Sikap Kami: Bau Sampah

Penjabat Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin memiliki tugas penting dalam menuntaskan persoalan sampah. Mulai dari penerapan teknologi pengolahan Sampah, hingga memastikan TPPAS Lulut Nambo dan Legok Nangka dapat beroperasi. Pj Gubernur Jabar juga harus memastikan investasi berjalan mulus dan jika bisa mempercepatnya.

Sikap Kami: Bau Sampah
Tumpukan sampah di TPA Sarimukti

MENGURUS persoalan sampah itu tidak mudah. Dia nyaris tak terlihat, hanya tercium. Dia pun bukan urusan yang bisa mengangkat popularitas politisi. Tapi, dia persoalan urgen untuk masyarakat.

Karena persoalan menyeluruh masyarakat, maka dia tak bisa dibereskan sendiri. Tak hanya oleh Pemprov Jawa Barat, tapi juga pemerintah kabupaten/kota. Tak kecil pula peran masyarakat.

Salah satu persoalannya justru ada di satu. Semua pihak muncul dengan ego masing-masing. TPPAS Lulut Nambo, misalnya, Begitu alot pembahasannya. 

Dia berlokasi di Kabupaten Bogor, tapi empunya program adalah Pemorov Jabar. Pemkab Bogor minta keringanan tipping fee, diskusinya pun kemudian jadi alot.

Sampai sekarang, Lulut Nambo belum juga beroperasi. Padahal, dia dibutuhkan untuk memroses sampah dari tiga wilayah, Kabupaten dan Kota Bogor, serta Kota Depok.
Pun TPPAS Legok Nangka di perbatasan Kabupaten Bandung-Garut. 

Sudah begitu lama direncanakan. Tapi, eksekusinya selalu molor. Padahal, dia akan menggantikan TPAS Sarimukti yang masa beroperasinya tak lama lagi dan kini tersengau karena bencana.

Persoalan sampah, setidaknya bisa diatasi pada dua hal: kultur dan teknologi. TPA, TPAS, TPPAS, hanyalah sebuah sarana. Tanpa perubahan kultur dan kemajuan teknologi, tempat-tempat itu suatu saat akan penuh sampah juga.

Sejatinya, sudah mulai terjadi perubahan kultur masyarakat dalam pengelolaan sampah. Dulu, tak sedikit warga yang membuang sampah, bahkan hingga kasur dan tempat tidur ke Sungai Citarum. Kini nyaris tak ada lagi.

Belum sempurna. Tapi, soal kultur, soal mental, tak ada revolusi. Revolusi mental itu mimpi. Yang bisa adalah evolosi mental. Itu sudah mulai terjadi di masyarakat.

Sudah mulai terjadi pemilahan sampah organik dan nonorganik mulai dari dapur warga. Tidak semua, tapi sudah mulai berubah ke arah yang lebih baik. Tinggal Pemprov Jabar memupuknya.

Tak kalah pentingnya adalah penerapan teknologi. Sampah, pada titik dan jenis tertentu, seperti kita tahu, bisa diubah menjadi energi. Sejak lama upaya itu sudah mulai dirintis. Ada yang gagal seperti rencana PLTSa Gedebage, misalnya.

Tapi, TPPAS Lulut Nambo dan Legok Nangka, adalah dimaksudkan untuk itu. Pengelolaan sampah yang bisa membuahkan energi. Bahkan pemenang lelang untuk Lulut Nambo sudah diputuskan.

Maka, tugas penting Penjabat Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin, adalah untuk itu. Memastikan investasi berjalan mulus dan jika bisa mempercepatnya. Soal kultur dan hal-hal kecilnya, sebaiknya diserahkan kepada pemerintah masing-masing kabupaten/kota saja.***


Editor : Ghiok Riswoto