Belasan Jiwa Bertahan di Rumah Rapuh, Janji Perbaikan tak Kunjung Datang
Saparudin dan keluarganya bertahan di rumah rapuh di Babakan Cikeruh, menunggu bantuan perbaikan yang tak kunjung datang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Bagi Saparudin (56) dan keluarganya, rumah bukan sekadar tempat berlindung. Di tengah atap bocor dan dinding rapuh, mereka menahan rasa takut setiap hujan datang. Bantuan tak kunjung tiba, harapan dipelihara di antara kepingan ketidakpastian.
Di sudut permukiman Babakan Cikeruh, Kabupaten Bandung, Saparudin tinggal di salah satu rumah rapuh bersama adik perempuan dan sanak saudara. Dua belas jiwa menggantungkan keselamatan mereka pada bangunan yang jauh dari kata layak.
Setiap hujan turun, kecemasan menjadi teman setia. Air merembes dari atap lapuk, membasahi lantai tanah dan perabot seadanya. Angin kencang membuat dinding bergoyang, seolah bisa roboh kapan saja.
Meski demikian, Saparudin dan keluarganya tak punya banyak pilihan. Rumah itu tetap menjadi satu-satunya tempat berlindung dari teriknya matahari, dinginnya malam, dan ganasnya hujan.
“Saya bekerja serabutan saja, belum jelas pemasukannya tiap hari berapa,” ucap Saparudin, dalam keterangannya.
Hari-harinya diwarnai ketidakpastian ekonomi, namun harapan tak pernah padam. Bagi Saparudin, bukan sekadar rumah yang dia butuhkan, melainkan tempat tinggal aman agar seluruh anggota keluarganya bisa hidup tanpa dihantui rasa takut.
Pemerintah setempat sudah beberapa kali mendata kondisi rumahnya. Foto-foto dan dokumentasi sudah berulang kali diambil, menjadi syarat pengajuan bantuan. Namun, realisasi perbaikan tak kunjung datang.
“Pernah ke sini beberapa kali dari wilayah, beberapa kali juga difoto. Data saya sudah banyak, tapi belum direalisasikan,” katanya.
Saparudin menempati rumah itu sejak 2000. Selama lebih dari dua dekade, bangunan nyaris tak tersentuh renovasi. Proses pendataan bahkan telah berlangsung sejak 2013, tapi hasilnya masih nihil.
“Dari tahun 2013 sampai sekarang belum ada. Cuma datang, kontrol, foto-foto saja. Sudah,” ujarnya. Terakhir, ada pihak dari partai politik yang datang pada Februari lalu. Sekali lagi, belum ada tindak lanjut nyata.
Dalam kondisi yang tak menentu itu, Saparudin hanya bisa menggantungkan harapan.
“Harapan saya ada yang bermurah hati dapat membantu,” ucapnya.
Bantuan sosial sesekali datang, seperti BLT, namun perbaikan rumah yang menjadi kebutuhan utama, tetap hanya menjadi janji yang menunggu untuk ditepati. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

