Buntut Seorang Pelajar Tewas Bersimbah Darah Depan Gerbang Sekolah, Ini Saran Ketua DPRD Kota Bogor

Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto memberikan sejumlah saran untuk mengatasi tawuran pelajar yang masuh terus terjadi

Buntut Seorang Pelajar Tewas Bersimbah Darah Depan Gerbang Sekolah, Ini Saran Ketua DPRD Kota Bogor
Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto

INILAHKORAN, Bogor,- Kasus tewasnya seorang pelajar SMA Negeri Kota Bogor tak jauh dari gerbang sekolahnya terus menjadi perhatian. Kali ini giliran Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto angkat bicara.

Seperti diketahui RM (17) siswa SMAN 7 Kota Bogor ditemukan tewas di depan pintu gerbang SMA Negeri 7 Kota Bogor, Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara, Rabu, 6 Oktober 2021 sekitar pukul 21.00 WIB.

Korban tewas di lokasi dengan bersimbah darah, setelah beberapa bagian tubuhnya terkena senjata tajam.

Pasca terjadinya kasus kekerasan pelajar yang menyebabkan tewasnya pelajar SMAN 7 Kota Bogor. Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto menyampaikan saran enam langkah untuk penanganan masalah yang sudah mengakar di pelajar Kota Bogor ini.

Baca Juga: Menang Gugatan di PTUN Bandung, Warga Sentul City Akhirnya Dapat Hak Atas Air

"Masalah kekerasan pelajar yang memakan korban jiwa adalah masalah yang sangat serius. Maka harus ditangani dengan sangat serius, tidak hanya sekedar langkah taktis ataupun reaktif, meski hal itu juga tetap diperlukan sebagai solusi jangka pendek," ungkap Atang Trisnanto, Minggu, 10 Oktober 2021.

"Namun, sangat penting untuk dipikirkan bersama strategi penanganan secara komprehensif agar tidak terulang kembali di masa mendatang," imbuhnya.

Atang memaparkan, langkah pertama adalah dilakukannya pendekatan hukum. Dimana, tindakan hukum kepada pelaku kekerasan harus ditegakkan. Tidak hanya kepada pelaku kekerasan, tetapi juga kepada orang-orang yang membantu pelaku dalam tindak keketasan juga perlu dikenakan hukuman.

"Perlu efek jera dengan hukum yang berat dan tegas. Menghilangkan nyawa orang lain atau mengakibatkan orang lain terluka adalah tindakan kriminal serius," tuturnya.

Baca Juga: Terungkap! Ternyata Ini Nama Anak Kedua Baim Wong

Atang melanjutkan, kedua, pendekatan pola pembelajaran. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat (KCD), Dinas Pendidikan Kota Bogor, dan Sekolah perlu merumuskan satu pola pembelajaran yang menjadikan siswa disibukkan dengan kegiatan yang ada disekolah baik akademik maupun non akademik.

"Ini bisa dilakukan dengan memberikan pelajar ruang maksimal untuk menyalurkan aktualisasi mereka ke dalam kegiatan positif baik olahraga, seni, pramuka, ekskul, dan lain sebagainya. Semoga dengan kesibukan positif ini tidak ada ruang bagi pelajar untuk macam-macam diluar," tambahnya.

Masih kata Atang, untuk yang ketiga, pendekatan pembinaan. Bagaimanapun, pola pendidikan tidak bisa hanya bertumpu pada pembelajaran pengajaran saja. Perlu pembinaan intens terhadap kepribadian pelajar.

"Bisa mencontoh pola pembinaan yang dilakukan oleh sekolah-sekolah yang menghasilkan anak didik yang berperilaku baik. Memiliki mental karakter dan pribadi yang bagus. Success story ini bisa direplikasi," terang Atang.

Baca Juga: Serangan Hama Tikus Membuat Sejumlah Petani di Banyuresmi Garut Merugi

Untuk pendekatan keempat, Atang menilai, pola komunikasi tiga pihak, yaitu anak, orang tua, dan sekolah perlu ditingkatkan. Sebab menurutnya, di era digital ini, komunikasi seharusnya bisa dilakukan secara lebih baik. Selain pertemuan reguler secara langsung antar pihak, bisa juga dimanfaatkan platform digital. Termasuk untuk pengawasan real time aktivitas anak-anak di sekolah maupun di luar sekolah.

"Untuk yang kelima adalah pendekatan reward and punishment. Sekolah yang pelajarnya sering terlibat tawuran dan kekerasan diberikan sanksi yang berjenjang. Karena kita juga melihat, sekolahnya juga itu-itu saja. Sehingga lebih mudah untuk melakukan monitoring dan penerapan sanksi jika diperlukan. Agar masalah ini ditangani secara serius oleh masing-masing sekolah. Banyak instrumen yang bisa digunakan. Sanksi dana BOS, sanksi administratif, sanksi hibah, atau sanksi bentuk lain," beber politisi PKS ini.

Baca Juga: Citarum Harum Masih Butuh Kesadaran Bersama dan Koordinasi Sejumlah Pihak

Lebih lanjut, Atang menyebutkan, selain kelima hal tadi, untuk mencegah terjadinya kekerasan pelajar tentu yang paling utama adalah peran sentral orang tua dalam hal pengawasan anak. Menurutnya, orang tua harus mampu menjalankan pendidikan dan pengawasan bagi anak-anaknya. Sehingga, penguatan peran orang tua harus menjadi konsern utama.

"Pendidikan parenting, kelas pendampingan psikologi, dan pembentukan komunitas orang tua bisa menjadi sarana penguatan peran orang tua," pungkasnya.

Sementara itu, terkait dengan kasus kekerasan pelajar yang menewaskan siswa SMAN 7 Kota Bogor, Atang mengapresiasi langkah cepat dari kepolisian yang berhasil meringkus pelaku dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.

Baca Juga: Ridwan Kamil Tantang Erick Thohir Makan Jengkol

"Apresiasi kepada pihak Kepolisian yang sudah gerak cepat menangkap tersangka. Selama ini operasi yang dilakukan Tim Kujang efektif menekan angka tawuran dalam setahun terakhir," ungkap Atang.

Keberadaan satgas pelajar yang dibesut oleh Pemerintah Kota Bogor juga menurut Atang merupakan salah satu langkah yang perlu diapresiasi dan diberikan dukungan. Disamping langkah cepat dari Pemkot Bogor untuk menutup kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) kepada sekolah yang terlibat kekerasan pelajar.

"Apresiasi untuk itu semua. Namun, kita semua perlu duduk bersama dan secara bersama-sama pula melakukan langkah-langkah solutif terhadap masalah tawuran dan kekerasan pelajar di Kota Bogor. Tidak bisa sendirian, harus semua pihak dan komprehensif," pungkasnya.***(Rizki Mauludi)


Editor : inilahkoran