Cara Ahli Gizi SPPG Pangauban Batujajar Terapkan CCP untuk Pastikan Menu MBG Berkualitas

Kasus keracunan massal program makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang terjadi dalam tiga kasus berbeda pada September dan Oktober 2025 menjadi preseden buruk pelaksanaan program nasional yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto.

Cara Ahli Gizi SPPG Pangauban Batujajar Terapkan CCP untuk Pastikan Menu MBG Berkualitas
Fenni Yuliani (23), ahli gizi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG Pangauban Batujajar ini salah satunya. Menurutnya, critical control point (CCP) atau titik kendali kritis dalam program MBG ini merupakan tahapan penting dalam pengolahan makanan yang harus dikendalikan. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Kasus keracunan massal program makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang terjadi dalam tiga kasus berbeda pada September dan Oktober 2025 menjadi preseden buruk pelaksanaan program nasional yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto.

Betapa tidak, total korban program MBG itu mencapai 1.835 orang. Kasus keracunan massal MBG pertama kali terjadi di Cipongkor dan Cihampelas dengan total 1.333 korban, diikuti kasus kedua di Cisarua dengan 502 korban. 

Selain kualitas bahan baku, kasus keracunan massal MBG yang didominasi para siswa dari berbagai jenjang sekolah itu diduga karena kelalaian pengelola, serta standar operasional prosedur (SOP) yang tidak dijalankan dengan baik.

Evaluasi sumber daya manusia (SDM) sebagai pengelola pun dilakukan, termasuk keberadaan ahli gizi yang memiliki peran penting menjaga keamanan dan kualitas bahan baku menu MBG dalam skala besar.

Fenni Yuliani (23), ahli gizi dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG Pangauban Batujajar ini salah satunya. Menurutnya, critical control point (CCP) atau titik kendali kritis dalam program MBG ini merupakan tahapan penting dalam pengolahan makanan yang harus dikendalikan.

"Ini sangat penting untuk mencegah, menghilangkan, atau mengurangi bahaya keamanan pangan hingga tingkat yang dapat diterima," kata Fenni saat ditemui.

Fenni menegaskan, penerapan sistem ini sangat penting bagi dapur MBG untuk memastikan makanan yang dibagikan aman, bergizi, dan higienis untuk para penerima, terutama anak-anak. 

"Buat ahli gizi sangat penting untuk memastikan menu itu berkualitas, food safety-nya terjaga. Terpenting, CCP-nya harus tetap terjamin," tegasnya.

"Mulai dari persiapan, pengolahan hingga pendistribusian harus memastikan bahan bakunya aman, bersih dan jangan sampai ada bakteri yang masuk ke bahan maupun menu makanan," imbuhnya.

Untuk bagian pemorsian misalnya, Fenni mengaku dirinya harus memastikan tahapan atau proses berjalan dengan lancar.

Apalagi, jumlah penerima manfaat menu MBG dari SPPG Pangauban Batujajar ini mencapai 4.000 porsi setiap harinya dengan proses pengolahan bahan dimulai pada pukul 02.00 WIB pagi.

"Kami juga harus memastikan distribusi menu MBG tidak terlambat, karena dapur kami paling lambat harus mengantarkan MBG pada pukul 07.00 - 08.00 WIB," jelasnya.

"Distribusi dapur kami kan dimulai dari anak PAUD  dan TK, sementara untuk jenjang SD dan SMP itu menyesuaikan jam istirahat," sambungnya.

Disinggung tahapan paling rawan dalam pengolahan bahan untuk menu MBG, Fenni menyebut, seluruh tahapan mulai dari awal hingga akhir merupakan hal paling penting.

"Di awal kita harus pastikan bahan baku dengan melakukan penyortiran, memilah dan memilih mana bahan baku yang layak dan tidak. Ini juga tugas dari ahli gizi meski hanya dalam satu dapur satu orang,"ujarnya.

"Jadi ketika ahli gizi sudah bisa memastikan kelayakan bahan baku, maka itu bisa diserahkan kepada tim pengolah makanan," tambahnya.

Sejauh ini, Fenni mengakui dirinya mampu melakukan tugas untuk memastikan kualitas dan kelayakan menu MBG meski harus seorang diri.

"Meski ahli gizinya saya sendiri, alhamdulillah bisa lancar dan terjamin hingga penerima manfaatnya banyak yang antusias. Terus menunya juga sangat luar biasa, sangat puas," ucapnya.


Editor : Doni Ramdhani