ISPA Mengintai Kelompok Rentan: Kasus Tinggi Risiko Menanti

JAWA Barat masih mencatat jutaan kasus ISPA sepanjang 2026. Namun, di balik angka tersebut, ada anak-anak dan lansia yang menjadi kelompok paling rentan.

ISPA Mengintai Kelompok Rentan: Kasus Tinggi Risiko Menanti

Oleh: Yuliantono

Raden Vini Adiani Dewi mungkin terbiasa berhadapan dengan angka. Pada waktu-waktu tertentu, dia bisa jadi menerima laporan tentang berbagai persoalan kesehatan masyarakat di Jawa Barat. 

Namun, ketika berbicara tentang Inspeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), jutaan kasus tidak pernah sekadar menjadi angka baginya. 

Sebagai Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini tahu ada manusia di balik setiap laporan. Ada anak yang batuk, orang tua yang cemas, dan lansia yang membutuhkan perhatian lebih.

Hingga pertengahan Agustus 2026, Jawa Barat masih menjadi provinsi dengan jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tertinggi di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan mencatat 1.858.779 kasus hingga minggu ke-31.

Angka itu sekilas terdengar mengkhawatirkan. Tetapi Vini justru menemukan kabar yang sedikit melegakan ketika membandingkannya dengan tahun sebelumnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Jawa Barat, kasus ISPA sepanjang Januari-Juli 2026 berada di kisaran 1,4 juta kasus. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan 2025 yang mencapai lebih dari 2,5 juta kasus.

"Nah sekarang itu sekitar 1,4 juta. Ya, di mana yang 1,4 juta ini dari Januari sampai Juli. Nah, berarti kan kalau asumsinya sudah setengah tahun. Tahun kemarin itu hampir di angka 3 jutaan," ujar Vini saat dihubungi INILAH, Minggu (23/8). 

Bagi Vini, perbandingan itu menunjukkan, kasus ISPA di Jawa Barat justru mengalami penurunan. "Jadi memang tahun ini justru mengalami penurunan kalau berdasarkan data yang ada," ucapnya.

Namun, angka penurunan tersebut tidak membuat perhatian Vini beralih. Sebab, dari jutaan kasus itu, ada kelompok yang tubuhnya masih sangat rentan.

Sekitar 743 ribu kasus dari total 1,4 juta kasus ISPA sepanjang Januari-Juli 2026 terjadi pada balita usia 0-59 bulan. Jumlah itu lebih dari separuh keseluruhan kasus yang tercatat Dinkes Jabar dalam periode tersebut.

"Kelompok rentan. Anak-anak ada di 743.000. Kalau data yang masuk ke saya, dari Januari sampai Juli," kata Vini.

Bagi anak-anak, ISPA bukan sekadar persoalan batuk atau pilek. Daya tahan tubuh yang belum optimal membuat mereka lebih mudah terserang infeksi.

Karena itu, Vini berkali-kali mengingatkan pentingnya perlindungan sejak anak masih kecil. ASI eksklusif, makanan bergizi, imunisasi, hingga kebiasaan hidup bersih menjadi bagian dari pertahanan pertama.

"Makanya ASI eksklusif harus, makan bergizi harus, imunisasi harus. Karena anak itu kan rentan terhadap penularan ISPA," ujarnya.

Lansia juga termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian. Sementara remaja dan orang dewasa berada pada kelompok risiko yang berbeda.

Vini mengatakan, menjaga kelompok rentan tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit. Banyak pencegahan justru bermula dari kebiasaan sehari-hari.

ISPA tidak hanya berkaitan dengan virus yang berpindah dari satu orang ke orang lain. Kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat juga ikut menentukan.

Vini menyebut sejumlah faktor yang dapat memengaruhi risiko ISPA, mulai dari imunisasi, asupan gizi, pemberian ASI eksklusif, perilaku hidup bersih dan sehat, hingga kondisi rumah.

"Penyebab ISPA itu banyak. Dari mulai imunisasi, daya tahan tubuh yang ditentukan oleh ASI eksklusif, gizi anak, perilaku hidup bersih dan sehat, bagaimana cuci tangan, memakai masker," katanya.

Ada pula persoalan yang sering kali berada begitu dekat dengan anak: asap rokok. Rumah seharusnya menjadi tempat berlindung. Namun, ketika asap rokok memenuhi ruangan, udara yang dihirup anak justru bisa menjadi sumber masalah.

"Tidak boleh merokok di dalam rumah atau di ruangan. Tentu hal-hal itu bisa menurunkan infeksi saluran pernapasan akut," tegas Vini.

Karena itu, dia mendorong masyarakat menjaga sirkulasi udara, mencuci tangan menggunakan sabun, memakai masker ketika sakit, dan menghindari paparan asap rokok.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi Vini, kebiasaan sederhana itulah yang dapat membantu menjaga seseorang agar tidak jatuh sakit.

Musim kemarau kemudian datang membawa kekhawatiran tersendiri. Udara yang kering dan perubahan kualitas udara sering kali dikaitkan dengan meningkatnya gangguan pernapasan.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus ISPA secara nasional memang mengalami peningkatan pada awal musim kemarau 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan terlihat sejak minggu ke-27 hingga minggu ke-31. Sementara puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada minggu ke-32 hingga minggu ke-44. Namun, Vini belum melihat lonjakan kasus yang berarti di Jawa Barat.

"Enggak sih. Ini justru tidak ada peningkatan. Maksudnya sama saja," katanya.

Dia menduga meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan, termasuk menggunakan masker ketika diperlukan, ikut membantu menekan penularan.

Meski begitu, angka Jawa Barat tetap menjadi yang tertinggi secara nasional. Setelah 1.858.779 kasus di Jabar, Jawa Tengah mencatat 1.819.793 kasus, DKI Jakarta 1.241.791 kasus, dan Jawa Timur 1.007.305 kasus.

Setahun sebelumnya, Jawa Barat juga berada di posisi pertama dengan 2.527.302 kasus. Jawa Tengah mencatat 2.292.627 kasus, DKI Jakarta 1.845.882 kasus, dan Jawa Timur 1.337.901 kasus.

Angka-angka tersebut mungkin cukup untuk menggambarkan besarnya persoalan. Tetapi bagi Vini, tugasnya tidak berhenti pada membaca grafik atau membandingkan laporan.

Ada anak-anak yang harus dijaga. Ada lansia yang perlu dilindungi. Ada orang tua yang perlu terus diingatkan bahwa pencegahan bisa dimulai dari hal paling dekat dengan mereka.

"Alhamdulillah, semoga masyarakat dengan memberikan ASI eksklusif, imunisasinya bagus, itu penting banget. Karena sebetulnya ISPA yang dikhawatirkan kan pada anak dan lansia, kelompok rentan," pungkas Vini. (gin) 


Editor : Inilahkoran