'Bukit Senyum' Bangkit, Unjani Bekali Warga Strategi Promosi Digital
Unjani membantu membangkitkan wisata Bukit Senyum Bandung Barat lewat digital branding, pelatihan pemasaran, dan penguatan potensi ekonomi warga.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) turun langsung ke Desa Wisata Bukit Senyum, Kampung Pasir Manggu, Desa Cipada, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat.
Kehadiran tim tersebut untuk membantu membangkitkan kembali geliat pariwisata yang sempat lesu. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) bertajuk “Strategi Revitalisasi Desa Wisata Bukit Senyum melalui Digital Branding, Influencer Marketing, dan Penguatan Kemitraan Bisnis”, warga dibekali kemampuan memasarkan potensi wisata dan produk lokal melalui platform Digital.
Program tersebut menyasar pengelola desa wisata, pelaku UMKM kopi, peternak domba, hingga karang taruna. Mereka dilatih mengemas potensi alam dan aktivitas warga menjadi konten yang menarik sekaligus bernilai ekonomi.
Ketua Tim Pengmas, Abdul Ahmad Hafidh Nurmansyah, SE., MM., mengatakan Bukit Senyum memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata alam dan agroeduwisata. Kawasan tersebut berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut dengan panorama pegunungan, hutan pinus, kebun kopi, serta aktivitas peternakan domba.

Unjani membantu membangkitkan wisata Bukit Senyum Bandung Barat lewat Digital branding. (Istimewa)
Namun, potensi tersebut belum tergarap secara maksimal. Salah satu kendalanya adalah minimnya eksposur di media sosial. Kondisi itu diperparah dengan penutupan sementara akibat bencana alam yang berdampak terhadap penurunan jumlah kunjungan wisatawan.
“Alam Bukit Senyum ini sebenarnya sudah lengkap sebagai destinasi agroeduwisata. Yang belum ada adalah cerita dan citra Digital yang membuat orang penasaran untuk datang. Di situlah kami hadir, bukan untuk mengubah alamnya, tapi membantu warga menceritakannya kepada dunia luar,” ujar Hafidh dalam keterangan persnya.
Program Pengmas tersebut dilaksanakan secara bertahap. Tim terlebih dahulu melakukan rapat koordinasi internal untuk membagi tugas dan menyiapkan rangkaian kegiatan.
Tahap persiapan dilakukan pada 24 Juli 2026 melalui rapat teknis bersama pengelola desa wisata sekaligus survei lokasi. Selanjutnya, kegiatan utama digelar pada 27 Agustus 2026 dengan memberikan pelatihan mengenai Digital branding, storytelling produk lokal, serta strategi berkolaborasi dengan influencer dan tokoh publik.
Tim tidak hanya memberikan pelatihan secara langsung. Mereka juga menyerahkan modul Digital branding yang disusun khusus bagi warga Desa Wisata Bukit Senyum.
Modul tersebut berisi panduan praktis membuat konten foto dan video menggunakan telepon pintar, menyusun kalender konten, hingga mengukur keberhasilan promosi Digital. Dengan modul itu, pengelola desa wisata, pelaku UMKM, dan generasi muda diharapkan dapat terus mengembangkan keterampilan mereka secara mandiri.
Pendekatan program dirancang dengan menyasar tiga kelompok masyarakat secara terintegrasi. Pengelola desa wisata dibekali kemampuan menyusun strategi promosi jangka panjang.
Sementara pelaku UMKM kopi dan kelompok peternak domba didorong mengangkat cerita di balik produk dan aktivitas mereka sebagai bahan konten. Adapun karang taruna dan generasi muda dipersiapkan menjadi pengelola konten Digital desa wisata secara berkelanjutan.
Hafidh mengatakan pendekatan tersebut dilakukan agar manfaat program tidak berhenti setelah kegiatan Pengmas selesai.
“Kami ingin manfaatnya dirasakan jangka panjang. Kalau hanya kami yang tahu caranya, begitu program selesai, semuanya berhenti. Makanya warga sendiri yang kami latih untuk menjadi pengelola kontennya,” katanya.
Pemilihan Bukit Senyum sebagai lokasi Pengmas juga berkaitan dengan visi Unjani untuk menjadi universitas yang unggul, berjiwa kebangsaan, dan berwawasan lingkungan.
Program tersebut dirancang agar pengembangan ekonomi masyarakat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan. Karena itu, strategi Digital branding yang diterapkan lebih banyak mengangkat kekayaan alam dan potensi agroeduwisata Bukit Senyum sebagai daya tarik.
Pendekatan tersebut dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan mendorong pembangunan fisik secara besar-besaran yang berpotensi mengganggu ekosistem pegunungan.
“Ini yang kami sebut sebagai pemberdayaan berwawasan lingkungan. Warga tidak diminta membangun sesuatu yang baru, tetapi memaksimalkan dan menjaga apa yang sudah dianugerahkan alam, lalu menyampaikannya secara Digital,” tutur Hafidh.
Menurut dia, pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari peran Unjani dalam membantu masyarakat di wilayah sekitar kampus, khususnya di Bandung Barat.
Program Pengmas tersebut diharapkan memberikan dampak terhadap perekonomian dan kapasitas sumber daya manusia di Bukit Senyum.
Dari sisi ekonomi, peningkatan eksposur Digital diharapkan dapat mendorong kunjungan wisatawan sekaligus meningkatkan omzet UMKM kopi dan aktivitas wisata edukasi peternakan domba.
Sementara dari sisi sumber daya manusia, warga, khususnya generasi muda, memiliki keterampilan Digital marketing yang dapat digunakan secara mandiri. Desa wisata juga diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk membangun kemitraan promosi dengan pemerintah daerah maupun komunitas pariwisata.
Saat ini, tim Pengmas tengah menyelesaikan tahap akhir program berupa penyusunan artikel ilmiah untuk dipublikasikan di jurnal pengabdian masyarakat terakreditasi. Tim juga merampungkan video dokumentasi kegiatan yang akan diajukan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). ***
Editor : Gin gin T Ginulur

