BPBD Kabupaten Bandung: 70% Wilayah Desa Tribaktimulya Pangalengan Rawan Bencana

BPBD Kabupaten Bandung menetapkan Desa Tribaktimulya sebagai salah satu desa dengan potensi bencana alam tertinggi di Kecamatan Pangalengan. 

BPBD Kabupaten Bandung: 70% Wilayah Desa Tribaktimulya Pangalengan Rawan Bencana
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung Diki Sudrajat mengatakan, kondisi geografis Desa Tribaktimulya yang didominasi kawasan berlereng membuat wilayah tersebut sangat rentan terhadap berbagai jenis bencana alam. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah BPBD Kabupaten Bandung menetapkan Desa Tribaktimulya sebagai salah satu desa dengan potensi bencana alam tertinggi di Kecamatan Pangalengan

Dari total 14 desa di Kecamatan Pangalengan, Desa Tribaktimulya dinilai memiliki tingkat kerawanan paling tinggi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung Diki Sudrajat mengatakan, kondisi geografis Desa Tribaktimulya yang didominasi kawasan berlereng membuat wilayah tersebut sangat rentan terhadap berbagai jenis bencana alam.

“Sekitar 70 persen wilayah Desa Tribaktimulya masuk kategori rawan bencana. Mulai dari longsor, gempa bumi, banjir bandang, hingga angin kencang,” kata Diki kepada INILAHKORAN.ID, Senin 2 Februari 2026.

Menurutnya, Desa Tribaktimulya telah masuk dalam peta rawan bencana BPBD Kabupaten Bandung. Peringatan dini pun secara rutin disampaikan kepada masyarakat, terutama warga yang tinggal di Kampung Mekarsari, yang dinilai paling berisiko.

Ia menjelaskan, potensi longsor di kawasan tersebut cukup besar. Dari lereng-lereng di sekitar permukiman, material tanah yang berpotensi longsor diperkirakan mencapai 1.500 hingga 2.000 meter kubik dan dapat meluncur langsung ke arah rumah warga yang berada di bawahnya.

“Ancaman longsor ini sangat serius, sehingga sejak lama kami mengimbau warga untuk mengubah pola pertanian,” ujarnya.

BPBD Kabupaten Bandung mendorong masyarakat agar beralih dari tanaman sayuran atau hortikultura ke tanaman keras seperti kopi, akar wangi, alpukat, dan komoditas sejenis. Tanaman keras dinilai mampu mengikat tanah dengan lebih kuat sehingga dapat mengurangi risiko longsor maupun dampak gempa.

Selain imbauan perubahan komoditas pertanian, BPBD juga menyarankan warga yang tinggal di zona sangat rawan untuk berpindah ke lokasi yang lebih aman.

“Relokasi menjadi salah satu langkah penting. Pasca kejadian longsor kemarin, kami telah melakukan relokasi terhadap warga yang menghuni delapan rumah yang berada tepat di bawah lereng,” katanya.

Ia menambahkan, relokasi tersebut dilakukan sebagai langkah perlindungan sementara, setidaknya hingga musim hujan berakhir. Berdasarkan perkiraan, intensitas hujan masih berpotensi tinggi hingga Maret mendatang.

“Yang terpenting saat ini adalah keselamatan warga. Kami ingin memastikan mereka berada di tempat yang aman selama musim hujan ini,” katanya.


Editor : Doni Ramdhani