Enggan Adat Istiadat 'Hanyut' Terbawa Banjir, Kades Urug Minta Kementerian PUPR Bangun Rumah Panggung
Dari 205 unit hunian tetap yang sedang dibangun di Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, 24 unit bangunannya merupakan rumah panggung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Sukajaya - Dari 205 unit hunian tetap (Huntap) yang sedang dibangun di Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, 24 unit bangunannya merupakan rumah panggung khas adat desa tersebut.
Keinginan untuk mengganti rumah panggung yang rusak karena dihantam bencana alam banjir bandang dan tanah longsor itu pun dikabulkan Dirjen Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
"Kami tidak ingin adat istiadat dari leluhur kami di Kampung Urug Desa Urug hilang terdampak bencana alam banjir bandang dan tanah longsor awal tahun lalu, hingga kami pun meminta 24 unit rumah panggung yang rusak, diganti lagi bangunannya dengan rumah panggung," ucap Kepala Desa Urug Sukarma kepada wartawan, Minggu 24 Oktober 2021.
Pria berusia 60 tahun dan memiliki 4 orang anak ini menambahkan dalam pembangunan rumah pengganti (rumah panggung), warga meminta yang membangunnya bukanlah dari penyedia jasa rekanan Kementerian PUPE.
"Kami juga ingin yang mengerjakan adalah warga karena kami punya cara sendiri dalam membangun rumah panggung, termasuk tidak melaksanakannya pada Bulan Maulud. Karena hal itu, pembangunanya pun kami hentika sementara," tambahnya.
Selain membangun 24 unit rumah panggung, warga pun sedang membangun leuit atau gudang padi dan rumah ageung di sekitar lahan relokasi.
"Bencana alam banjir bandang dan tanah longsor tidak hanya menghancurkan bangunan rumah dinding maupun panggung, tetapi juta merusak 26 unit leuit, bahkan isinya juga terbawa air deras," tutur Sukarma.
Ia melanjutkan selain rumah panggung, leuit dan beberapa upacara adat seren taun, sefekah muharam maupun lainnya, warga Kampung Urug juga masih menjaga keberadaan beras lokal atau beras leluhur.
"Ada titipan dari leluhur tentang pertanian padi, dimana setahun sekali kami harus menanam beras lokal atau leluhur pada Bulan Oktober. Walau begitu, kami tetap melaksanakan program pemerintah untuk menanam padi IR yang dilakukan di awal tahun. Beras loka ini, kami anggap lebih bagus dari kekuatan dari serangan hama dan juga bisa tahan lama bila disimpan di leuit," lanjutnya.
Baca Juga: Begini Cara Karang Taruna Sukajaya Bantu PPKM Darurat
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika mengaku Pemkab Bogor mendukung penuh pelestarian Kampung Urug. Dukungan itu juga dibuktikan dengan akan dibangunkannya pasar di sekitar lahan relokasi.
"Pemkab Bogor maupun pemerintah pusat mendukung kelestarian Kampung Urug, tidak hanya membangunkan rumah panggung dan rumah ageung, pemerintah juga akan membangunkannya pasar kecil, lapangan desa dan lainnya. Kami tidak hanya ingin mengganti rumah yang rusak, tetapi juga membangunkan kehidupan di lahan relokasi," ucap Ajat.***(reza zurifwan)
Editor : inilahkoran


