Dari Perantauan, Doa Pulang Bersama Bantuan
GUBERNUR Jabar Dedi Mulyadi menjejakkan kaki di Flores. Dia datang membawa bantuan untuk warga yang masih menghadapi dampak gempa
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yuliantono
Kabar dari kampung halaman membuat Johanes Jhoni Riberu sulit benar-benar tenang. Dia memang berada di Jawa Barat. Tetapi pikirannya berulang kali kembali ke Nusa Tenggara Timur, tempat keluarga dan saudara-saudaranya menghadapi gempa yang belum juga berhenti.
Dari keluarga dan kerabat, Johanes mendengar sebagian warga masih bertahan di tenda pengungsian. Sebagian lainnya memilih mendirikan tenda sendiri di halaman atau depan rumah karena belum berani kembali masuk ke bangunan yang mungkin masih membahayakan.
Nagekeo, Manggarai Timur, hingga Manggarai Barat menjadi nama-nama wilayah yang terus dia ikuti perkembangannya.
"Dampaknya masih gempa susulan sampai malam juga masih ada. Warga kami, khususnya di Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai Barat, ada yang ke posko tenda-tenda, ada juga yang di depan rumah mereka buka tenda masing-masing," kata Johanes.
Sebagai Penanggung Jawab Asrama NTT Jawa Barat, Johanes berada dalam posisi yang tidak mudah. Dia jauh dari kampung halaman, tetapi merasa harus melakukan sesuatu.
Jarak ribuan kilometer tidak membuat persoalan di Flores terasa jauh. Justru dari perantauan itulah Johanes bersama warga NTT di Jawa Barat mencoba mencari cara untuk membantu saudara-saudara mereka yang sedang menghadapi bencana.
Mereka membuka penggalangan donasi. Tidak ada target angka. Tidak ada batas berapa yang harus terkumpul. Yang penting, ada sesuatu yang bisa dikirimkan pulang.
"Kita enggak ada target. Berapa pun yang ada, sumbangan dari masyarakat NTT khususnya yang di Jawa Barat dan warga Jawa Barat, itu yang kami akan kirim," ujarnya.
Bagi Johanes, bantuan bukan semata-mata soal jumlah uang. Ada pesan yang ikut dikirim bersama setiap sumbangan: mereka yang berada jauh tetap ingat kepada mereka yang sedang bertahan di tengah bencana.
Karena itu, ketika Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi datang langsung ke Flores, Johanes melihatnya sebagai sesuatu yang berarti.
Dedi tidak hanya mengirim bantuan. Dia datang sendiri ke wilayah terdampak, menyusuri permukiman, melihat rumah-rumah yang rusak dan berbicara dengan warga.
Kehadiran itu terasa penting bagi masyarakat NTT di perantauan. Ada perasaan bahwa kampung halaman mereka sedang diperhatikan oleh orang-orang yang bahkan tidak lahir di tanah itu.
"Kami atas nama warga NTT, mewakili saudara-saudara kita yang ada di Jawa Barat, banyak-banyak terima kasih atas KDM, Gubernur Jawa Barat yang telah ambil bagian untuk menyalurkan bantuan kepada saudara-saudara kita yang terdampak bencana," ujar Johanes.
Dedi datang ketika sebagian warga Flores masih hidup dalam ketidakpastian. Gempa susulan membuat mereka memilih tidur di tenda. Rumah yang retak belum tentu aman untuk ditinggali. Rumah yang rusak berat membutuhkan perbaikan segera.
Di antara rumah-rumah rusak, Dedi memeriksa retakan dinding dan bagian bangunan yang tak lagi kokoh untuk memastikan bantuan diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.
Bagi Dedi, data di atas kertas tidak cukup. Kondisi rumah harus dilihat langsung agar bantuan tidak salah sasaran.
Dia mendatangi sejumlah lokasi hingga malam hari, berdialog dengan warga dan petugas di pos pengungsian, sekaligus mencocokkan laporan kerusakan dengan keadaan sebenarnya.
Dalam kondisi lokasi yang minim penerangan, proses pendataan tetap dilakukan. Setiap rumah diperiksa dan diklasifikasikan berdasarkan tingkat kerusakannya.
Rumah yang masuk kategori rusak berat menjadi prioritas. Pemerintah Jawa Barat menyiapkan bantuan perbaikan sebesar Rp20 juta untuk setiap rumah.
"Kalau rusaknya berat, kita bantu Rp20 juta," ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Minggu (23/8).
Di Kelurahan Bangka Leleng, Kecamatan Lamba Leda Selatan, misalnya, sebanyak 23 rumah rusak berat mendapatkan bantuan masing-masing Rp20 juta. Sementara 83 rumah rusak ringan memperoleh Rp5 juta per rumah.
Bantuan serupa diberikan di Kelurahan Nggalakleleng, Kecamatan Pocoranaka. Sebanyak 20 rumah rusak berat menerima Rp20 juta per rumah, sedangkan 18 rumah rusak ringan memperoleh Rp5 juta.
"Kita pastikan data rumah yang rusak berat, retak-retak, hingga yang roboh terdata dengan benar. Penyaluran bantuan dilakukan secara transparan dan tunai agar warga bisa langsung memperbaiki tempat tinggalnya," ucapnya.
Kehadiran langsung di lokasi membuat proses pendataan tidak berhenti pada laporan awal. Setiap temuan baru menjadi bahan untuk memperbarui data penerima bantuan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat Adi Komar mengatakan pengecekan lapangan dilakukan agar bantuan dapat segera diterima warga dan digunakan untuk memperbaiki rumah mereka.
Operasi kemanusiaan tersebut dikoordinasikan Tim Aju BPBD Jawa Barat bersama BPBD setempat, pemerintah daerah, dan berbagai unsur terkait. Mereka bekerja mulai dari memetakan dampak gempa, mendata kebutuhan warga, menentukan lokasi distribusi hingga memastikan mekanisme penyaluran bantuan.
Namun, bantuan Jawa Barat untuk NTT tidak berhenti pada proses verifikasi rumah.
Solidaritas dari berbagai elemen masyarakat Jawa Barat telah terkumpul hingga Rp4,5 miliar. Dana tersebut berasal dari lembaga pemerintah, badan usaha, organisasi, hingga sumbangan pribadi.
Baznas Jawa Barat menyumbang Rp1 miliar dari zakat ASN dan BUMD Jabar. Bank bjb melalui program bjb Peduli juga menyalurkan Rp1 miliar.
Dedi Mulyadi memberikan bantuan pribadi Rp600 juta, sedangkan Wali Kota Depok Supian Suri menyumbang Rp500 juta.
Dukungan lainnya datang dari Apindo Jawa Barat Rp500 juta, ASN Pemprov Jabar Rp400 juta, Kadin Jawa Barat Rp200 juta, Kwarda Gerakan Pramuka Jabar Rp100 juta, serta PT Buana Kassiti dan tambahan hasil rapat sebesar Rp200 juta.
Dana tersebut diarahkan untuk mendukung pemulihan warga, termasuk memperbaiki rumah berdasarkan tingkat kerusakannya.
Sebelumnya, BPBD Jawa Barat juga telah mengirimkan 20 personel Tim Aju yang terdiri atas unsur BPBD dan relawan. Mereka melakukan asesmen awal sekaligus menyiapkan distribusi bantuan di wilayah terdampak.
Bertemu Khofifah
Bandara Komodo, Labuan Bajo, Minggu (23/8), menjadi tempat singkat dua rombongan kemanusiaan berpapasan. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bertemu setelah sama-sama turun tangan membantu warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pertemuan itu berlangsung singkat. Namun, ada cerita besar di baliknya: ketika bencana datang, batas wilayah administratif seolah menjadi lebih tipis. Bantuan bergerak dari berbagai penjuru menuju warga yang sedang menghadapi masa sulit.
Dedi yang mengenakan pakaian serba putih berbincang dengan Khofifah. Keduanya bertukar kabar mengenai kondisi warga, distribusi logistik, serta pergerakan tim kemanusiaan di sejumlah wilayah NTT.
Jawa Timur, kata Dedi, telah lebih dahulu mengirimkan tim untuk menyalurkan bantuan. Sementara rombongan Jawa Barat mulai bergerak sejak 18 Agustus 2026.
"Ini saya sekarang jalan pulang. Ibu Gubernur Jatim keliling NTT, tapi timnya sudah lebih dulu, belanja timnya sudah turun juga. Kita sudah jalan dari tanggal 18 (Agustus) ya," ujar Dedi.
Bagi Dedi, pertemuan itu bukan sekadar kebetulan di sebuah bandara. Dia melihatnya sebagai bagian dari kepedulian yang lebih luas terhadap NTT.
Di tengah rumah-rumah yang rusak dan warga yang masih bertahan dalam ketidakpastian, bantuan datang dari berbagai daerah. Ada tangan yang mengirim logistik, ada tim yang turun melakukan asesmen, dan ada pula para relawan yang bekerja di tengah situasi darurat.
"Artinya bahwa NTT bersyukur diperhatikan banyak pihak, banyak saudara," ucapnya.
Rombongan Dedi akhirnya bersiap kembali ke Jawa Barat. Sementara Khofifah masih melanjutkan perjalanan untuk menyambangi sejumlah wilayah terdampak.
Sebelum berpisah, Dedi menyampaikan apresiasi kepada Khofifah dan tim Jawa Timur yang masih melanjutkan misi kemanusiaan.
"Selamat keliling NTT, Ibu. Terima kasih, selamat jalan. Saya balik kampung," ucapnya. (gin)
Editor : Inilahkoran

