Beda Iman Satu Jalan: Beda Iman Satu Jalan
PERBEDAAN membawa 238 orang berjalan bersama. Dari Suryakencana, mereka merayakan toleransi dan persaudaraan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Rizki Mauludi
Sabtu pagi itu, kawasan Suryakencana tidak hanya dipenuhi langkah kaki. Ada 238 orang dengan latar belakang agama dan usia berbeda yang berjalan bersama, membawa satu pesan sederhana: perbedaan tidak harus membuat orang saling menjauh.
Mereka mengikuti Parade Toleransi Kota Bogor 2026, Sabtu (22/8). Untuk pertama kalinya, kegiatan ini digelar bersama tokoh lintas agama, komunitas, anak muda, hingga masyarakat umum.
Parade dimulai dari Lawang Suryakencana. Rombongan kemudian bergerak melewati sejumlah rumah ibadah, mulai dari vihara, masjid, hingga gereja, sebelum berakhir di Gereja Katolik St. Fransiskus Asisi, Jalan Siliwangi, Kecamatan Bogor Selatan.
Rute itu seperti membawa pesan tersendiri. Berjalan dari satu rumah ibadah ke rumah ibadah lainnya, para peserta tidak sedang memperdebatkan perbedaan. Mereka justru merayakannya dalam satu perjalanan.
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan toleransi tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus hadir dalam perjumpaan sehari-hari.
“Tetapi bagaimana kita mengenal satu sama lain, berbaur, bertegur sapa. Menyatu dalam keberagaman,” ujarnya.
Bagi Dedie, pertemuan semacam itu penting bagi Bogor yang sejak lama dikenal memiliki tradisi toleransi dan persaudaraan. Saling mengenal membuat perbedaan tidak lagi terasa sebagai jarak.
“Jadi intinya ya, kami saling mengenal, saling menjaga silaturahmi dan kemudian membangun sebuah kekuatan untuk bisa membuat negara ini kondusif. Nah, makanya kami contohkan dari Bogor untuk Indonesia ya. Jadi dunia akan damai, dunia akan tertarik, dunia akan guyub ketika kita saling mengenal perbedaan,” terang Dedie.
Parade tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang dirancang untuk merawat toleransi. Sehari sebelumnya, peserta lebih dulu melakukan kegiatan bersih-bersih.
Hari berikutnya, mereka memilih berjalan bersama. Perwakilan penyelenggara Michael Sebastian Prihatono mengatakan parade diikuti 238 peserta. Dia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai acara sekali jalan, tetapi dapat menjadi agenda tahunan.
“Dan kita mau, parade toleransi ini akan terus dilaksanakan tiap tahun, biar ini menjadi sebuah acara untuk kami merayakan perbedaan,” katanya.
Bagi Michael, kekuatan parade justru terletak pada pertemuan orang-orang yang berbeda. Mereka datang dari latar belakang agama, komunitas, dan generasi yang beragam, tetapi memilih berada dalam satu barisan.
Kebersamaan itu menjadi pengingat bahwa toleransi bukan sesuatu yang cukup disimpan sebagai slogan. Dia perlu dirawat melalui perjumpaan, percakapan, dan pengalaman hidup bersama.
Pemkot Bogor pun menyatakan dukungannya terhadap berbagai kegiatan yang memperkuat hubungan antarwarga. Dedie berharap pesan yang lahir dari kota ini dapat menjadi contoh lebih luas.
“Jadi itu pesan dari Bogor untuk Indonesia, perkuat silaturahmi agar tetap guyub, yang nantinya akan menopang negara adil, makmur dan sejahtera,” ujarnya.
Michael juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, TNI-Polri, serta masyarakat yang ikut menjaga keamanan dan kebersamaan di Kota Bogor.
“Semoga apa yang dilaksanakan di Kota Bogor untuk Jawa Barat dan Indonesia bisa sama-sama terus dijaga dalam merawat toleransi dan memperkuat kebersamaan dalam keberagaman,” pungkas Michael. (gin)
Editor : Inilahkoran

