Banyak dari Palestina, PBB Laporkan Kekerasan Seksual saat Konflik Naik di 2025
PBB melaporkan kasus kekerasan seksual di tengah konflik terus meningkag di tahun 2025 dan banyak korban dari Palestina.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - kekerasan seksual di tengah konflik yang terus berlangsung, ternyata bertambah setiap tahunnya.
Jumlah kasus kekerasan seksual terkait konflik yang terverifikasi meningkat lebih dari dua kali lipat secara global pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Pernyataan ini dilaporkan langsung oleh pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada Jumat, 29 Mei 2026.
"Kasus kekerasan seksual terkait konflik yang terverifikasi oleh PBB pada 2025 meningkat tajam dari 2024, ditandai dengan kebrutalan ekstrem, dan sebagian besar menargetkan perempuan dan anak perempuan," ungkap laporan tahunan sekretaris jenderal PBB itu.
Menurut laporan tersebut, sebanyak 9.788 kasus kekerasan seksual terkait konflik terdokumentasi pada tahun 2025, dua kali lipat lebih dari angka di tahun 2024, yang tercatat sebanyak 4.617 kasus.
Kasus-kasus kekerasan seksual terkait konflik seharusnya tidak dipahami sebagai gambaran keseluruhan, karena sebagian besar pelanggaran tersebut tetap tidak terungkap dan tidak dilaporkan ketika konflik yang berkelanjutan, kerawanan, dan pembatasan akses kemanusiaan terus menghambat pelaporan dan dokumentasi.
Hal ini juga diperparah oleh pengurangan misi dan pemangkasan anggaran di mana kapasitas khusus di bidang gender dan perlindungan perempuan seringkali menjadi yang pertama dikurangi.
Sebanyak 77 pihak, yang mencakup aktor negara maupun non-negara, tercantum dalam daftar kasus kekerasan seksual terkait konflik di dalam laporan tahunan ke-17 tersebut, yang mencakup 21 negara terdampak konflik dan informasinya telah diverifikasi oleh PBB.
Dua aktor negara baru dimasukkan ke dalam daftar tersebut, yakni angkatan bersenjata dan pasukan keamanan Israel, serta angkatan bersenjata dan pasukan keamanan Rusia.
Tiga aktor non-negara baru yang beroperasi di Republik Demokratik Kongo juga muncul dalam laporan tersebut.
Kasus-kasus kekerasan seksual pada tahun 2025 yang terdokumentasi sebagai taktik perang, penyiksaan, terorisme, dan represi politik meningkat tajam, sementara berbagai krisis politik, keamanan, dan kemanusiaan yang saling tumpang tindih terus memburuk.
Warga sipil telah menjadi sasaran pemerkosaan, pemerkosaan berkelompok, penculikan, dan perbudakan seksual oleh aktor negara maupun non-negara.
kekerasan seksual dilakukan di tempat penahanan di berbagai tempat, seperti di Israel dan Negara Palestina, Rusia, dan Ukraina, papar laporan tersebut.***
Editor : Irma Nurfajri


