Meski Ada Beton Penahan Lima Rumah di Rumpin Tetap Ambruk, ESDM Jabar Sudah Prediksi
Sesuai prediksi, lima rumah di Kampung Ciater akhirnya ambruk karena terdampak bencana tanah longsor susulan dekat galian tambang PT BSM.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Rumpin - Sesuai prediksi, lima rumah di Kampung Ciater, RT 01 RW 07, Desa Cipinang, Rumpin akhirnya ambruk karena terdampak bencana tanah longsor susulan di dekat galian usaha tambang PT Batu Sampurna Makmur.
Untungnya, warga sebelumnya sudah diungsikan ke tempat yang lebih aman oleh perusahaan tambang tersebut. Pasca bencana tanah longsor di sekitarnya hingga 11 unit bangunan rumah warga mengalami retak-retak hingga sangat membahayakan jiwa mereka.
Kepala Kantor Cabang Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat Wilayah II Iman Budiman mengatakan, pasca bencana tanah longsor susulan pada akhir pekan kemarin jajarannya dan PT Batu Sampurna Makmur (BSM) tetap lebih mementingkan keselamatan warga karena lahan atau tanah di sekitar lokasi masih terbilang stabil.
Baca Juga: Rocky Gerung vs Sentul City: Perjuangan Kami untuk Warga Desa Bojongkoneng!
"PT BSM sebelumnya sudah membangun dinding beton penahan tanah (DPT), namun karena tingginya curah hujan akhirnya sesuai prediksi beberapa rumah milik warga ambruk. Untungnya, masyarakat yang meninggali rumah tersebut sudah diungsikan," ujar Iman Budiman, Senin 13 September 2021.
Ia menerangkan, upaya relokasi pemukiman warga Kampung Ciater sudah dilakukan PT BSM. Namun, masih ada penolakan atau keberatan dari warga tersebut
"Kebetulan PT BSM memiliki lahan juga di Kecamatan Rumpin untuk calon rahan relokasi pemukiman, namun warga ada yang keberatan atau menolak atau karena alasan lain," terangnya.
Baca Juga: Dibiayai Dana PEN, Pemkot Bogor Mulai Tata Kawasan Suryakencana
Iman menuturkan sesuai hasil pemeriksaan inspektorat tambang, maka harus ada analisa kembali dan mendalam mengenai penyebab bencana tanah longsor Kampung Ciater, RT 01 RW 07, Desa Cipinang, Rumpin.
"Sebenarnya perintah analisa kembali yang diminta inspektorat tambang sedang dilakukan oleh konsultan dari ITB (Institut Teknologi Bandung), namun dengan bencana tanah longsor susulan maka proses analisanya harus diulang. Upaya teknis yang sudah dilaksanakan sebelumnya, juga dikatakan gagal mencegah longsor susulan dan sejak kejadian yang pertama, PT BSM yang boleh meledakkan dinamit saat pelaksanaan usaha tambangnya juga berhenti operasional sementara atas himbauan pemerintah daerah," tutur Iman.
Ayah tiga orang anak ini menjelaskan dari segi sumber daya alam, batuan tambang granit di lokasi tersisa cukup banyak, dimana dari segi perhitungan masih bisa ditambang hingga dua tahun ke depan.
Baca Juga: Membandel, Tim Gabungan Pemburu Pelanggar PPKM Tutup Zentrum Lounge dan Karaoke
"Bahan baku batu granit di lokasi usaha tambang PT BSM ada sekitar 1,5 juta ton, masih bisa ditambang hingga dua tahun kedepan setelah mulai beroperasi sejak 20 tahun lalu dan masih menguntungkan hingga kami menilai mereka sangat mampu merelokasi warga ke tempat yang lebih aman," jelasnya. (reza zurifwan)
Editor : inilahkoran


