Bidik Bebas Limbah Pangan, Cimahi Olah Bahan Berpotensi Sampah Jadi Makanan Bergizi

Pemkot Cimahi bersama gerakan Hepi Plus dan komunitas Hareudang Bandung meluncurkan program Masak Hepi yang mengolah bahan pangan berpotensi menjadi sampah.

Bidik Bebas Limbah Pangan, Cimahi Olah Bahan Berpotensi Sampah Jadi Makanan Bergizi
Dikemas melalui program Masak Hepi, Pemkot Cimahi hadirkan gerakan olah bahan pangan yang berpotensi menjadi sampah agar bisa jadi hidangan sehat dan bergizi. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Sebanyak 42 juta ton makanan di Indonesia terbuang percuma setiap tahunnya. Padahal, sebagian besar bahan tersebut masih layak konsumsi dan memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. 

Kendati demikian, kurangnya pemahaman masyarakat tentang cara memanfaatkan dan mengolah bahan makanan tersebut menambah jumlah volume sampah rumah tangga.

Menjawab tantangan lingkungan sekaligus masalah gizi masyarakat, Pemerintahan Kota Cimahi bersama gerakan Hepi Plus dan komunitas Hareudang Bandung meluncurkan program Masak Hepi yang mengolah bahan pangan berpotensi menjadi sampah menjadi hidangan sehat dan bergizi di RW02, Kelurahan Cimahi, Minggu (19/4/2026).

Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira menjelaskan, program ini merupakan wujud kolaborasi lintas sektor yang dirancang untuk mengatasi dua persoalan sekaligus, yakni penumpukan sampah organik dan pemenuhan gizi warga. 

"Hari ini kami berkolaborasi dengan Hareudang Bandung dalam kegiatan Masak Hepi. Kami memanfaatkan bahan pangan yang berpotensi terbuang, lalu mengolahnya menjadi makanan yang tidak hanya layak makan, tapi juga kaya manfaat untuk kesehatan," kata Adhitia saat ditemui di lokasi kegiatan.

Adhitia menjelaskan, kegiatan ini tak hanya berfokus pada pengolahan makanan, namun juga menyediakan layanan tambahan bagi warga, seperti pemeriksaan kesehatan gratis dan pendampingan dari Ikatan Tenaga Kesehatan Masyarakat. 

"Inisiatif ini juga menjadi langkah nyata dalam meningkatkan indeks kebahagiaan warga Cimahi dengan cara yang sederhana namun berdampak luas," jelasnya.

Selain mengolah makanan, ungkap Adhitia, program Masak Hepi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pengelolaan pangan yang bijak. 

"Edukasi diberikan mulai dari cara berbelanja yang tidak boros, pemahaman kandungan gizi, teknik pengolahan yang tepat, hingga pemanfaatan sisa bahan yang biasanya dianggap sampah," jelasnya.

Adhitia memberikan contoh konkret, seperti pengolahan ayam teriyaki yang dijadikan menu hari ini. "Bagian tulang ayam yang biasanya dibuang, diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik. Begitu juga dengan air tajin dari beras yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan pertanian. Jadi tidak ada bagian dari bahan makanan yang terbuang percuma," jelasnya.

Sementara dari sisi ekonomi dan gizi, lanjut Adhitia, program ini juga mengedukasi masyarakat untuk beralih ke sumber pangan yang lebih terjangkau namun bernutrisi tinggi. 

"Daging ayam sebagai sumber protein hewani harganya jauh lebih murah dibanding daging merah, tapi kandungan gizinya tak kalah baik. Kami sampaikan hal ini agar masyarakat bisa cerdas dalam memilih dan mengonsumsi pangan," katanya.

Adhitia menyebut, program ini sudah dilaksanakan di dua kelurahan, yaitu Kelurahan Padasuka dan Kelurahan Cimahi, dan direncanakan akan berkeliling ke seluruh kelurahan di kota ini. 

"Nantinya, inisiatif ini akan diintegrasikan ke dalam program resmi Pemerintah Kota Cimahi sebagai gerakan lingkungan berkelanjutan," sebutnya.
 
Target Bebas limbah pangan, Gerakan Akan Dijadikan Program Kolektif Kota
 
Lebih lanjut Adhitia menuturkan, target utama dari gerakan ini tak lain untuk meminimalkan bahkan menghilangkan sampah yang berasal dari sisa makanan. 

Prinsipnya untuk memastikan setiap bahan pangan yang dibeli dimanfaatkan secara maksimal, tanpa ada bagian yang terbuang. 

"Kami ingin mengubah pola pikir masyarakat, bahwa apa yang dianggap sampah sebenarnya masih memiliki nilai manfaat," tuturnya.


Untuk mewujudkan hal tersebut, terang Adhitia, pihaknya bakal melakukan uji coba dan sosialisasi secara bertahap ke setiap wilayah, termasuk ke tingkat Rukun Warga (RW). 

"Setelah dianggap matang, program ini akan diakuisisi oleh Pemerintah Kota Cimahi dan dijadikan kebijakan yang dijalankan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait," ucapnya.

Adhitia menambahkan, kehadiran gerakan seperti Hepi Plus bertujuan untuk melengkapi program pemerintah yang mungkin belum terjangkau secara optimal. 

"Tidak semua kebutuhan masyarakat bisa dipenuhi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) saja. Oleh karena itu, kolaborasi seperti ini menjadi solusi untuk mengisi celah-celah yang ada, sekaligus memberikan manfaat langsung bagi keseharian warga," pungkasnya.

Sedangkan, founder Hareudang Bandung Yoga Fauzan Renardi menilai pengelolaan limbah pangan harus menjadi tanggung jawab bersama. 

"Kami berharap limbah yang dihasilkan masyarakat Cimahi nantinya hanya berupa sampah non-pangan seperti plastik. Sementara itu, bahan makanan yang masih layak bisa didistribusikan kembali dan diolah dengan baik agar bermanfaat bagi banyak orang," kata Yoga.


Editor : Doni Ramdhani