Bertahun-tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Desa Wangunharga Beramai-ramai Tebar Ikan dan Mancing di Jalan Rusak

Warga Desa Wangunharga, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) beramai-ramai menebarkan ikan di ruas jalan berlubang di wilayah tersebut.

Bertahun-tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Desa Wangunharga Beramai-ramai Tebar Ikan dan Mancing di Jalan Rusak

INILAHKORAN, Ngamprah - Warga Desa Wangunharga, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) beramai-ramai menebarkan ikan di ruas jalan berlubang di wilayah tersebut.

Tak cuma itu, warga juga memancing ikan yang mereka tebar di jalan rusak tersebut. Bahkan, anak-anak juga turut bermain di kubangan air yang menggenangi jalan-jalan berlubang tersebut.

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes mereka lantaran jalan rusak tersebut tak kunjung diperbaiki. Padahal, mereka sudah membayar pajak.

Para warga menilai, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat seolah tutup mata melihat kondisi jalanan yang rusak selama bertahun-tahun itu.

Salah seorang warga yang juga petani, Asep Suwandi mengatakan, kondisi jalan yang rusak sangat mengganggu aktivitas warga terutama saat pengangkutan hasil pertanian.

"Aksi mancing ikan di jalan merupakan luapan emosi warga kepada pemerintah karena tidak peduli dengan infrastruktur jalan di wilayah ini," kata Asep yang juga bandar sayuran kepada wartawan.

Asep menyebut, kerusakan jalan terparah terdapat di dua titik, yakni di tanjakan Maribaya dan Kampung Cicalung. Imbas kerusakan jalan tersebut, jalur transportasi harus memutar lebih jauh sehingga memakan waktu dan ongkos lebih besar.

"Yang biasa mobil angkutan tiba di pasar jam 8 pagi sekarang molor lebih dari dua jam, apalagi di Lembang sering macet," sebutnya.

Tak cuma itu, dampak lain yang dikeluhkan para bandar sayuran mereka terpaksa mengurangi muatan lantaran kendaraan menjadi lebih gampang rusak serta sayuran rawan busuk karena lamanya pengantaran ke pasar.

"Paling membahayakan di jalur Maribaya, enggak lagi ada pengemudi mobil yang berani jalan menanjak," ujarnya.

"Turunannya juga curam jadi kendaraan rawan terperosok jurang," sambungnya.

Asep mengungkapkan, ruas jalan tersebut terakhir diperbaiki sekitar tahun 2019 baik oleh pemerintah maupun swadaya masyarakat.

Bahkan, pemerintah desa pun telah mengusulkan perbaikan jalan setiap tahun pada acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) sejak 2022, namun tak pernah terealisasi.

"Saya juga selaku Kepala Dusun (Kadus) sering menerima protes dari warga, namun pihak desa tidak bisa berbuat banyak karena bukan kewenangannya," ungkapnya.

Keluhan yang sama juga diungkapkan warga lainnya, Hendi. Dia menuturkan, sejak kondisi jalan di desanya rusak anak-anak sekolah jarang mau melintas lantaran jalanan yang becek.

Mereka pun lebih memilih jalan memutar dengan melewati perkebunan baik saat berangkat sekolah maupun pulangnya agar lebih aman.

"Warga kan sudah bayar pajak, tapi kalau telat harus didenda. Bahkan realiasi pajak dari desa besar tapi infrastruktur kok dibiarkan rusak," kata Hendi.*** (agus satia negara)


Editor : Ahmad Sayuti