Berawal dari Hobi, Petani Hidroponik Asal Cimahi Sukses jadi Pengusaha Sayuran

Usaha tidak membohongi hasil menjadi ungkapan yang tepat disematkan kepada Deni Hendiyani, seorang pelaku usaha hidroponik yang dikenal juga sebagai salah satu petani sayuran yang sukses di Kota Cimahi.

Berawal dari Hobi, Petani Hidroponik Asal Cimahi Sukses jadi Pengusaha Sayuran
Masih terlintas dalam ingatan Deni kala dia mencoba peruntungan bertani dengan metode hidroponik pada tahun 2014. Memanfaatkan lantai dua rumahnya yang berlokasi di Jalan Kihapit Timur No.35 RT /05, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan dia mulai mencoba untuk bercocok tanam. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Cimahi - Usaha tidak membohongi hasil menjadi ungkapan yang tepat disematkan kepada Deni Hendiyani, seorang pelaku usaha hidroponik yang dikenal juga sebagai salah satu petani sayuran yang sukses di Kota Cimahi.

Kesuksesan yang diraih pria 42 tahun itu tak datang begitu saja, 10 tahun dia membangun bisnis sayuran hidroponik yang digelutinya dengan jatuh bangun.

Masih terlintas dalam ingatan Deni kala dia mencoba peruntungan bertani dengan metode hidroponik pada tahun 2014. Memanfaatkan lantai dua rumahnya yang berlokasi di Jalan Kihapit Timur No.35 RT /05, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan dia mulai mencoba untuk bercocok tanam.

Ketertarikannya kian menguat usai Deni mengikuti pelatihan dari petani hidroponik nasional. Dari situ, Deni menemukan jalan hidup baru yang membuatnya semakin yakin untuk menekuni usaha ini. 

“Setelah ikut pelatihan itu, saya jadi lebih percaya diri untuk terjun di hidroponik. Dukungan yang saya terima benar-benar mendorong saya untuk serius,” kata Deni kepada wartawan, Jumat 23 Agustus 2024.

Tak berhenti sampai di situ, Deni juga kerap diundang oleh instansi pendidikan untuk memberikan pelatihan hidroponik. Hal ini membuka peluang baru baginya, terutama dalam hal membangun jaringan dengan lembaga pendidikan.

"Sampai sekarang, saya tetap memberikan edukasi mulai dari TK hingga universitas. Mereka bahkan sudah menjadi mitra saya," ujarnya.

Namun jalan terkadang tak selalu mulus, dalam perjalanannya Deni harus menghadapi kendala di awal, ketidakpastian dalam membuat peracikan nutrisi bagi tanaman hidroponik membuatnya ragu antara harus melanjutkan mimpinya atau tidak.

“Awalnya saya masih bimbang dalam membuat nutrisi, dan terkadang hasil panen tidak terserap pasar. Tapi, saya tetap berusaha dan membagikan hasilnya ke tetangga,” kenang Deni.

Meski penuh rintangan, pandemi Covid-19 justru membawa berkah tersendiri bagi bisnis hidroponik Deni. Kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi makanan segar meningkat drastis, sehingga permintaan sayuran melonjak tajam. 

“Saat pandemi, permintaan sayuran segar sangat tinggi sampai-sampai stok saya tidak cukup," ujarnya.

"Alhamdulillah, sekarang dari yang dulu hanya kalangan menengah ke bawah, sekarang kalangan menengah ke atas pun sudah menjadi pelanggan tetap,” ungkapnya.

Strategi pemasaran Deni pun berkembang seiring waktu. Awalnya, dia hanya memanfaatkan grup WhatsApp untuk memasarkan produknya ke komunitas dan rumah-rumah di sekitar Kelurahan Leuwigajah. 

Kini, Deni telah bekerjasama dengan beberapa supermarket besar seperti Transmart di Cimahi, Buah Batu, dan Gatot Subroto Kota Bandung melalui komunitas hidroponik Cimahi. 

Namun, kerjasama ini tidak datang tanpa syarat. Menurut Deni, supermarket selalu menuntut 3K: Kualitas, Kuantitas, dan Kontinyuitas. 

“Dari segi kualitas, alhamdulillah sudah diterima dengan baik. Untuk sayuran oriental seperti kangkung, pakcoy, bayam, dan sosin, kami bisa menjualnya dengan harga sekitar Rp8.000 hingga Rp10.000 per 250 gram,” terang Deni.

Kendati bisnisnya terus berkembang, Deni masih memiliki harapan besar bagi pemerintah untuk memberikan subsidi pupuk hidroponik, yang hingga kini belum tersedia. 

"Saya berharap ke depannya ada subsidi untuk pupuk hidroponik. Ini akan sangat membantu petani seperti saya untuk terus meningkatkan produksi,” harap Deni.

Dengan modal awal hanya sekitar Rp2 juta, Deni kini mampu memanen sayuran dalam waktu 25 hingga 30 hari, dengan omzet mencapai Rp5 juta per bulan. 

"Meski masih banyak tantangan di depan, saya optimis bahwa masa depan usaha ini akan semakin cerah dengan dukungan yang saya terima dari berbagai pihak," pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani