagi Gus Ipul, perubahan terbesar bukan hanya soal banyaknya penghargaan yang diraih. Ia melihat anak-anak yang sebelumnya nyaris kehilangan harapan kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, optimistis, dan disiplin.

"Banyak sekali Bapak-Ibu sekalian dari anak-anak yang sebelumnya putus harapan dan sekarang mereka sudah berprestasi," ujarnya.

Perubahan itu terlihat saat siswa angkatan pertama menyambut peserta didik baru dalam kegiatan MPLS. Mereka tampil percaya diri di atas panggung melalui baris variasi, pencak silat, drama musikal, paduan suara, pembacaan puisi, hingga pidato dalam bahasa Inggris, Arab, Mandarin, dan Korea.

Suasana menjadi semakin haru ketika salah seorang siswa membacakan puisi berjudul Dari Jamu Nguter dan Gamelan Wirun Kami Belajar. 

Gus Ipul dan para tamu yang hadir tampak tak kuasa menahan air mata. Penampilan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa kesempatan belajar mampu mengubah rasa minder menjadi keberanian untuk tampil.

Di antara para orang tua yang hadir, Mulyadi menjadi salah satu yang paling bersyukur. Sejak 2002, dia bekerja sebagai juru kunci makam dengan penghasilan sekitar Rp350 ribu per bulan. 

Penghasilan itu sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Putrinya, Khustimah, bahkan sempat berhenti sekolah selama setahun dan ikut membantu membersihkan makam demi menambah penghasilan keluarga. Kini, Khustimah kembali mengenakan seragam sekolah setelah diterima di Sekolah Rakyat Sukoharjo.

"Ya anak saya biar bisa masuk sekolah sini kan, biar bisa neruskan sekolahnya, biar bisa bantu, besok kalau sudah lulus, biar membantu orang tuanya gitu," kata Mulyadi.

Bagi pemerintah, keluarga seperti Mulyadi menjadi alasan mengapa Sekolah Rakyat dihadirkan. Program ini diharapkan mampu menjangkau keluarga yang selama ini belum tersentuh layanan pendidikan secara optimal, sekaligus menjadi jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan. (gin)


Editor : Inilahkoran